Selasa, 14 April 2015

Filsafat Melawan Kekerasan
Oleh: Fr. Surya Nandi*

“Ratusan nyawa melayang termasuk warga sipil dan anak-anak”  demikian bunyi berita dari salah satu surat kabar nasional. Satu dekade ini perang dan kekerasan sudah jamak kita dengar, dari perang Afganistan sampai perang saudara di Suriah, dari kekerasan sekala besar sampai lingkungan intern keluarga. Pertanyaannya adalah kenapa kekerasan terus terjadi? Tidak adakah perdamaian di dunia ini? Tentu kita bisa menjawab dengan berbagai sudut pandang dan penjelasan, namun dalam kesempatan ini saya hendak bertanya dimana posisi filsafat dalam  masalah kekerasan dan perdamaian.
Apabila mendengar kata <filsafat>, dengan spontan orang akan mengatakan filsafat adalah sesuatu yang abstrak, mengawang-awang, konseptual, dan tidak menyentuh realitas kehidupan manusia. Anggapan itu memang ada benarnya, tapi tidak semuanya mengawang-awang tanpa memikirkan pergulatan keseharian manusia. Diaantara sebegitu banyak filsuf sejauh yang penulis ketahui ada Soren Kierkegaard, Heidegger, dan Eric Weil. Dan filsuf yang terakhir itu justru menggulati mengenai kekerasan dan perdamaian.
Eric Weil adalah seorang filsuf keturunan Yahudi. Weil lahir di Perchim, Jerman pada tahun 1904 dari keluarga pedagang. Dengan demikian Ia sezaman dengan Jean-Paul Sartre, yang terkenal sebagai filsuf eksistensialis itu. Pada tahun 1930-an hidup Weil yang sebelumnya damai berubah drastis oleh karena pemerintahan Nazi. Selama masa  itu ia melihat, merasakan, dan mengalami kekejaman kemanusiaan. Ketika itu Jerman sedang gencar membasmi setiap keturunan Yahudi. Oleh karenanya pada akhir 1932, Weil meninggalkan Jerman, dan  lari ke Paris. Pengalaman kekejaman Nazi itulah titik tolak refleksi filosofis Weil mengenai kekerasan dan perdamaian.
Bagi Weil manusia bukanlah makluk rasional, melainkan  sebuah <potensi> rasional. Apa maksudnya? Manusia tidak serta-merta selalu rasional dalam hidup dan tindakannya. Rasional adalah suatu kemungkinan bagi manusia. Kemungkinan atas pilihan yang dikehendakinya, yakni pilihan untuk rasional atau irrasional. Hal itu bisa dengan mudah kita mengerti dalam  kenyataan sehari-hari seringkali kita bertindak tanpa menggunakan rasio/ akal budi. Misalnya ketika seseorang seminaris lapar, tanpa pikir panjang Ia melahap semua makanan di refter tanpa peduli pada teman yang lain. orang yang rasional adalah jika ia mau sejenak mempertimbangkan, lantas memutuskan tindakan dengan berlandaskan nilai kehidupan bersama. Ia dengan akal budi mampu membuat pilihan untuk hanya makan bagiannya saja, sehingga teman yang lain “kebagian”, tidak kelaparan karena kerakusannya. Kebalikan dari rasional, irrasional berarti segala tindakan  digerakkan oleh insting, nafsu individual atau  kepentingan diri dan kebutaan pada nilai kepentingan bersama.
Apa saja nilai-nilai kehidupan bersama itu? Weil berpendapat dalam diri manusia sudah melekat nilai-nilai universal bagi landasan kehidupan bersama. Nilai persahabatan, persaudaraan, kerjasama, dan perdamaian ada di dalam diri manusia. Maka dengan memilih untuk berjuang merengkuh nilai-nilai itu kedamaian akan tercipta. Pilihan rasional sekali lagi berarti mau memperjuangkan nilai-nilai itu. Dengan demikian, menolak memperjuangkan nilai-nilai tersebut berarti mengingkari martabat manusia sebagai mahkluk rasional. Lantas, Weil menyebut pilihan hidup yang rasional sebagai jalan kebijaksanaan. Orang menjadi bijak jika mau berproses dalam jalan kebijaksanaan itu.
Dengan mengatakan “proses”, berarti kebijaksanaan tidak serta merta diperoleh. Bagi Weil, kebijaksanaan adalah buah dari berfilsafat. Filsafat bagi Weil adalah sebuah proses dan sekaligus pengalaman menghayati hidup bijaksana, hidup yang terus menerus memilih rasionalitas yakni pilihan untuk memperjuangkan nilai-nilai universal. Dalam artian inilah filsafat wacana abstrak, melainkan wacana yang sungguh konkret.
Lantas apa hubungan pandangan manusia dan definisi filsafat itu dengan kekerasan? Kekerasan terjadi ketika kita memilih yang irrasional dibanding yang rasional. Kita tunduk pada nafsu dan kepentingan diri  dibandingkan nilai-nilai kehidupan bersama. Dalam berita surat kabar itu, Para pelaku kekerasan dalam konflik tidak mau “berfilsafat”, tidak mau mengaktualisasikan potensi rasionalitasnya dengan memilih memperjuangkan nilai-nilai bersama yakni perdamaian. Tanpa pikir panjang mereka “main bom”, “main tembak” saja tanpa memperhitungkan dampaknya khususnya bagi warga sipil dan anak-anak. Nafsu dan egoisme mengalahkan rasionalitas.
Weil memang tidak setenar Sartre dan Ia bisa dibilang filsuf “kecil”, akan tetapi filsafat “konkret”nya dalam merefleksikan perdamaian menarik untuk diketahui. Weil membuka cakrawala mengenai potensi rasionalitas kita. Sebagai mahkluk/pengada yang memiliki kebebasan, kita ditantang untuk mengaktualkannya. Beranikah kita?

*Frater Filosofan Semester IV
*Disarikan dari Mulyatno, CB. 2012.Filsafat Perdamaian. Yogyakarta: Kanisius.

Manusia Menurut Viktor Frankl


Buku Man’s Search for Meaning merupakan kisah hidup Viktor Frankl selama menjalani masa tahanan di kamp konsentrasi Nazi selama tiga tahun. Selama di kamp konsentrasi tersebut, Frankl melihat, merasakan, dan mengalami penderitaan akibat kekejaman Nazi, misalnya; pembunuhan massal, kerja paksa, perlakuan tidak manusiawi, dsb. Melalui pengalaman tersebut, Ia memperoleh cakrawala yang lebih luas mengenai apakah dan siapakah manusia. Dengan latarbelakang psikologi, Viktor Frankl kemudian mengembangkan logoterapy[1] untuk menyembuhkan noogenic neurosis[2] yang didukung pandangannya mengenai manusia. Paper ini hendak menunjukkan pandangan mengenai manusia menurut Viktor Frankl berdasarkan buku Man Search For Meaning. Ia memandang bahwa manusia adalah mahkluk yang mencari dan dipengaruhi oleh makna hidupnya..
Frankl berseberangan dengan Sigmund Freud yang memandang tingkah laku manusia merupakan perwujudan alam bawah sadar yang berakar pada hasrat sexual. Ia tidak menemukan dorongan sexual sebagai penentu tingkah laku seseorang selama di kamp konsentrasi, “Undernourisment, besides being the cause of the general preoccupation with food, probably also explain that sexual urge was absent.”[3] Akan tetapi, tingkah laku manusia berakar pada apa arti hidup bagi seseorang dan tujuan hidupnya.
Manusia merupakan makhluk yang mencari makna hidup. “man search for meaning is the pyrimary motivation in his life and not a secondary rationalization or instinctual drives.”[4] Ia  mempunyai kehendak untuk memberi arti dan alasan hidupnya. Arti hidup (the meaning of life) bersifat unik dan spesifik dan hanya dapat dipenuhi oleh setiap individu itu sendiri. Dengannya ia bereksistensi. Ketika kehendak untuk memaknai hidup bermasalah, ia akan mengalami noogenic neurosis dan untuk mengatasinya individu diarahkan untuk mereorientasikan makna hidupnya. Dengan demikian arti hidup adalah hal sentral bagi manusia. Tujuan dan arti hidup tidak hanya mempengaruhi mental tetapi juga fisik manusia. Tahanan yang mempunyai tujuan dan kehendak hidup, secara fisik lebih kuat dari pada mereka yang tidak.
Manusia merupakan mahkluk yang bebas. “The experience of camp life show that man does have a choice  of action.”[5] “ everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedoms…”[6]. Di dalam kamp konsentrasi, cara hidup tahanan ditentukan oleh aturan dengan berbagai macam kebiadabannya. Frankl mendapatkan kesan bahwa,  manusia merupakan mahkluk yang tidak bisa menghindar dari pengaruh lingkungannya. Seolah-olah mereka tidak memiliki pilihan atas hidupnya. Akan tetapi, manusia senantiasa memiliki pilihan. Dengan demikian ia mempunyai kebebasan dalam dirinya (inner freedom).
Manusia memiliki afektivitas yakni kemampuan untuk mencintai. Mencintai tidak terbatas pada aktivitas sexual, seperti halnya pada binatang, sex merupakan ekspresi dari cinta. Dengan mencintai manusia menjadi lebih sadar terhadap manusia lain dan dirinya sendiri. Dengan sadar akan potensi manusia lain, ia juga menjadi tahu potensinya. Pengalaman mencintai merupakan salah satu cara untuk menemukan arti hidup.
Manusia memiliki kemampuan untuk memaknai penderitaan. Ia mempunyai potensi untuk mengubah tragedy menjadi keberhasilan dan kesulitan atau penderitaan menjadi tujuan manusia.”I only insist that meaning is possible even in spite of suffering…”[7] Misalnya; Ketika Yesus dianiaya dan disalibkan, Ia memaknainya bukan sebagai penderitaan tetapi sebagai wujud cinta dan pengorbanan kepada umat manusia. Sebaliknya, binatang tidak bisa memaknai penderitaan seperti itu. Misalnya; seekor kera merasa sakit akibat suntikan jarum, rasa sakit itu hanya dapat dimengerti oleh kera sebagai penderitaan saja. Lebih lanjut, penderitaan dalam beberapa kasus membuat aspek spiritual manusia menjadi lebih dalam.
Manusia sepenuhnya adalah makhluk yang menentukan dirinya sendiri (self-determining). “Man is not fully conditioned and determined but rather determined himself…”[8] Frankl menentang paham pan-determinism, suatu pandangan yang mengesampingkan kemampuan manusia untuk berpendirian terhadap segala situasi dan kondisi. Sebaliknya, manusia tidak sepenuhnya dikondisikan dan ditentukan, tetapi ia mampu menentukan dirinya sendiri, baik dengan cara memberi diri maupun melawan situasi tersebut. Manusia dapat berperilaku seperti seorang  suci atau seekor babi ketika di kamp konsentrasi tergantung dari apa yang diinginkannya.
Dari uraian yang telah disampaikan, dapat disimpulkan bahwa menurut Frankl manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak untuk mencari makna hidup. Arti hidup akan mempengaruhi hidup manusia. Selain itu, manusia juga merupakan makhluk yang bebas. Ia sepenuhnya menentukan dirinya sendiri. Lebih lanjut, manusia memiliki kemampuan untuk mencintai dan kemampuan untuk memaknai penderitaan, yang tidak ditemukan dalam binatang. Melalui pandangan Frankl, diperoleh wawasan yang lebih luas mengenai manusia untuk melihat kedudukan manusia sebagai mahkluk atau pengada hidup dibandingkan dengan pengada-pengada lainnya.



Daftar Pustaka
Frankl, Viktor E. Man’s Search for Meaning. New York: Washington Press Publication,    1984.




[1] Logoterapy: sebuah pendekatan psykologi yang didasarkan pada pencarian makna hidup
[2] Noogenic: neurosis (gangguan mental) yang diakibatkan oleh adanya masalah dalam kehendak mencari hidup seseorang.
[3] Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning (New York: Washington Press Publication), 52.
[4] Frankl. Man’s Search for, hlm. 121.
[5] Frankl. Man’s Search for, hlm. 86.
[6] Frankl. Man’s Search for, hlm. 86.
[7] Frankl. Man’s Search for, hlm. 136.
[8] Frankl. Man’s Search for, hlm. 154.
Metafisika Thomas Aquinas

Pendahuluan
Thomas Aquinas merupakan salah satu filsuf dan teolog besar Abad Pertengahan. Ia dilahirkan di Napoli pada akhir tahun 1225. Pada umur sembilan belas tahun, Thomas Aquinas bergabung dengan ordo Dominikan dan kemudian ditahbiskan sebagai seorang Imam. Thomas belajar di Universitas Paris dan kemudian ke Koeln dan menjadi murid Santo Albertus Agung. Kemungkinan cara berpikir Thomas yang Aristotelian dipengaruhi oleh Santo Albertus yang memanfaatkan filsafat Aristoteles dalam berteologi.
Thomas Aguinas adalah penulis yang produkttif. Ia mewariskan banyak karya tulis baik dalam filsafat maupun teologi. Dalam buku-bukunya tersebut, ditemukan ajaran Thomas Aquinas mengenai metafisika. Thomas Aguinas membangun sistem metafisikanya dengan mendasarkan pada ajaran-ajaran Aristoteles. Oleh karena itu, ketika membahas metafisika Thomas Aquinas, kita akan bersinggungan dengan metafisika Aristoteles. Melalui penyelidikan metafisis, Ia hendak mengungkap prinsip-prinsip yang terakhir untuk seluruh kenyataan. Paper ini hendak menguraikan gagasan Thomas Aguinas mengenai metafisika tersebut. Lantas, untuk mengerti metafisikanya dengan lebih mudah, penulis akan memberikan uraian singkat mengenai apanya metafisika dan metafisika Aristoteles sebagai pengantar untuk masuk ke dalam metafisika Thomas Aquinas. Lebih lanjut, akan diberikan kesimpulan dan tanggapan kritis.
Apa itu Metafisika
Metafisika merupakan temuan orisinil dari Aristoteles. Namun demikian, Istilah  metafisika bukan berasal dari Aristoteles melainkan dari Andronikos dan Rhodos pada tahun 40 SM yang merujuk ajaran Aristoteles menganai <<ada>>. Penyebutan metafisika dikarenakan dalam karya filsafat Aristoteles, ajaran yang merujuk pada metafisika ditempatkan sesudah (meta) bukunya mengenai fisika (physika).  Secara sederhana Metafisika merupakan ilmu yang mempelajari mengenai penyebab terakhir dan prinsip prinsip pertama serta universal dari realitas[1]. Definisi tersebut mengandung dua unsur pokok.
Pertama, Metafisika membicarakan mengenai penyebaban terakhir. Penyebab terakhir dibedakan dengan penyebab terdekat. Sebagai contoh, lilin melebur karena dibakar dengan api, maka api menjadi penyebab dari lilin yang meleleh. Akan tetapi, api bukanlah penyebab terakhir melainkan penyebab pertama, mengingat adanya api dikarenakan adanya kayu bakar, adanya kayu bakar dikarenakan adanya pohon dan seterusnya. Metafisika mencari penyebab-penyebab atau penjelasan-penjelasan alam semesta menurut akar dan dasar terdalam. Sebagai contoh dalam paham theistik, penyebab terakhir dari segala sesuatu adalah Tuhan pencipta segala sesuatu.
Kedua, metafisika mempelajari prinsip pertama dan universal dari realitas. Prinsip tersebut merupakan unsur dasar yang menjelaskan cara bereksistensinya segala sesuatu. Misalnya, konsep mengenai atom merupakan prinsip dasar molekul-molekul. Olehkarenanya, metafisika mencari dan merumuskan prinsip-prinsip yang secara mendalam (radikal) melandasi dan membentuk sesuatu. Maka apabila seseorang bertanya mengenai apa itu hakikat dari sesuatu atau realitas, ia sudah masuk kedalam penelitian mengenai metafisika. Salah satu pertanyaan mengenai metafisika adalah apa itu “substansi” yang dikemukakan Aristoteles.
Metafisika Aristoteles: Jalan Menuju Thomas Aquinas
Di dalam pendahuluan telah dikemukakan bahwa metafisika Thomas Aquinas erat dengan pemikiran Aristoteles yakni mengenai substansi dan perubahan (gerakan). Kata substansi menurut Aristoteles mempunyai banyak makna yakni 1) subtansi merujuk pada “forma” 2) substansi merujuk pada “materia” 3) substansi merujuk gabungan materia dan forma 4) substansi dalam arti yang pertama dalam artinya sebagai individu 5) substansi dalam arti kedua dalam artinya sebagai predikat substansial[2]. Dari pengertian-pengertian mengenai substansi diatas maka dapat dilanjutkan dengan menyelidiki bagaimana sesuatu ber-ada terutama “substansi sensible”.
Aristoteles menjelaskan bagaimana substansi sensible muncul ber-ada memakai teori empat causa dan penjelasan mengenai perubahan/gerakan/”potentia-actus”/”materia-forma”. Sebagai contoh penulis menggunakan “mimbar” untuk menunjukkan bagaimana “mimbar” ada. Pertama, mimbar itu ada karena ada causa materialisnya (kayu sebagai bahan mimbar), ada causa effisien (ada tukang kayu yang membuatnya), ada causa formalis (ada “forma” atau bentuk mengenai mimbar sehingga sesuatu itu adalh mimbar bukan yang lain), dan causa finalis (tujuan mimbar itu adalah untuk mimbar perkuliahan kuliah filsafat abad pertengahan). Melalui empat causa mimbar tersebut ada atau ber-ada.
Kedua, ber-adanya mimbar dijelaskan dengan forma-materia dan potential-actus. Mimbar ada disebabkan oleh adanya  “materia” (kayu) yang mampu (mempunyai potensi) menerima “forma kemimbaran”. Dengan kata lain ada sebuah potentialitas yang bisa berubah menjadi aktualitas[3] sehingga kayu bisa berubah menjadi mimbar yang menyebabkan mimbar ada.  Mimbar tidak muncul dari ketiadaan, ia ada karena sebelumnya ada kayu. Dengan demikian, ada senantiasa muncul dari ada sebelumnya. Ada tidak dimulai dari ketiadaan. Lebih lanjut, Seperti telah dikatakan sebelumnya, yang ada juga disebut substansi. Substansi merujuk pada materia-forma dan material serta forma secara terpisah juga merupakan substansi. Namun demikian, materi “kayu” juga disebabkan oleh ada yang lain atau substansi lain (materia-forma). Secara sederhana bagi Aristoteles substansi senantiasa muncul dari substansi lain.
Cara berpikir Aristoteles mengenai substansi yang muncul dari substansi lain menunjukkan adanya perubahan atau pergerakan. Lantas kemudian pertanyaan yang muncul adalah apa yang menjadi penggerak pertama yang memungkinkan adanya gerakan tersebut. Aristoteles menjawab dengan mengemukakan ajarannya yakni bahwa gerakan harus mempunyai sebab akhir sebagai sumber gerakan. Sumber gerakan itu tidak bergerak yang disebut dengan istilah “motor immobile”. Gerak yang tidak digerakkan itu diadopsi oleh Thomas Aquinas yang menyebutnya sebagai Tuhan.
Metafisika Thomas Aquinas
            Metafisika Thomas Aquinas menggunakan esse (mengada) sebagai fondasi pemikiran dan ajarannya. Telah diutarakan diatas bahwa bagi Aristoteles substansi muncul dari substansi lain, Thomas Aquinas berpandangan bahwa substansi tidak bisa mengadakan dirinya sendiri. Substansi ada disebabkan oleh tindakan mengada dari Tuhan. Dengan definisi mengenai substansi tersebut dapat dikatakan bahwa Thomas Aquinas dipengaruhi (apabila tidak dikatakan memodifikasi) ajaran Aristoteles mengenai realita dengan memasukkan unsur penciptaan sesuai dengan Iman Kristianitasnya mengingat Yunani Kuno tidak ada pencipataan. Sebagai contoh, adanya mimbar tidak cukup hanya dengan materi (kayu) yang menerima “forma” bentuk saja namun juga harus menerima “ada” dari penyebab lain yakni “esse”. Dengan kata lain, tindakan mengada merupakan kunci dari bereksistensinya substansi.
Dalam metafisikanya, Thomas Aquinas akan memberikan pemecahan masalah metafisika klasik[4] yakni bagaimana individu tertentu merupakan bagian dari species tanpa menjadi keseluruhan dari species tersebut. Lebih lanjut, Thomas Aquinas memberikan ajaran mengenai hierarki adaan. Akan tetapi sebelum memulai membahasnya perlu diketahui terlebih dahulu pengertian dari ens (pengada), esse (mengada), dan esentia (esensi).
Menurut Aquinas, Ens (pengada) adalah ens est id quod est atau apa yang mengada. Definisi tersebut mengandung dua unsur yakni subyek dan tindakan. Misal “petinju”, kata tersebut menunjukkan adanya subyek yang terlibat dalam tindakan tinju. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengada merupakan ada  yang memiliki atau terlibat dalam aktivitas mengada (esse).
Seperti dijelaskan diatas, Esse merupakan penentu suatu benda disebut pengada. Esse memungkinkan suatu benda bereksistensi. Ketika suatu benda menerima Esse maka benda itu ada. Dalam cara berpikir aristoteles yang diadopsi oleh Aquinas mengenai potensilitas dan actualitas, Esse merupakan actus murni dan yang tersempurna yang tidak tidak lagi bisa menjadi potensi karena ia actus yang sudah mencapai kepenuhannya.
Esensi dijelaskan oleh Aquinas dalam tiga cara. Pertama, esensi adalah sesuatu yang secara umum dimiliki oleh semua yang alamiah, olehnya segala sesuatu yang berbeda dapat dikelompokkan ke dalam kelas-kelas yang disebut spesies. Kedua, Esensi adalah “forma” atau bentuk. Ketiga, Esensi diartikan sebagai kodrat. Kodrat dimengerti dengan pandangan Boethius yang menyatakan bahwa kodrat merupakan sesuatu yang melaluinya benda-benda riil dapat dimengerti oleh intelek.Kodrat juga dimengerti dengan pandangan Aristoteles yakni kodrat sebagai yang menerangkan bagaimana esensi dari sesuatu mengarahkannya kepada tindakan spesifik.[5] Kemudian Thomas Aquinas merangkum esensi sebagai apa yang melaluinya dan dalamnya suatu pengada mendapatkan eksistensinya. Sebagai contoh, esensi dari mimbar adalah apa yang karenanya ia menjadi mimbar bukan kursi, meja, atau papan tulis. Oleh esensinya tersebut mimbar bisa bereksistensi dan disebut sebagai pengada (ens).
Esensi berbeda dengan eksistensi. Esensi bisa disetarakan sebagai substansi (ingat substansi menurut aristoteles dan Aquinas) Namun apa hubungannya esensi dengan eksistensi? Dalam cara berpikir mengenai perubahan/pergerakan/ potentia-actus, esensi merupakan potensi yang oleh karena esse Ia bereksistensi, karena esse adalah actus murni dan dasar dari segala sesuatu.
Dari uraian diatas, diketahui bahwa esensi adalah forma. Forma atau bentuk merupakan unsur yang bersifat universal. Berkat forma yang diterima oleh materi, subtansi (materi) dapat dikelompokkan ke dalam suatu species tertentu. Pertanyaan klasik yang sering ditanyakan adalah bagaimana dijelaskan adanya mimbar A, mimbar B, dan mimbar C jika mimbar A,B,C tidak sama secara keseluruhan dengan “mimbar”. Dalam contoh tersebut apabila mimbar A sama secara keseluruhan dengan “mimbar” maka konsekuensinya tidak ada lagi bisa dikatakan ada mimbar B dan mimbar C, pastilah B dan C tersebut sesuatu yang lain. Namun demikian, dalam kenyataan sungguh-sungguh ditemukan adanya mimbar A, B, dan C. Thomas Aquinas menjawab persoalan tersebut dengan menyatakan bahwa agar dapat berada dalam suatu substansi yang partikular bentuk harus diindividuasikan dan diperbanyak secara numerik oleh materi[6]. Dengan kata lain, Forma menyebabkan substansi dapat dikelompokan kedalam species dan materi mengindividuasikan forma. Melalui kuantitas yang berbeda antara materi satu dengan materi lainnya, forma diindividuasikan oleh materi, sehingga mimbar dapat disebut mimbar A, mimbarB, dan mimbar C yang kesemuanya partikular. Oleh karenanya, masalah metafisika mengenai bagaimana individu tertentu merupakan bagian dari species tanpa menjadi keseluruhan dari species tersebut dapat dijelaskan.
Aquinas memberikan hierarki adaan berdasarkan perbedaan susunan substansinya. Pertama, substansi ragawi yang tersusun dari materi dan bentuk. Sebagai contoh manusia. Manusia adalah substansi yang tersusun dari materi dan forma. Lebih lanjut, oleh karena esse, manusia mendapatkan eksistensinya.
Kedua, substansi nir-rawagi yang tersusun hanya dari forma. Jiwa adalah substansi nirragawi. Ia hanya berupa forma tanpa materi. Jiwat tidak mempunyai raga. Forma atau esensi tersebut merupakan potentialitas yang bisa mendapatkan aktualitasnya dengan menerima esse, yakni aktualitas. Secara lebih singkat Jiwa hanya terdiri dari esensi dan eksistensi. Lebih lanjut, Tuhan merupakan esse. Tuhan adalah substansi yang esensinya bereksistensi dari dirinya sendiri.  
Kesimpulan & Tanggapan Kritis   
Aquinan mendasarkan seluruh metafisikanya pada konsep mengenai esse sebagai prinsip aktualitas yang memungkinkan esensi bereksistensi. Materi dan forma maupun forma secara otonom tidak dapat bereksistensi tanpa esse yakni substansi pemberi eksistensi. Oleh karenanya, dapat ditarik kesimpulan bahwa bagi Aquinas eksistensi mendahului esensi. Pertanyaan yang diajukan adalah mengapa harus mendapatkan esse. Bukankah materi dan forma sudah cukup menjelaskan keberadaan <ada>. Dengan melihat latar belakang Thomas Auinas yang merupakan seorang religius permasalahn tersebut dapat dipahami.
Hierarki adaan Thomas Aquinas yang berdasarkan komposisi substansi mengandung permasalahan. Permasalahan tersebut terdapat pada malaikat. Materi sebagai substansi mengindividuasikan, sehingga jika tanpa materi suatu ada tidak bisa partikular. Malaikat hanya terdiri dari forma. Oleh karenanya, malaikat tidak bisa diindividuasikan apabila tanpa materi. Sedangkan dalam agama Kristiani, malaikat adalah pribadi dan individu. Thomas Aquinas belum mampu menjelaskan hal tersebut.
 Eksistensi mendahului esensi dipakai oleh para Eksistensialis. Mereka adalah Soren Kiergegaard, dan Sartre. Sartre memandang bahwa eksistensi mendahului esensi tetapi dengan artian yang sama sekali berbeda[7]. Apabila Thomas Aquinas mendasarkan ajarannya pada eksistensi Tuhan, Sartre justru dengan eksistensialismenya menghilangkan Tuhan.

Daftar Pustaka

Ohoitimur, Johanis. 2006. Metafisika sebagai Hermeneutika. Jakarta: Obor.
Palmer, Dollard D. 2007. Sartre untuk Pemula. Yogyakarta: Kanisius.
Palmer, Dollard D. 2005. Kiergaard untuk Pemula. Yogyakarta: Kanisius.
Lanur, Alex. 2007. Sejarah Filsafat Abad Pertengahan. Jakarta: Driyarkara.
Wibowo, Setyo. 2013. Diktat kuliah metafisika. Jakarta: Driyarkara.



[1] Johanis Ohoitimur, Metafisika sebagai Hermeneutika ( Jakarta: Obor, 2006). Hlm. 24
[2] Diktat kuliah Metafisika Romo Setyo Wibowo
[3] Diktat kuliah Metafisika Romo Setyo Wibowo
[4] Alex Lanur, Sejarah Filsafat Abad Pertengahan (Jakarta: Driyarkara,  2007). Hlm. 92.
[5] Johanis,  Metafisika, hlm. 52.
[6] Alex, Sejarah, hlm.97.
[7] Donald, Sartre, hlm. 21.
Layar Terkembang[1]


Bukanlah suatu kebetulan aku menemukan buku sastra Layar Terkembang. Aku telah sering mendengarnya sewaktu SMP dulu tapi tak pernah melihat apalagi membaca bukunya. Layar Terkembang adalah Roman klasik karangan penulis besar St. Takdir Alisyahbana (STA). Roman ini mengisahkan perjalanan hidup dua kakak beradik, Tuti dan Maria. Meskipun bersaudara tetapi mereka memiliki perangai yang sangat berlainan. Maria adalah seorang gadis yang periang, hidup, lincah, mudah bergaul dan mudah dicintai, dan “easy going”, bertindak tanpa pikir panjang, dan pencinta. kebalikannya Tuti adalah sosok yang serius, berpikir matang dan mendalam, tegas, berpendirian teguh, tidak mudah terombang-ambing, aktif dalam keorganisasian, dan hidupnya dilandasi oleh cara pikir dan pendirian tersebut.
Seperti kebanyakan roman, Layar Terkembang mengisahkan cinta manusia. Ketika membaca kebanyakan orang akan dengan mudah menangkap kisah cinta Maria yang menggelora, sangat manusiawi dengan intimitasnya bersama Yusuf kekasihnya. Mereka berdua bermesraan, bercumbu, berbagi perhatian dan kasih, segala pikiran dan perasaan tertuju pada kekasihnya, dan terkadang intimitas itu begitu lekatnya hingga bisa bersifat destruktif, sebuah kesalingan cinta antar manusia. Sedangkan hidup Tuti bila tidak jeli, akan terlihat suram, muram, tidak manusiawi karena terjerumus dalam kesibukan organisasi demi pergerakan kemerdekaan bangsa, aneh karena memilih tidak menikah sesuai dengan pendiriannya mengenai cita-citanya bagi perempuan. Tetapi apakah benar Tuti tidak punya cinta?
Lebih dari itu Tuti dengan sungguh mempunyai cinta, tetapi cinta ia pikir masak-masak, mendalam sampai keakar-akarnya. Justru dengan tidak menikah dia menghargai cinta, karena untuk apa menikah jika tidak dilandasi cinta, hanya melaksanakan sesuatu yang tampak harus tanpa alasan yang jelas, dengannya Tuti memiliki cinta. Tuti jujur pada diri sendiri bahwa cintanya adalah dalam bentuk yang lain bukan kepada pribadi, melainkan cinta pada panggilan hidup yakni untuk memperjuangkan kaum perempuan dan bangsanya. Dengan pilihan yang aneh itu tidak bisa tidak Tuti menanggung konsekuensinya. Ia dicerca, direndahkan sebagai perawan tua, ia harus hidup sendiri.
Perjalanan kedua bentuk cinta Tuti dan Maria diakhiri bukan dengan suatu penutup melainkan dengan tantangan. Maria menderita penyakit malaria, Ia berjuang untuk sembuh demi kekasihnya Yusuf. Akan tetapi Maria akhirnya meninggal dunia, dan berpesan pada Yusuf dan Tuti agar mereka hidup bersama. Akhir cerita tidak menjelaskan apakah Tuti dan Yusuf bersedia, cerita diakhiri dengan sebuah pertnyataan : “tetapi Yusuf, hidup kita adalah kerja”. Pertanyaan tersebut menyiratkan sebuah pergulatan hebat seorang manusia, antara rasa nyaman berada dalam pelukan pria dengan segala perhatiannya dengan panggilan hidup yang hendak diembannya dan diperjuangkannya. Tetapi meskipun demikian hidup tetaplah berjalan dengan sedih dan senangnya, dan tentu saja dengan segala pilihan-pilihan yang harus dibuat dengan penuh keberanian, integritas, dan kesetiaan. Oleh karenanya, kisah ini memberi tantangan kepadaku untuk berani “hidup” (hidup secara penuh, hidup yang disadari, hidup sebagai manusia) dengan segala dinamikanya.
Apa itu layar terkembang
Hingga dihalaman terakhir aku masih tidak mengerti dengan judul Layar Terkembang. Tidak satupun kata secara eksplisit termuat dalam novel itu. Apa maksud STA memilih judul itu. Lantas, aku menangkap bahwa layar itu mereprentasikan hati, hati yang terkembang, yang mau dan sedia menerima angin yang adalah “yang lain” yang adalah manusia lain, obyek lain, peristiwa-peristiwa hidup, dan pilihan-pilihan hidup.[2] Akan tetapi untuk dapat terkembang mengandaikan keberanian, karena ketika layar itu terkembang maka “yang lain/angin” itu akan menghantam dan ketika dihantam pastilah mengandung resiko, layar bisa sobek, tiang peyangga bisa patah, kapal bisa berbelok dengan cepat, hanya saja dengan berani mengembangkan layar kapal akan bergerak dengan cepat, bahkan semakin besar hantaman justru membuatnya lebih dan lebih kencang. Kapal dapat lebih cepat sampai pada tujuan yakni kedewasaan hidup, meskipun demikian toh lautan itu luas terlihat tak berujung, mungkin saja tidak ada yang namanya kedewasaan yang ada hanyalah aku yang lebih dari kemarin, dan dengan semakin jauh kapal berlayar, semakin lebih pula aku.
Lantas bagaimana denganku apakah layarku pun berani terkembang. Aku merasa layarku pastilah sudah terkembang dan kerap kali aku menerima hantaman-hantaman oleh karenanya. Hatiku dihantam oleh relasiku dengan sesama baik yang inklusif maupun relasi yang eksklusif/spesial, oleh pilihan-pilihan hidup yang sederhana maupun yang eksistensial termasuk mengenai panggilan hidup, dan obyek-obyek lain yang menawarkan segala pengaruh (senang/sakit) indrawi dan nafsu-nafsu (seks, berkuasa, harta). Seringkali hantaman itu membuatku membelokkan arah kapal, arah hidupku. Dalam permenunganku pemaknaan hidup senantiasa mengalami perkembangan pun juga perubahan, bagiku kini hidup adalah Nderek Gusti, mengikuti Tuhan. Tentu mengikuti dia juga berarti berjalan sesuai dengan kehendaknya[3] dengan melakukan pilihan-pilihan, tindakan-tindakan yang benar, dan itu diperoleh lewat diskresi. Namun demikian aku sering kali jatuh-jatuh dan jatuh, dalam kejatuhan itu aku memohon padaNya agar aku diberi Iman yang teguh agar mampu bangkit dan tetap terus berani berlayar, tidak lantas menguncupkan layarnya kembali.



[1] St. Takdir Alisyahbana, Layar  Terkembang (Jakarta: Balai Pustaka, 1993). Tebal buku 139 halaman. Cetakan pertama 1937.
[2] Tafsiran bersifat sangat subjektif, bisa jadi pembaca lain menafsirkan dengan sangat berbeda, atau justru menganggapnya tidak penting.
[3] Bukan berari aku tidak punya kehendak tetapi kehendaknya adalah kehendakku pula.
"Kita dipanggil bukan untuk Sukses, melainkan untuk Setia"


I need more challenge
            “I need more challenge” begitu semboyanku setiap kali mendapatkan tugas kantor yang sulit dan akhirya bisa kuselesaikan dengan baik. Aku merasa perlu menggunakan semboyan itu lagi pada tugas pastoral pertamaku sebagai frater filosofan. Aku mendapat challenge untuk mengajar bimbel (bimbingan belajar) di Pedongkelan bersama Fr. Guntur. Ketika mendengar ada perasaan kawatir dan takut, jika nanti aku tidak bisa mengajar dengan baik dan juga tidak tahu menahu keadaan pedongkelan seperti apa.
            Program bimbel di Pedongkelan merupakan salah satu wujud pelayanan dari Kelompok Kerja Ibu Teresa (KKIT) Pulomas yang digawangi oleh Pak Petrus. Pelayanan ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun, mengajar anak-anak demi peningkatan kualitas pendidikan mereka. Setiap hari sabtu ratusan anak-anak mulai usia TK hingga SMP berkumpul untuk mendapatkan pengajaran. Anak-anak selalu terlihat antusias dengan kehadiran volunteer yang datang dengan berbagai macam background dan motivasi: Pelajar, pekerja, volunteer dari LSM lain, aktivis gereja, dan kami para frater. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dirumah-rumah warga yang dengan baik hati meminjamkannya.

Dipanggil untuk Setia
            Kulawan teriknya matahari yang membakar kulit ketika berangkat pertama kali menuju ke Pedongkelan. Ya aku memang berangkat dengan membawa kekawatiran dan ketakutan, tapi aku pergi juga dengan membawa kasih yang siap untuk dibagikan. Sesaat kemudian sejumlah anak menghampiriku “nama kakak siapa?”,”Kakak juga ngajar disini ya? Kemudian yang lain merengek “kakak ngajar kelas dua saja ya?” sambil meminta gendong dan memeluk. Bagiku sapaan mereka menyembuhkanku dari segala perasaan negatif terutama kekawatiran. Kurasakan Allah sendiri hadir dalam mereka, kasih bertemu dengan kasih, dan kasih itulah yang merupakan (elemen perantara) yang menjadi penyebab timbulnya relasi dengan Kristus sang sumber kasih.
            Ibarat spesial forces aku mengajar di segala kelas dari TKA, TKB, 2 SD, 5 SD, dan juga 1 SMP. Selama mengajar tentu aku menemui berbagai macam kendala. baik dari segi internal maupun eksternal di setiap tingkatan kelas. Internal adalah faktor dari diriku seperti penguasaan bahan, sulit menghafal nama, malas, dan kurang nyaring ketika mengajar. Suatu ketika saat mengajar anak SMP aku dengan jujur mengakui ketidakmampuanku dalam menjawab soal. “Wah payah kakaknya aja ga bisa ngerjain.” Ada perasaan marah, tapi itu kenyataannya. Semenjak itu tak jarang, sebelum mengajar aku  mempelajari soal-soal lewat internet.
Dalam hal eksternal yang menjadi kendala adalah tempat mengajar yang kurang mendukung. Anak-anak harus saling bersenggolan ketika belajar karena ruangan yang sempit. Di tengah keterbatasn itu aku sungguh merasa gembira, karena akan-anak begitu antusias mengikuti pelajaran.
            Dalam benakku aku harus memberikan sesuatu yang berguna bagi mereka, dengan kata lain aku ingin berhasil. Akan tetapi hal itu justru menjadi boomerang, karena aku merasa kecewa ketika anak-anak tidak mengerti apa yang kusampaikan. Kurefleksikan, kekecewaan itu merupakan wujud ego dalam diriku. Aku terinspirasi dengan perkataan pak Petrus “Kita dipanggil bukan untuk berhasil, tetapi untuk setia.” sehingga pertama-tama bukan keberhasilan dalam mengajar tetapi kesetiaan dalam panggilan dan perutusan. Aku melakukan untuk Tuhan, bukan untuk diriku.

Kesalingan
            Pernah suatu kali aku berbincang dengan seorang ibu. Ia bercerita kondisi kehidupannya; hidup sendiri tanpa suami, dengan dua orang anak, sehari-hari ia menafkahi keluarga dengan berkerja sebagai buruh cuci. Dengan air mata tertahan ia menyamoaikan ketakutannya jika suatu saat rumahnya digusur. Itulah salah satu contoh keadaan warga di pedongkelan. Pedongkelan merupakan Sebagian besar warganya termasuk golongan (maaf) kurang mampu secara finansial. Melalui perutusan ini aku semakin sadar atas realita Jakarta.
            Dengan keadaan warga pedongkelan yang berkekurangan tersebut, aku sering merasa sebagai pihak yang memberi. Setelah kurefleksikan ternyata bukan aku yang memberi melainkan yang diberi. Tiba-tiba muncul suatu pertanyaan, Apakah aku pernah berpikir untuk mengambil atau meminta dari mereka? Karena aku merasa justru ketika warga pedongkelan merasa tidak punya apa-apa, aku mendapatkan banyak apa-apa dari mereka. Dengan menempatkan mereka juga sebagai pemberi, aku merasa semakin memanusiakan.
Aku mendefinisikan tindakan memberi dan menerima itu sebagai suatu kesalingan. Kesalingan itu terjadi setiap aku berjumpa dengan mereka. Melihat senyum dan kehidupan mereka. Kekurangan yang mereka hadapi membuatku lebih menghargai apa yang kudapat dengan segala kenyamanannya. Kekurangan mereka juga mengingatkanku akan semangat kemiskinan yang sebagai calon imam patut aku hayati. Dengan kemiskinan membuat aku semakin tergantung pada-Nya.


Pedongkelan = Pemurnian
             “Kenapa kamu memilih menjadi imam? Kenapa tidak menjadi pekerja sosial saja?” begitu pertanyaan Romo pembinbing rohaniku sebelum masuk ke Wisma Cempaka. Pertanyaan itu kembali kuingat saat di pedongkelan. Salah satu motivasiku masuk seminari adalah untuk menemukan tujuan hidupku. Hidup untuk bahagia. Bahagia akan tercapai ketika membahagiakan orang lain. Kini dengan berpastoral di Pedongkelan aku merasakan kebahagiaan itu.
            pertanyaan yang mengusikku selanjutnya Jika dulu kamu sudah mengenal pedongkelan, apakah masih mau ke Seminari? Bisa jadi aku tidak pernah sampai disini. Sejenak aku berpikir, galau, sampai akhirnya kurefleksikan bahwa kebahagiaan itu masih dalam taraf  “Aku”, aku melakukannya agar aku ingin bahagia. Aku bersyukur karena kini kusadari yang kulakukan ini bukan demi diriku melainkan demi Dia.” Dan ternyata bahagia adalah mengikuti DIA… ya relasi yang intim dengan-Nya.


“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambilah cawan Ini daripada-Ku;
tetapi bukanlah  kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi”
Lukas 22:42







Jumat, 10 April 2015

Fenomenologi sebagai Episteme Vs Ontologi


Tulisan ini adalah ringkasan dari teks sumber “Heidegger and Husserl: The matter and Method of Philosopy”. Sebagai suatu ringkasan,tulisan tidak ditujukan untuk menterjemahkan keseluruhan teks, tetapi lebih kepada pemadatan teks yang sudah ada pada pokok-pokok yang dipahami. Pokok utama pembahasan dimulai dengan menunjukkan perbedaan persoalan filsafat menurut Heidegger dengan Husserl dan di mana letak posisi Heidegger terhadap Husserl. Kedua, akan dipaparkan pemahaman penulis mengenai metode filsafat yang dipakai oleh Heidegger dan Husserl. Pada bagian akhir tulisan, penulis akan memberikan simpulan dan tanggapan atasnya.
Persoalan Filsafat Heidegger Vs Husserl
Heidegger berpendapat bahwa filsafat telah melupakan pertanyaan mengenai <ada>. Baginya, Husserl, gurunya, dengan membedakan ontologi regional dan ontologi formal[1] telah ikut dalam arus tersebut. Sedangkan Heidegger, membedakan ontologi regional dan ontologi “lain” yang bukan ontologi formal, yakni ontologi sebagai penyelidikan atas makna <ada>.[2] Baginya  makna <ada> tidak bisa diatasi hanya dengan menggunakan konsep untuk menyingkapkannya. Dengan kata lain <ada> pada dirinya sendiri dapat dimengerti dengan metode yang lain[3], metode itu adalah fenomenologi. Oleh karenanya, adalah tugas fenomenologi untuk mengatasi “keterlupaan” tentang <ada>.
Bagi Husserl, dengan menyatakan bahwa fenomenologi bertugas menyingkapkan pertanyaan mengenai ada, Heidegger telah gagal menangkap radikalitasnya. Kenapa? Semua objektivitas berorientasi pada ilmu pengetahuan, dan hal itu hendak diterapkan pada ontologi oleh Heidegger. Fenomenologi adalah bentuk investigasi kesadaran. Kesadaran yang dimaksud bukan kesadaran sebagai objek pengetahuan ilmu psikologis melainkan kesadaran murni (transendental). Kesadaran murni adalah intensionalitas, yakni kesadaran dari sesuatu sebagai sesuatu. Istilah “dari sesuatu” mengandung arti bahwa kesadaran sebagai subjek sudah senantiasa terarah keluar, sedangkan objek sudah selalu memberikan dirinya dengan kepastian “isi” atau makna kepada subjek. Fenomenologi menjadi analisis mengenai bagaimana isi berkonstitusi lewat tindakan kesadaran dan sintesisnya. Menurut Husserl, penyelidikan ontologis mengandaikan ilmu pengetahuan kesadaran transendental.
Untuk menjawab makna mengenai ada , pertama-tama Heidegger menanyakan dalam kondisi yang mana ada itu mempunyai makna. <Ada> mempunyai makna hanya di dalam <ada> yang memiliki pemahaman mengenai <ada>. <Ada> yang dimaksud adalah dasein. Dasein tidak sama dengan kesadaran psikologis, tetapi dasein juga tidak ekuivalen dengan kesadaran transendental. Heidegger juga mengakui bahwa kesadaran fenomenologi Husserl adalah mungkin, tetapi Ia menolak “analisis deskripsi intensionalitas dalam apriorinya” Hussrel. Suatu kerangka apriori dalam intensionalitas justru memungkinkan adanya “residu” dari penyingkapan objek, karena mungkin saja masih ada bagian dari objek yang belum tersingkap.  Kesadaran menurut Heidegger memiliki basis ontologis sebagai “ada di dalam dunia” (being-in-the-world). Dengan ontologi fundamental Heidegger akan menunjukan bagaimana struktur being-in-the-world membentuk kesadaran dalam pengertian Husserl.
Problem intensionalitas Husserl mengenai bagaimana sebuah objek transenden dapat berada “di sana” bagi kesadaran diatasi oleh Heidegger dengan pemahaman mengenai transenden ontis. Makna suatu entitas tergantung dari sebuah transendental ontologis yang dinamai dasein yang being-in-the-world. Kesadaran objek adalah mungkin, dikarenakan dasein melebihi pengada-pengada sebagai keseluruhan menuju adanya. Ia mampu mengerti <ada>, oleh karenanya <ada> dapat menampakkan dirinya kepada dasein seperti adanya mengada-mengada. Dengan demikian isi intensionalitas tidak dapat dimengerti sebagai fungsi kesadaran sendiri tetapi merupakan derivasi dari struktur being-in-the-world sebagai keseluruhan, yang memungkinkan pemahaman tentang <ada>.
Selanjutnya Heidegger merumuskan posisinya terhadap pandangan Husrell mengenai individualime, rasionalisme, dan internalisme di kontraskan dengan pandangannya tentang struktur-struktur being-in-the-world. Pertama, mengenai individualisme, Heidegger memandang bahwa Husserl telah jatuh pada solipsisme. Hal tersebut dikarenakan meskipun Husserl mengenali penyebab dari isi intensional yang mengacu pada sebuah komunitas ego dalam intersubjektivitas transendental, intersubjektivitas tersebut harus pada dirinya sendiri di konstitusikan oleh sebuah ego. Dengan kata lain ego individu masih merupakan landasan satu-satunya bagi isi intensional. Heidegger setuju bahwa isi intensional harus memuat referensi dari sebuah komunitas ego. Tetapi bukan berarti bahwa isi intensional dikonstitusikan dari individualitas. Sebagai being-in-the-worl, “saya” sudah selalu ada-dengan-yang-lain. Itu artinya bahwa yang menjadi masalah bukan mengenai bagaimana komunitas ego (dunia sosial) dapat dikonstitusikan dari kesadaran tertutup saya (monad)[4], tetapi justru bagaimana menjelaskan individualitas itu mungkin. Bagi heidegger individuasi bukanlah yang utama bagi dasein, melainkan salah satu cara berada dasein. Salah satu cara berada dasein adalah das man. Das man adalah dasein yang mengada dengan larut dalam keseharian. Das man hidup dalam anonimitas. Ia tidak membedakan dirinya dengan orang lain.[5]
Kedua adalah rasionalisme. Rasionalisme yang penulis mengerti adalah pandangan yang menyatakan bahwa sumber utama pengetahuan adalah akal budi/rasio/kesadaran[6]. Dengan kesadaran transendental sebagai penangkap makna dari apa-apa yang nampak, Husserl dalam pandangan Heidegger masih jatuh pada rasionalisme. Kesadaran transendental masih merupakan dasar utama bagi diperolehnya suatu pengetahuan mengenai <ada>. Heidegger mampu mengatasi rasionalisme. Bagi Heidegger, being-in-the-world tidak sama dengan idea tradisional subjektivitas sebagai kesadaran individual. Pemahaman mengenai <ada> pertama-tama bukan disebabkan oleh rasio atau kesadaran individual tetapi pemahaman diperoleh, sebagai being-in-the-world, dari praktik keseharian dasein. Lebih lanjut, dasein adalah kepedulian (sorge) yang dengannya memungkinkan pemahaman tentang <ada>. Dengan pemahaman tersebut, Heidegger tidak mau jatuh dalam rasionalisme.
Ketiga adalah internalisme atau representasionalisme. Heidegger menganggap bahwa kesadaran sebagai dasar intensionalitas Husserl masih mengandung representasionalisme. Mengapa? Hal itu dikarenakan dalam pandangan Heidegger keterbukaan dasar manusia terhadap dunia ditafsirkan sebagai suatu forum internal yang mempunyai hukum dan strukturnya sendiri. Husserl menggunakan istilah “noema” yakni ide bahwa <ada> diberikan dengan cara “noemata” atau penginderaan. Lantas, noemata itu adalah sudah imanen dalam kesadaran. Dengan bahasa yang lebih mudah, “noema” itu merupakan sesuatu yang berfungsi untuk menstrukturkan apa-apa yang menampak kepada kesadaran. Noema menjadi suatu fondasi bagi pemahaman mengenai <ada> yang menampak, sehingga <ada> tidak lagi nampak dalam keseluruhan potensi penampakannya, tetapi justru dibatasi oleh penginderaan/”sense” yang imanen dalam kesadaran. Itu mengapa Heidegger memberikan “cap” kepada Husserl sebagai representasionalis dan menolak teori “neoma”. Sedangkan Heidegger menyatakan bahwa pemahaman dasein mengenai <ada> ekuivalen terhadap ketersingkapan (disclosedness) atau pewahyuan dari entitas-entitas. Itu artinya dalam menerima pewahyuan dasein tidak lagi melakukan representasi atasnya. Keterbukaan atau intensionalitas tidak dipahami dalam artian keterbukaan yang didasarkan pada kesadaran, tetapi keterbukaan yang tergantung pada transendensi dasein yakni ketidaktersembunyian dari being-in-the-world. Ketidaktersembunyian adalah hal dari ketiga aspek yang setara dengan adanya dasein yakni: pemahaman, disposisi, dan wacana. Pemahaman disposisi dan wacanalah yang memungkinkan dasein terbuka kepada <ada>. Menurut Heidegger, ketiganya adalah dasar intensionalitas atau keterarahan pada <ada>. Dasar itu bagi Husserl tidak dianggap sebagai dasar dalam pemikiran Husserl.
Metode Filsafat Husserl Vs Heidegger
Pada bagian ini hendak dipaparkan perbedaan maupun kesamaan metode filsafat antara Heidegger dan Husserl. Metode tersebut adalah  reduksi eidetic, reduksi fenomenologis, dan reduksi transendental dan sejauh mana mempengaruhi metode filsafat Heidegger.
Filsafat, bagi Husserl adalah sebuah disiplin apriori, filsafat bukan empiris. Filsafat adalah ilmu pengetahuan mengenai esensi. Fenomenologi memulai dengan mengambil contoh dari pengalaman, tetapi tujuannya bukanlah sebuah deskripsi lengkap darinya. Fenomenologi mencari insight ke dalam esensi dari sesuatu (eidos). Proses untuk sampai pada esensi dari sesuatu (eidos) oleh Husserl disebut reduksi eidetic[7]. Bagi Heidegger pengetahuan filsafat adalah eidetic. Heidegger tidak memberikan penjelasan dengan apa suatu insight ke dalam struktur esensial diperoleh. Akan tetapi, dengan mengatakan bahwa analisanya mengenai “keseharian umum (average everydayness) akan menyingkapkan tidak hanya yang aksidental tetapi juga yang essensial Heidegger sebenarnya “tidak jauh-jauh” dari konsep reduksi eidetic.
Reduksi fenomenologis juga disebut sebagai epoche. Epoche secara harafiah dapat diartikan sebagai penangguhan putusan. Di dalam reduksi fenomenologis, epoche berarti menangguhkan segala pengandaian kita terhadap dunia. Hal itu jelas karena bagi Husserl pengetahuan filosofis dibedakan dengan pengetahuan yang lain. Dengan demikian untuk mendapatkan pengetahuan filosofis, segala pengandaian atau konsep-konsep dari disiplin ilmu yang lain ditangguhkan dahulu, ditempatkan dalam “tanda kurung”.[8] Heidegger menolak reduksi fenomenologis, tetapi menurut Crowell[9] posisi Heidegger dan Husserl tidaklah berbeda jauh.
Reduksi fenomenologis juga dapat disebut sebagai mengurung <ada>. Dengan demikian, Husserl mau menfokuskan metodenya pada fenomen dari <ada>. Dengan memfokuskan pada fenomen ia tidak mau jatuh pada klaim bahwa <ada> adalah ada bagi dirinya sendiri, melainkan <ada> di mengerti sebagai yang selalu memberikan dirinya. Ada dalam dirinya sendiri tidak mensyaratkan adanya intensionalitas. Dari hal itu semakin kelihatan perbedaan penekanan filsafat Heidegger dengan Husserl, Husserl tidak berpretensi menggunakan fenomenologi untuk menyelidiki <ada>, sedangkan Heidegger dengan fenomenologi hendak “bermetafisika”.
Reduksi transendental adalah reduksi di mana kondisi-kondisi fenomena tersingkap. Kondisi ini terletak dalam kesadaran absolut, sebagai konstitutor semua <ada> sebagai fenomena. Heidegger menolak hal ini, tetapi masih mengambil apa yang baik dari reduksi transendental Hussrel. Fenomenologi bagi Heidegger adalah untuk memahami <ada>. Sedangkan bagi Hussrel fenomenologi adalah untuk menangkap fenomen tidak lagi dari penglihatan natural manusia tetapi dari kesadaran pengalaman-pengalaman noematic. Dengan reduksi transendental kesadaran mampu memahami sesuatu sebagai fenomena (objek sebagai fenomena)
Lebih lanjut, dari penjabaran perbedaan antara reduksi menurut Heidegger terhadap Husserl, timbul pertentangan dalam memandang eksistensi dunia. Hussrel menganggap adanya dunia bersifat relatif terhadap kesadaran. Artinya bahwa kesadaran tidak memerlukan sesuatu yang “real”. Sedangkan Heidegger ketiadaan dunia tidak bisa dipikirkan. Karena pemahaman mengenai <ada> tergantung pada ada di dalam dunia. Pada titik inilah menurut Crowell Hussrel dan Heidegger berpisah secara metode.
Kesimpulan dan tanggapan
Dalam “filsuf jagoan” edisi ke-3, digambarkan Anaximenes menganggap bodoh Anaximandros, gurunya, karena memandang air sebagai prinsip utama. Menurut pengarang buku, kisah itu adalah awal dari “tradisi” filsafat di mana murid selalu mengkritik gurunya demi menekankan orisinalitas pemikirannya. Akan tetapi, setiap pemikiran filsafat senantiasa dipengaruhi oleh pemikir sebelumnya. Dalam uraian paper ini, Heidegger tetap tidak masuk sebagai pengecualian.
Heidegger dan Hussrel adalah berbeda dalam pokok filsafatnya. Heidegger hendak bermetafisika sedang Hussrel tidak sedang mencari makna <ada> tetapi lebih kepada membangun suatu epistemologi yang baru. Husserl telah memberikan landasan bagi episteme baru yakni dengan Intensionalitas. Intensionalitas Husserl selangkah lebih maju daripada rasionalisme Cartesian. Kesadaran adalah kesadaran akan sesuatu. Kesadaran adalah intensionalitas, keterbukaan kepada sesuatu. Heidegger berpijak pada intensionalitas dalam filsafatnya. Dasar intensionalitas adalah dasein, sedangkan pada Hussrel adalah kesadaran. Kesadaran bagi Heidegger tidak lagi sekadar kesadaran akan sesuatu, melainkan kesadaran di salam sesuatu atau sebagai sesuatu. Oleh karena itu, Pemikiran Heidegger walaupun berbeda dengan Hussrel baik mengenai persoalan filsafat dan metodenya memiliki  beberapa kemiripan.
Pengetahuan filsafat Hussrel dan Heidegger, memberikan cakrawala baru dalam memandang dunia, terutama dunia yang ditandai dengan semangat materialisme dan positivistisme saat ini. Dunia menawarkan, kalau tidak bisa disebut “memaksa”, kebenaran yang hanya bisa diakui lewat metode-metode positif yang mutlak. Metode dianggap sebagai kebenaran dan melupakan <ada> dunia dan kesadaran yang dihayati. Cara pandang dunia yang seperti itu, menurut penulis telah mereduksi dunia dan manusia sendiri. Ada suatu kisah, “Suatu ketika Si Bambang sedang jatuh cinta. Dadanya berdebar-debar ketika bertemu Rani teman sewaktu SMA-nya yang kini menjadi dokter. Bambang kemudian berniat untuk menyatakan cintanya. Tetapi sebagai basa basi, pertama-tama Bambang memberitahu Rani bahwa dadanya berdebar-debar. Dengan sigap Rani lantas mengambil stetoskop dan memeriksa dada Bambang dan mendapati bahwa menurut denyutan dada Bambang, Bambang menderita tekanan darah tinggi. Dengan kata lain, Rani salah memahami debar jantung yang sebenarnya adalah perasaan jatuh cinta”. Di dalam contoh itu, dengan metodenya Rani telah mereduksi debar jantung dengan metode kedokterannya. Oleh karenanya, Ia tidak menangkap “kebenaran yang lain” yang dihayati. Rani secara tergesa-gesa menyimpulkan dengan konsep yang dimilikinya. Di dalam fenomenologi Husserl, segala pengandaian dikurung dan objek dibiarkan menampakkan dirinya sehingga diperoleh pemahaman sesuai dengan kesadaran subjek. Dengan fenomenologi Hussrel, menurut penulis, manusia kembali dimanusiakan.

Daftar Pustaka
Sumber Utama
Crowell, Steven Galt. 2005. Heidegger and Husserl: The Matter and Method of Philosophy.
Oxford: Blackwell Publisher.

Sumber Pendukung
Bagus, Lorens. 2000. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Dunlavey, Ryan dan Fred van Lente. 2009. Filsuf Jagoan. Terj. Margaretha Widiastuti.
Jakarta: KPG.
Hardiman, F. Budi. 2003. Heidegger dan Mistik Keseharian. Jakarta: KPG.
Hardiman, Budi F. 2011. Pemikiran-pemikiran yang Membentuk Dunia Modern. Jakarta: Erlangga.
Sugiharto, I. Bambang.1996. Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat. Yogyakarta:
Kanisius.
Prajna-Nugroho, Ito. Sejenak Berfenomenologi. http://fenomenologipolitik.wordpress.com/.
Di unduh pada tanggal 17 maret 2014.




[1] Mengenai ontologi formal dan regional dapat dilihat di Lorens Bagus. Kamus Filsafat (Jakarta: Erlangga, 2000) hal. 748
[2] Dalam ontologi formal <ada> masih dimengerti melalui konseptualisasi, sehingga ia masih jatuh pada representasionalisme dan fondasionalisme,
[3]  Filsuf-filsuf sebelum Heidegger seperti plato, decartes, kant, dll. oleh heidegger dikategorikan sebagai representasionalisme.
[4] Bdk. F. Budi Hardiman. Pemikiran-pemikiran, Hal. 48.
[5] Bdk. F. Budi Hardiman. Heidegger dan Mistik Keseharian (Jakarta: KPG, 2003), hal. 61-64.
[6] Bdk. Lorens Bagus. Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia, 2000) hal. 929.
[7] Di dalam reduksi eidetik subjek menempatkan di antara tanda kurung segala sesuatu yang bukan eidos. Lorens Bagus. Kamus Filsafat. hal. 941.
[8] Apabila menilik salah satu ide filsafat Husserl adalah hendak memberikan alternatif pandangan yang berkembang saat itu, bahwa kebenaran akan sesuatu ditentukan oleh hal yang bersifat positif yakni metode-metode saintifik. Dengan mengurung pengandaian ilmu-ilmu lain, mungkin filsafat bagi Husserl tidak bergantung pada validitas saintifik. Hal yang sama terjadi pada Heidegger, ia juga hendak mengatasi ilmu sains.
[9] Nama Penulis artikel yang diringkas,  Steven Galt Crowell.