Yohanes Maria Vianney
(1786-1859)
(sumber
“The cure of Ars” itulah julukan
Romo. Vianney. Ia ”menyembuhkan” umat
Ars bukan dengan kepandaian namun dengan kesucian-doa-pantang dan puasa, serta
pelayanan yang luar biasa. Pelayanannya terlihat dari rutinitasnya. Satu jam
setelah tengah malam Romo Vianney membunyikan lonceng angelus. Lonceng itu juga
menandakan bahwa Gereja telah buka, dan umat boleh datang kapan saja untuk
mengaku dosa. Romo “standby” di ruang pengakuan hingga pukul enam pagi. Lantas,
ia melanjutkan dengan merayakan misa kudus. Dengan tangan terkatup, mata
tertutup, dan tubuh tak bergerak, Vianney menghadap tabernakel. Perjumpaan
dengan Allah Tritunggal Maha Kudus merupakan sumber kekuatan pelayanannya. Romo
biasanya sarapan pukul delapan pagi dengan setengah gelas susu. Kembali ke
Sakristi pukul setengah sembilan, pukul 10 ia berhenti sejenak untuk berdoa,
kemudian melanjutkan pengakuan dosa hingga pukul 11. Ribuan orang menunggu –
antre untuk mengaku dosa lewat orang suci ini. Setidaknya Romo mendengarkan
pengakuan dosa 16-18 Jam setiap harinya. Baginya pengakuan dosa adalah sarana
untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Dan memang demikian, selama hidupnya mungkian
ribuan bahkan puluhan ribu orang telah terselamatkan. Rutinitasnya,
keutamaannya, cara hidupnya adalah patron
bagi Imam khususnya yang diparoki. Mungkin tidak harus persis sama dengan Romo
Vianney, namun yang jelas apa yang dilakukannya adalah hasil dari relasi yang
mendalam antara dia dengan Allah. Romo Vianney membuatku berkaca pada rutinitas
dan carahidup serta relasiku dengan Dia. Romo
Vianney doakanlah kami supaya kami dapat meneladani hidupmu yang didasari oleh
relasi dengan Kristus itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar