Senin, 03 Agustus 2015

Yohanes Maria Vianney (1786-1859)


“The cure of Ars” itulah julukan Romo. Vianney. Ia ”menyembuhkan”  umat Ars bukan dengan kepandaian namun dengan kesucian-doa-pantang dan puasa, serta pelayanan yang luar biasa. Pelayanannya terlihat dari rutinitasnya. Satu jam setelah tengah malam Romo Vianney membunyikan lonceng angelus. Lonceng itu juga menandakan bahwa Gereja telah buka, dan umat boleh datang kapan saja untuk mengaku dosa. Romo “standby” di ruang pengakuan hingga pukul enam pagi. Lantas, ia melanjutkan dengan merayakan misa kudus. Dengan tangan terkatup, mata tertutup, dan tubuh tak bergerak, Vianney menghadap tabernakel. Perjumpaan dengan Allah Tritunggal Maha Kudus merupakan sumber kekuatan pelayanannya. Romo biasanya sarapan pukul delapan pagi dengan setengah gelas susu. Kembali ke Sakristi pukul setengah sembilan, pukul 10 ia berhenti sejenak untuk berdoa, kemudian melanjutkan pengakuan dosa hingga pukul 11. Ribuan orang menunggu – antre untuk mengaku dosa lewat orang suci ini. Setidaknya Romo mendengarkan pengakuan dosa 16-18 Jam setiap harinya. Baginya pengakuan dosa adalah sarana untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Dan memang demikian, selama hidupnya mungkian ribuan bahkan puluhan ribu orang telah terselamatkan. Rutinitasnya, keutamaannya, cara hidupnya adalah patron bagi Imam khususnya yang diparoki. Mungkin tidak harus persis sama dengan Romo Vianney, namun yang jelas apa yang dilakukannya adalah hasil dari relasi yang mendalam antara dia dengan Allah. Romo Vianney membuatku berkaca pada rutinitas dan carahidup serta relasiku dengan Dia. Romo Vianney doakanlah kami supaya kami dapat meneladani hidupmu yang didasari oleh relasi dengan Kristus itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar