Kamis, 15 Oktober 2015

“Untuk apa Sekolah”



Menyoal kepentingan sekolah sekarang?
Kini semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk bersekolah. Kebanyakan orang ingin memperoleh pendidikan setinggi mungkin. Terdapat berbagai alasan mengapa kita ingin memiliki pendidikan yang tinggi. Dengan pendidikan tinggi mungkin kita berharap kelak dapat pekerjaan bagus dengan penghasilan tinggi. Namun ada pula yang sekolah karena memang tuntutan dari instansi yang mana seseorang terikat. Misalnya saja seorang calon imam minimal harus berijazah S2 theologi. Selain itu ada juga yang bersekolah demi ijazah – demi gengsi atau prestise. Apakah tujuan pendidikan hanya sebatas hal itu?

Pendidikan Klasik
Penekanan pendidikan ternyata berubah sesuai dengan konteks jaman. Namun menarik untuk melihat kembali konsep pendidikan di jaman Yunani dan Romawi klasik. Pada jaman itu pendidikan merupakan sarana pembentukan manusia yang utuh.
 Jaman Yunani Kuno, pendidikan disebut paideia (paideia) dari akar kata pais (pais) yang harafiahnya berarti pengasuhan anak. Seorang anak dididik oleh pengasuh yang disebut paidagogos. Melalui Paideia yang berupa pengetahuan filsafat, kesenian, dan olahraga, manusia Yunani mendewasakan dan mengembangkan dirinya.
Mungkin apabila diperbandingkan, murid Yunani akan sangat kontras dengan murid jaman sekarang yang sebagian tampak berbeban berat ketika hendak bersekolah. Di dalam budaya yunani kegiatan intelektual dilaksanakan demi kesukaan berpikir. Sekolah bagi mereka adalah peluang santai untuk mengembangkan diri, mencari kebijaksanaan dalam hidup.
Kata “sekolah” sendiri berasal dari kata yunani skhole dan romawi schola yang berarti waktu senggang. Orang bersekolah karena memang memiliki waktu untuk itu. Biasanya orang yang bersekolah adalah para bangsawan. Kebanyakan dari mereka tidak bekerja. Segala macam pekerjaan sudah diurus oleh budak-budaknya. Banyaknya waktu senggang memungkinkan para bangsawan untuk belajar segala macam hal. Bersekolah merupakan kesempatan yang menyenangkan, bukan suatu paksaan apalagi demi mendapatkan pekerjaan.

Hakikat Pendidikan.
Berkaca dari pendidikan ala Yunani dan Romawi klasik, diperoleh kata kunci yakni pengembangan diri. Dengan bersekolah manusia hendak mengembangkan dirinya menjadi manusia yang utuh dalam segala dimensinya. Sebagaimana yang tertuang dalam UU no. 20 tahun 2003, bab II ps. 3 yang hendak mengembangkan peserta didik menjadi manusia yang beriman, barakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Driyarkara seorang filsuf dan tokoh pendidikan Indonesia, memberikan istilah hominisasi dan humanisasi. Menurut beliau pendidikan bertujuan memanusiakan manusia – yakni manusia yang bertumbuh baik dalam keseluruhan jiwa dan badannya. Dengan demikian UU tentang pendidikan dan pengertian pendidikan menurut Driyarkara memiliki tujuan yang sama yakni pembentukan manusia.

Berkaca dari hakikat tujuan pendidikan yang ternyata lebih kepada pembentukan manusia, rasanya kita perlu melihat kembali motivasi kita dalam mengikuti maupun menyelenggarakan pendidikan. Dewasa ini memang banyak dari peserta didik yang memandang bahwa pendidikan yang sedang dienyam saat ini semata-mata demi mendapat pekerjaan atau persiapan sebelum bekerja. Bersekolah agar dapat pekerjaan bukanlah salah hanya saja kurang lengkap. Sebagai peserta didik perlu menyadari  bahwasanya ketika bersekolah pertama-tama mereka sedang mengembangkan dirinya. Peserta diharapkan untuk tidak mudah merasa puas dengan kecakapan, ketrampilan, pengetahuan yang didapatkan di bangku sekolah atau universitas, melainkan terus menerus belajar demi menjadi pribadi yang utuh.
Di lain pihak, tujuan pendidikan sebagai pemanusiaan manusia – pembentukan manusia yang utuh harus menjadi perhatian bagi penyelenggara pendidikan. Apabila tidak hati-hati penyelenggara pendidikan formal hanya berfungsi untuk mencetak pekerja-pekerja bukan untuk membentuk “manusia”. Pendidikan jangan sampai hanya sekadar berorientasi pasar.

Gereja Agen Pendidikan
Tentunya pendidikan formal tidak mampu menjangkau segala aspek pemanusiaan manusia. Selain sekolah formal keluarga sebagai Gereja-gereja kecil merupakan agen pendidik - tempat bersekolah – tempat seseorang bertumbuh menjadi pribadi yang utuh. Sumbangan terbesar yang bisa diberikan keluarga adalah dalam hal iman dan moral. Maka adalah penting bagi orang tua untuk mengajarkan anaknya nilai-nilai moral kristiani dan iman akan Yesus Kristus.

Disarikan dari Sudiarja, A. 2014. Pendidikan Dalam Tantangan Zaman. Kanisius: Yogyakarta. 

Selasa, 13 Oktober 2015

Pahlawan Gereja: Legio Maria
Fr. Surya Nandi



Coba Bandingkan
Coba bandingkan dua foto diatas. Mungkin keduanya tampak tidak ada hubungannya. Namun coba perhatikan lebih seksama lagi, ternyata keduanya memiliki kesamaan yakni merupakan  sekelompok “prajurit”. Apabila foto yang pertama adalah pasukan suatu Negara tertentu, yang kedua adalah pasukan Maria yang disebut sebagai Legio Maria. Dalam tulisan ini saya mau membagikan kesan saya terhadap dua presidium Legio Mariae di Stefanus Cilandak.
Legio Maria tentu tidak asing bagi kita, terlebih umat paroki Stefanus Cilandak. Dalam buku pegangan dikatakan bahwa Legio Maria adalah perkumpulan umat Katolik yang menggabungkan diri dalam suatu Pasukan untuk bertempur dalam perang abadi antara Gereja melawan kekuatan jahat di dalam dunia. Dengan definisi itu, tidak berarti bahwa yang bukan anggota legio tidak ikut “berperang”, hanya saja di dalam legio sejauh yang saya lihat ibarat sebuah pasukan militer, mereka bergerak sistematis, metodis, dan efektif untuk mengalahkan si Jahat.
Legio Maria juga memiliki persenjataan. Namun, senjata para legioner (sebutan anggota legio) bukan dari dunia ini. pakaiannya bukan baju loreng-loreng ala TNI, senjatanyapun bukan cease, AK, apalagi granat. Pakaian para anggota Legio ini adalah Iman yang selalu dikenakannya setiap hari. Senjatanya adalah doa dengan peluru bunga-bunga rohani, mencakup Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, Rosario, Ekaristi, dan doa-doa lainnya. Dengan persenjataan itu setiap anggota dikuduskan dan nama Allah dimuliakan.
Per-juang-an
Sehubungan dengan tema bulan ini tentang kepahlawanan: Perjuangan dan Kesetiaan, saya kira Legio Maria sangat representatif untuk mewakilinya. Apa buktinya? Mari kita “teropong” satu persatu.
Menurut KBBI “perjuangan” berasal dari kata kerja “juang” atau “berjuang”.  Berjuang berarti berusaha sekuat tenaga demi mencapai sesuatu. Dengan demikian, perjuangan adalah sebuah usaha dengan sekuat tenaga, yang biasanya juga banyak kesukaran, untuk mencapai sesuatu.
Saya kira dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memakai kata berjuang, misal ada ungkapan “hidup adalah perjuangan”, “besok mau ujian, saya harus berjuang”, atau “gue akan berjuang, untuk mendapatkan cintamu”. Artinya, dalam setiap perjuangan pasti memiliki tujuan. Legio Maria-pun menggunakan kata itu, “saya akan berjuang melaksanakan tugas agar nama Allah dimuliakan”. Tujuan Legio Maria tidak lain adalah Kemuliaan Allah, dan seluruh perjuangannya diarahkan kesana.
Wujud perjuangan Legio Maria ditunjukkannya dengan usaha dan karyanya. Saya yakin mereka (legioner di paroki Stefanus) sudah berdoa ribuan bahkan puluhan ribu kali bagi mereka yang sakit, para imam dan calon imam, keluarga yang mengalami masalah, yang kesepian, yang merindukan buah hati, yang berharap mendapat jodoh, dsb. Para anggota legioner memang diutus untuk berdoa, bermatiraga, berdevosi, dan melaksanakan karya pelayanan kepada sesama. Karya pelayanan bisa diejawantahkan dengan  mengunjungi orang sakit, panti asuhan, panti jompo, dan ikut ambil bagian dalam karya pastoral Romo.
Ke-setia-an
Kini teropong kita arahkan kepada Kesetiaan. Setia berarti berpegang teguh dan taat pada tugas ,janji, atau prinsip. Misal “aku setia pada janji perkawinanku” berarti taat dan teguh pada segala hal yang tertera dalam perjanjian perkawinan itu. Begitu pula dalam Legio, usaha sekuat tenaga tidak akan berbuah apabila hanya dilaksanakan sesekali saja atau “bolong-bolong”. Seperti juga seorang mahasiswa akan sulit mendapatkan nilai bagus apabila belajar dengan “SKS” alias Kebut Semalam. Demi memuliakan Tuhan, kesetiaan adalah keutamaan yang wajib dimiliki oleh para Legioner. Pada prinsipnya, segala karya yang ada di Paroki bisa diikuti oleh anggota Legio, dengan membawa serta semangat Juang seorang Legioner.
 Para legioner dituntut setia menghadiri rapat, setia menjalankan tugas yang diberikan, dan konsekuen dengan tugas tambahan yang dipilihnya. Misal minggu ini saya mau berdoa secara khusus untuk ibu dan bapak saya, atau menjalankan tugas. Usaha-usaha yang sepertinya sepele semacam itu apabila dilaksanakan dengan penuh perjuangan dan kesetiaan saya yakin pasti membuahkan hasil yang besar.
Pahlawan-pahlawan Muda
Dengan semakin besarnya “kuasa kegelapan” di jaman sekarang, dibutuhkan semakin banyak orang yang mau berperang secara sungguh melawannya. Legio Maria adalah salah satu jawabannya. Paroki Cilandak memiliki tiga presidium Legio Maria, Yakni: Presidium Ratu Para Saksi Iman, Ratu Pencinta Damai, dan Bunga Mawar Gaib. Dengan tantangan di jaman sekarang tentu tiga presidium itu tidaklah cukup. Terlebih tantangan yang merebak di kalangan anak muda, seperti: Narkoba, pornografi, individualisme, dan Iman. Khusus pada poin iman, orang muda adalah generasi penentu keberlangsungan Gereja. Jangan sampai 20 tahun yang akan datang Gereja Cilandak di alih fungsi menjadi tempat fitness seperti yang terjadi di Gerejanya Romo van Ooij, SCJ.
Nah… yang mampu menjawab tantangan orang muda adalah orang muda itu sendiri. Pihak dari luar mungkin bisa saja melakukan segala daya upaya, namun “kartu As”-nya ada di tangan orang muda. Khususnya dalam Legio Maria, dibutuhkan legioner2 junior yang nantinya menggantikan para legioner veteran itu. Gereja membutuhkan pahlawan-pahlawan muda yang memiliki semangat juang dan kesetian. Selamat berjuang…



Katekese Ekaristi
oleh: Fr. Surya-Nandi

Ekaristi merupakan sumber dan puncak kehidupan Gereja. Di dalam Ekaristi keseluruhan karya keselamatan Allah melalui peristiwa Yesus Kristus, yakni: kelahiran, karya, sengsara, wafat, dan kebangkitannya kita rayakan, syukuri, dan alami kembali. Kita patut bersyukur minimal setiap minggu (atau bahkan setiap hari) kita telah merayakan Ekaristi. Namun demikian pengetahuan dan pemahaman mengenai Ekaristi akan semakin membawa kita pada penghayatan Ekaristi yang “lebih” mendalam dan akhirnya semakin membawa pada relasi yang mesra dengan Allah Tritunggal.
Tulisan ini akan menyampaikan tiga hal, yakni: 1) Peristilahan dan sejarah singkat Ekaristi 2) Unsur-unsur perayaan Ekaristi 3) penjelasan singkat tentang tata perayaan Ekaristi 4) Ajaran Ekaristi dalam Konsili Vatikan II. Apabila diperhatikan poin-poin itu hanya menyangkut tinjauan historis-Liturgis. Dalam tulisan ini penulis tidak memberikan uraian refleksi teologi-sistematis mengenai Ekaristi. Namun demikian makna pokok Ekaristi dalam konsili Vatikan II kiranya sudah mencukupi untuk semakin mengerti dan menghayati ekaristi.
Untuk studi lebih lanjut, silahkan baca 1) E. Martasudjita. 2005. Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral.                 Yogyakarta: Kanisius. 2) Banawiratma, J.B. 1989. Babtis Krisma Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius. 3) Kasper, Walter. 1989. Theology & Church. New York Crossroad. 4) E. Martasudjita. 2003. Sakramen-sakramen Gereja : Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral. Yogyakarta: Kanisius.
II. Peristilahan dan Sejarah Singkat Ekaristi
II. 1. Peristilahan Perayaan Misteri Iman Kita
Seringkali kita bertanya-tanya kenapa ada yang menyebut Ekaristi dan Misa. Untuk memahaminya kita perlu mengetahui bahwa untuk apa yang kita sebut dengan Ekaristi ternyata terdapat berbagai macam istilah/sebutan. Dalam sejarah Liturgi Gereja, terdapat banyak istilah yang digunakan untuk menunjuk misteri iman yang agung itu.[1] Setidaknya kita dapat menyebutkan 6 (enam istilah) yang menunjuk pada misteri iman itu yakni: 1) Ekaristi 2) Misa 3) pemecahan roti 4) perjamuan Tuhan 5) Sacrificium (kurban) dan Oblatio (persembahan) 6) sinaksis ( sunaxiV ) yang berarti pertemuan jemaat.
Tentu kita tidak bisa membahas semua peristilahan itu, namun yang perlu dipahami bahwa masing-masing istilah itu memang terkandung pada perayaan misteri iman kita itu. Kita semua setuju bahwa Ekaristi adalah perjamuan, pemecahan roti, peristiwa kurban dan persembahan, serta sebuah pertemuan jemaat. Sedangkan untuk istilah ”misa” berasal dari bahasa latin ”missa”. Kata ”missa” biasa dikaitkan dengan pembubaran jemaat yang sering kita dengarkan ”ite missa est” atau ”pergilah kalian, kalian diutus”. Maka jika memakai kata misa, itu berarti terdapat penekanan pada segi perutusan. Singkatnya begini, ternyata apa yang kita sebut dengan Ekaristi memiliki makna yang begitu kaya, tidak ada satu istilah yang dapat merangkum secara penuh kekayaan misteri iman itu. Kita boleh menyebut perayaan misteri iman kita dengan sebutan Ekaristi ataupun misa, karena dalam dokumen-dokumen Gerejapun menggunakan kata misa.
II.2.  Ekaristi – Perjamuan Terakhir – dan Paskah Yahudi
Ekaristi yang kita rayakan tidak jatuh ”ujug-ujug” dari langit. Apa yang kita rayakan itu didasarkan oleh pengalaman Iman Gereja akan Tuhan Yesus Kristus yakni pada peristiwa perjamuan malam terakhir. Pada perjamuan malam terakhir secara eksplisit Yesus menetapkan suatu perayaan kenangan akan diri-Nya ”inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu, perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk 22:19; 1Kor 11:24,25).  Kata-kata itu dipandang oleh Gereja dan para teolog sebagai perintah Tuhan yang eksplisit tentang penetapan Perayaan Ekaristi Gereja.
Perjamuan Terakhir yang dilakukan oleh Yesus, diadakan dalam konteks perjamuan Paskah Yahudi. Dalam tradisi Paskah Yahudi, orang yahudi juga meminum anggur dan makan roti serta daging kurban dengan tata perayaan tertentu pula. Namun demikian tidak berarti apa yang dilakukan Yesus sama dengan Paskah Yahudi. Yesus memberikan intrepetasi dan pemaknaan baru pada unsur-unsur dalam Paskah Yahudi. Pertama, Yesus dan murid-muridnya minum dari satu piala,  piala yang sama yang mana hal itu asing bagi tradisi Yahudi[2]. Kedua, Yesus memberikan kata-kata interpretatif dalam perjamuan itu. Yang dimaksud kata-kata interpretatif adalah mengenai apa yang dikurbankan yakni bukan korban sembelihan seperti tradisi Yahudi tetapi tubuh dan darah-Nya sendiri.
Namun demikian, perjamuan terakhir bukan berarti sama dengan Ekaristi. Mengapa tidak sama terlatak pada isi dan fungsi peryaan. Isi perayaan Ekaristi adalah perayaan iman Gereja akan wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, sedangkan perjamuan terakhir Yesus masih hidup, belum wafat, apalagi bangkit. Dari segi fungsi, Ekaristi adalah untuk mengenangkan wafat dan kebangkitan Kristus. Sedangkan perjamuan terakhir bukanlah pengenangan, tetapi perpisahan Yesus dengan murid-muridnya dengan sekaligus memberikan perintah pada murid2 untuk mengenangkan diri-Nya.

III. Unsur-unsur Perayaan Liturgi Ekaristi
Berikut ini akan dijabarkan beberapa unsur pokok perayaan Ekaristi yang perlu diperhatikan.
III.1. Makna Ekaristi sebagai Perayaan
Ekaristi adalah suatu perayaan. Kata perayaan diterjemahkan dari kata latin celebratio dari kata kerja celebrare. Kata celebrare sendiri mempunyai banyak arti seperti merayakan, meramaikan, memenuhi, menghadiri dalam jumlah banyak,mengunjungi, memuji. Oleh karena itu dalam liturgi Ekaristi kata perayaan mengandung tiga unsur pokok, yakni:
1.      Segi kebersamaan. Sebuah perayaan selalu merupakan kegiatan bersama-sama atau sekurang-kurangnya melibatkan lebih dari satu orang. Maka dari itu, ekaristi bukanlah perayaan perorangan tetapi banyak orang atau lebih tepatnya perayaan Gereja! Dalam arti persekutuan pengikut Kristus. Ekaristi sebagai sebuah perayaan pertama-tama adalah perayaan seluruh Tubuh Mistik Yesus Kristus yakni Kepala dan para anggota-Nya.(SC 7) maka dari itu yang merayakan Ekaristi itu adalah Kristus dan Gerejanya – Kristus dan kita. Itu juga berarti bahwa dalam perayaan Ekaristi Kristus sungguh – benar-benar hadir bersama dengan kita. Dengan kesadaran bahwa kita merayakan Ekaristi bersama Kristus, maka bagaimana kita bersikap – bagaimana kita menghadap – bagaimana kita merayakan sungguh menentukan relasi kita dengan Kristus. (kalau sudah tahu Kristus hadir, terus malah main HP atau ngobrol, ya terus njur piye?). lantas kalau ekaristi adalah perayaan Kristus dan seluruh Gerejanya maka konsekuensinya Ekaristi tidak boleh dirayakan menurut selera pribadi, entah si imam atau petugas liturgi lainnya. (Misal DSA diganti, menggunakan lagu tidak sesuai dengan konteks, mengganti tata urutan liturgi ekaristi)
2.      Segi partisipatif. Sebuah perayaan selalu menunjuk makna keterlibatan atau partisipasi (ingat salah satu arti celebrare: meramaikan). Maka dalam Ekaristi menuntut partisipasi sadar dan aktif dari semua yang hadir. 1) Sadar berarti menunjuk segi pemahaman tentang apa yang dibuatnya. Mengerti mengapa ia membuat tanda salib, memahami bacaannya, tahu simbol-simbol dan arti tata gerak selama Ekaristi. Singkatnya sadar berarti memahami seluruh makna perayaan Ekaristi. Pertanyaannya apakah kita sudah sadar? Lantas, 2) aktif  menunjukkan keterlibatan yang sepenuhnya dan seutuhnya. Dalam Ekaristi umat bukanlah sekadar penonton. Umat adalah yang merayakan misteri iman yang ikut serta secara penuh, khidmat, dan aktif (SC 48). Misal, mengikuti tata gerak, aktif bernyanyi, menjawab seruan, dll.
3.      Segi kontekstual. Sebuah perayaan selalu diselenggarakan menurut situasi dan kondisi setempat. Dengan kata lain, unsur kebutuhan setempat, situasi, dan tantangan zaman, unsur-unsur budaya lokal ikut mempengaruhi sebuah perayaan. Ekaristi yang kita rayakan, bagaimanapun juga dirayakan menurut gaya dan model penghayatan setempat. Mengenai hal ini kita mengenal istilah inkulturasi dalam perayaan ekaristi. Namun agaknya pada sesi kali ini, mengenai inkulturasi[3] dalam Ekaristi akan dibicarakan lebih lanjut, mengingat kompleksitasnya. Yang jelas gereja tidak melarang inkulturasi asalkan selaras dengan semangat liturgi yang sejati dan asli (SC 37). Lantas, yang perlu diingat, alasan inkulturasi atau segi kontekstual tidak lain adalah untuk menjawab kebutuhan dan kerinduan aktual dan kontekstual dari umat beriman.
III. 2. Peran dan Tugas Imam dalam Ekaristi
Dalam perayaan Ekaristi memiliki peran yang khas untuk membawakan ”Pribadi Kristus” atau bertindak ”in persona Christi[4]” (PO 13) dan sekaligus sebagai saksi dan pelayan seluruh Gereja. Berikut tugas-tugas seorang Imam sesuai dengan PUMR 2000. 1) memimpin perayaan Ekaristi setiap hari (tidak hanya minggu) 2) dalam perayaan ekaristi imam bertugas membawakan doa-doa presidensial yang mencakup: DSA, doa pembuka, doa persiapan persembahan, dan doa sesudah komuni. 3) mendoakan doa2 pribadi dalam hati pada bagian-bagian tertentu dalam Ekaristi.
III.4. Tata gerak dan sikap Tubuh dalam Ekaristi
Buku PUMR 2000 menyampaikan pedoman tata gerak dan sikap tubuh bagi para petugas liturgi dan seluruh umat beriman. Seluruh tata gerak dam sikap tubuh dilaksanakan menurut 3 patokan. 1) memancarkan keindahan dan sekaligus kesederhanaan yang anggun dari perayaan Ekaristi 2) mengungkapkan pemahaman yang tepat dan penuh atas aneka bagian perayaannya 3) membuat jemaat bisa sungguh berpartisipasi secara aktif. Tata gerak dan sikap yang serempak akan mengungkapkan segi kesatuan jemaat.
PUMR memberikan ketentuan tata gerak dan sikap badan yang dianjurkan pada bagian per bagian dalam perayaan Ekaristi. Namun demikian konferensi Uskup boleh mengadakan penyesuaian dengan ciri khas dan tradisi sehat bangsa setempat. (misal saat konsekrasi kita menggunakan sikap menyembah dengan tangan terkatup diangkat keatas, itu adalah tanda hormat kita pada yang Mahatinggi, namun di Eropa tidak demikian justru orang eropa berdiri sambil melihat hosti yang di konsekrir yang menurut adat kita tidak sopan).
III. 5. Makna Hening dan Makna Nyanyian
Bagian ini tidak dijelaskan karena kiranya sudah cukup dimengerti. Untuk lebih jelasnya lihat E. Martasudjita. 2005. Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral.             Yogyakarta: Kanisius. Halaman 112-115.

IV. Tata Perayaan Ekaristi.
Jamak kita temui umat yang menghadiri Misa pada saat komuni saja. Kasus lain, ada umat yang buru-buru meninggalkan Gereja sebelum berkat-perutusan. Hal itu tidak akan terjadi apabila kita mengetahui dan memahami struktur dan tata perayaan Ekaristi.
Perayaan Ekaristi terdiri atas dua bagian pokok, yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Keduanya itu diapit oleh ritus pembuka diawal misa dan ritus penutup sebagai bagian yang menutup. Keempat bagian itu bukanlah terpisah-pisah melainkan berhubungan erat sehingga seluruhnya menjadi satu tindakan ibadat (SC 56). Sehingga hendaknya dalam merayakan Ekaristi, kita mengikuti seluruh bagian dalam Ekaristi. Melewatkan salah satu bagian, berarti melewatkan sebagian misteri iman yang hendak kita rayakan. Seperti yang kita ketahui Perayaan Ekaristi merupakan perayaan kehadiran Yesus Kristus dan seluruh karya penebusan-Nya secara sakramental dalam persekutuan umat beriman. Yesus hadir dalam semua bagian Ekaristi, bukan salah satu bagian saja.
Silahkan mencoba untuk mengingat kembali, isi dalam masing-masing bagian yakni dalam ritus pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi, dan ritus penutup.

V. Makna dasar Ekaristi dalam Konsili Vatikan II
Dalam dokumen konsili Vatikan kedua terkandung refleksi dan ajaran mengenai pemahaman dan penghayatan Ekaristi. Dalam kesempatan ini tidak semua ajaran mengenai Ekaristi dijabarkan. Di sini hanya akan dijabarkan beberapa pokok pandangan mengenai Ekaristi saja, yang sekiranya semakin membantu kita untuk menghayati makna Ekaristi.
1)      Ekaristi sebagai perayaan Kenangan
Ekaristi adalah perayaan kenangan atau dalam bahasa Yunani ”anamnesis”. Ekaristi bukanlah perpanjangan dan repetisi dari peristiwa perjamuan Terakhir. Ekaristi haruslah dimengerti dalam terminologi kenangan dalam tradisi Yahudi (zikkaron, anamnesis, memoria). Kata yang mengacu pada kenangan dapat ditemukan dalam surat rasul Paulus dan Lukas: ”lakukankah ini sebagai kenangan akan Aku”[5]. Pengertian anamnesis tidak dimengerti dalam pemahaman Yunani melainkan Yahudi[6]. Kenangan tidak hanya berarti mengingat kembali atau bernostalgia terhadap suatu peristiwa. Dalam pemahaman Yahudi, kenangan dimengerti sebagai kehadiran nyata suatu peristiwa melalui simbol. Dalam perayaan Paskah Yahudi, mereka mengenangkan peristiwa keselamatan Allah pada jamannya Musa itu. Mengenangkan berarti karya keselamatan dan segala peristiwanya dihadirkan kembali disini dan saat ini pada perayaan paskah Ini. Demikian pula dengan Ekaristi, karya keselamatan Yesus Kristus sungguh nyata, kehadirannya sungguh nyata. Tentu dengan memahami makna kenangan yang lebih mendasar itu kita pun semakin mampu merayakan Ekaristi dengan lebih hikmat. Kita tidak sekadar mengenang, kita benar2 sedang mengalami karya keselamatan.
2)      Ekaristi sebagai Syukur dan Kurban
Ekaristi mengandung ucapan syukur (thanksgiving) atas karya keselamatan yang dikenangkan. Dalam tradisi Yahudi pujian dan syukur (berakah) merupakan unsur kunci dalam liturgi Paskah yahudi. Demikian pula dalam perjamuan terakhir, pujian (euloge) dan syukur (eucharist) adalah unsur konstitutif dalam perayaan tersebut[7]. Keseluruhan upacara perjamuan terakhir dapat dideskripsikan sebagai suatu syukur. Syukur atas karya keselamatan Allah. Oleh sebab itu, perjamuan terakhir di karakteristikan sebagai kenangan di dalam pujian.  Pujian adalah bentuk utama dari perayaan Ekaristi.[8]
Adapun syukur senantiasa diasosiasikan dengan gagasan mengenai kurban. Perjanjian lama berbicara mengenai todah dan hostia laudis yang berarti kurban pujian dan kurban syukur. Terminologi itu diadopsi dalam perjanjian baru dan menjadi sumber refleksi bapa-bapa gereja mengenai hubungan syukur (eucharist) dan kurban. Ekaristi tidak hanya merupakan wujud syukur, namun lebih daripada itu dalam Ekaristi kurban salib dihadirkan secara nyata sebagai suatu sakramen keselamatan Allah. Hal ini berbeda dengan apa yang dipahami jemaat reformasi. Bagi mereka, Ekaristi berhenti pada karakteristik syukur atas penebusan dosa, sedangkan karakter kurban diabaikan.
3)       Ekaristi sebagai Tanda Eskatologis.
Ekaristi adalah tanda eskatologis yakni tanda kedatangan kerajaan Allah di dunia. Dalam Kis 2:46 jemaat perdana merayakan pemecahan roti dalam kegembiraan sebagai antisipasi dari datangnya akhir zaman (eschaton)[9]. Maka esensi dari Ekaristi adalah pesta dan perayaan yang didasari oleh penantian kehidupan kekal. Dengan perayaan itu, terutama dalam liturgi suci, kita dan Gereja “mencicipi” liturgi surgawi, yakni liturgi yang akan dirayakan ketika karya penyelamatan Allah dalam Kristus secara sempurna diselesaikan pada akhir zaman nanti[10].
4)      Ekaristi sebagai komunio
Daya-guna Roh Kudus dalam Ekaristi membawa jemaat pada persatuan di dalam dan dengan Yesus. Roh Kudus menghendaki supaya karya Yesus Kristus secara universal dirasakan oleh seluruh umat manusia dan dunia. Persatuan itu dipahami sebagai persatuan secara pribadi dengan Kristus dan juga dengan Gereja. Oleh karena itu,  Ekaristi mengandung dua dimensi komunio yakni personal dan ekklesial. Dikatakan personal karena dalam Ekaristi memungkinkan persatuan pribadi dengan kristus. Dikatakan ekklesial karena Ekaristi tidak melulu soal relasi pribadi dengan Kristus namun terlebih Gereja dengan Kristus. Persatuan (communio) personal dan ekklesial merupakan tujuan dan kepenuhan dari perayaan Ekaristi.
Hubungan antara Gereja dan Kristus ternyatakan dalam Kitab Suci khususnya dalam frase ”darah perjanjian” (Mrk 14:22) atau ”penjanjian baru di dalam darah-Ku”. Menurut Kasper, dalam frase tersebut menyiratkan bahwa Ekaristi merupakan tanda dari sebuah era penyelamatan yang baru. Kebaruan dalam keselamatan itu tidak hanya mencakup relasi antara manusia dengan Allah, namun juga antara manusia dengan sesamanya. Maka ketika ber-Ekaristi, Gereja merupakan sebuah institusi keselamatan yang baru yakni yang mencakup relasi manusia-Allah dan manusia-manusia. 
Ekaristi sebagai communio mempunyai aspek etis. Dalam Ekaristi setiap pribadi adalah sama yakni anggota Gereja. Ekaristi sebagai communio mengandung suatu prinsip kesamaan diantara setiap anggota jemaat. Di dalamnya tidak ada pembedaan kelas, ras, dan kekayaan. Ekaristi kehilangan maknanya apabila terdapat pembedaan semacam itu. Ekaristi mengandaikan adanya kepenuhan keadilan sosial sebagai relasi dari kasih Ilahi.[11]

Penutup
Setidaknya kita telah melihat beberapa poin mengenai ekaristi yakni: istilah, sejarah, unsur-unsur pokok, dan makna teologis-sistematis namun yang pokok-pokok saja yang dirasa sangat perlu untuk diketahui. Karena adanya pembatasan-pembatasan dalam pokok bahasan, maka tentu saja tulisan ini belum mencakup seluruh kekayaan makna Ekaristi. Pembacaan lebih lanjut sangat disarankan.






[1] Lih. Martasudjita, Ekaristi, hal. 27-33
[2] Dalam paskah Yahudi orang yahudi membawa pialanya sendiri-sendiri dan meminum anggur dari pialanya itu.
[3] Sejauh ini inkulturasi yang paling kentara adalah dalam segi bahasa. Kini dalam perayaan ekaristi digunakan bahasa setempat misalnya bahasa Indonesia, jawa, sunda dan tidak lagi harus menggunakan bahasa latin. Hal ini tentu dilakukan supaya untuk menjawab kebutuhan umat hyang rindu untuk berpartisipasi aktif dalam perayaan.
[4]“ In persona Christi” berarti imam menghadirkan Kristus melalui diri-Nya.
[5] Luk 22:19, 1 Cor 2: 2.4, 25).
[6] Walter Kasper, Theology, hal. 181.
[7] Bdk. Mrk 14:22 “Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu”
[8] Walter Kasper, Theology, hal. 184
[9] Walter Kasper, Theology, hal.192.
[10] Bdk. Martasudjita, Ekaristi, hal. 360.
[11] Walter Kasper, Theology, hal.191.
“Mati Kok di Salib”



Penyakit Jaman Ini
Menurut salah satu situs di internet, ada 10 “pembunuh” paling mematikan di Indonesia. Yang pertama adalah stroke, kedua penyakit jantung sistemik, urutan ketiga disusul oleh penyakit TBC, sedangkan kecelakaan menempati urutan ke-9. Kita semua tentu merindukan kematian secara wajar. Meninggal karena berumur tua, dengan didampingi saudara-saudari yang terkasih. Namun demikian Justru hal itu tidak terjadi pada Yesus. Yesus wafat dengan cara yang mengerikan yakni dengan disalibkan. Pertanyaannya adalah kenapa Yesus harus mati di Salib, kenapa tidak mati karena stroke saja atau mati karena sudah berumur tua?

Salib Bagi Orang Yahudi
Untuk orang Yahudi salib adalah suatu batu sandungan (bdk 1 Kor: 22). Orang yang disalib merupakan orang hina dan berdosa. Bagi mereka adalah tidak masuk akal seseorang yang diberkati mati dengan cara yang hina seperti itu. Pandangan orang-orang Yahudi tersebut dapat dimengerti. Apabila kita mengingat bagaimana para Bapa bangsa Israel mati, sebut saja Abraham, Ishak, Yakub, Musa, dan Yosua, mereka meninggal secara wajar. Mereka meninggal ketika berumur ratusan tahun, ketika rambutnya memutih, dan ketika telah beranak-cucu. Singkatnya para Bapa bangsa itu mati dengan tanda-tanda bahwa mereka diberkati Allah.
Gambaran kematian orang yang diberkati Allah itu tentu kontras dengan kematian Yesus. Yesus wafat sekitar umur 33 tahun pada saat masih ganteng-gantengnya - harta tidak punya – tidak menikah - apalagi mempunyai anak cucu, dan yang paling tragis ia mati di hukum mati dengan disalibkan. Oleh karenanya kata-kata Rasul Paulus “aku memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan…”(1 Kor 2:2) menjadi suatu hal yang kontradiktif bagi cara pikir orang-orang Yahudi. Mungkin orang-orang Yahudi akan berkomentar “ orang yang mati disalib kok diikuti”

Saudara Muslim Memandang Salib
Saudara muslim menempatkan Yesus pada kedudukan yang tinggi sebagai nabi dan rasul Allah. Setidaknya ada 40an ayat dalam Al-quran yang berbicara mengenai Yesus dan satu surat tersendiri berbicara mengenai Maria. Umat muslim mengakui bahwa Yesus dikandung tanpa persetubuhan oleh perawan Maria. Umat muslim juga percaya bahwa Yesus melakukan berbagai mujizat, menyembuhkan orang sakit, bahkan menghidupkan orang mati.
Namun dua hal yang tidak bisa saudara muslim terima yakni 1) bahwa Yesus adalah Tuhan 2) bahwa Yesus mati di Salib. Dalam kepercayaan saudara kita itu, Yesus memang seorang Nabi, tetapi bukan Tuhan. Lantas, yang disalibkan bukanlah Yesus melainkan salah satu murid yang menyerupai Yesus. Yesus sendiri selamat dari salib. Senada dengan pandangan Yahudi, bagi mereka tidak masuk akal orang yang saleh, suci, rasul Allah mati dengan cara yang hina.

Salib bagi “Kita”
Tentu sedikit uraian diatas tidak bermaksud mempertentangkan Iman kita dengan Iman orang Yahudi dan saudara muslim. Justru dengan mengetahui bagaimana orang non-katolik memandang salib, kita sendiri berefleksi mengenai “apa artinya jika Yesus Tuhan kita wafat di Kayu Salib”?
Jawabannya adalah karena Kasih Allah yang tidak terbatas. Yesus sudi memilih jalan Salib bagi keselamatan kita. Dengan demikian Yesus mau menanggung salib demi kasih-Nya kepada manusia. Bukankah tiada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya? (bdk Yoh 15:13).
Maka jelas bagi saya/kita kenapa Yesus tidak mati karena stroke. Jika mati karena stroke karya penebusan dosa tidak akan terlaksana (bdk. Yes 52:13 – 53:12). Nubuat para Nabi tentang Mesias yang dihina, menderita, dan sengsara  tidak jadi digenapi. Yesus tidak juga menghindari salib agar dapat hidup aman sentosa hingga nantinya mati tua. Dengan wafatnya di kayu salib, ia mau menunjukkan kepada kita Kasih ilahi. Kasih yang sudi mengorbankan dirinya demi sahabat-sahabatnya. Kita sebagai murid-Nya dipanggil untuk melakukan hal yang serupa.

“Saat sedang mengetik tulisan singkat ini saya memandang sebuah salib. Salib pemberian teman-teman saya di seminari. Kalau tidak salah saudara Joko yang membelikan untuk saya. Untungnya Joko tidak salah pilih. Joko memilih salib yang ada corpus-nya. Di salib itu tergantung Yesus. Yesus yang seolah-olah dengan suara lirih berkata “ikutilah Aku, dan pikulah salibmu”.Saya yakin Diapun juga berkata demikian kepada saudara. 

Rabu, 05 Agustus 2015

Berpikir-pikir mengenai Ekologi



Foto diatas adalah salah satu contoh bencana Alam. Akhir-akhir ini di berbagai belahan dunia marak terjadi bencana Alam. Banyak pihak yang mengaitkan hal itu dengan efek pemanasan global, namun tidak sedikit pula yang menolak anggapan itu. Di tengah kontroversi, tidak bisa dipungkiri bahwa bumi yang kita huni ini telah dieksploitasi secara besar-besaran. Kita semua setuju bahwa hutan di Indonesia semakin sempit, air bersih semakin sulit didapat, industri pertambangan mengubah gunung menjadi cerukan. Eksploitasi bumi yang membabi buta itu tidak lain karena sikap konsumtif dan pemujaan terhadap hal-hal material yang semakin menjadi-jadi.

To have or To be
Dulu populer kita dengar suatu ungkapan dari seorang filsuf “saya berpikir, maka saya ada”. Jaman sekarang ungkapan itu kalah popular dengan “saya membeli maka saya ada” atu “saya memiliki maka saya eksis”. Gejala ini sadar atau tidak telah merasuki sendi-sendi kehidupan kita. Coba saja perhatikan, di masyarakat kita orang dilihat bukan karena dia siapa – pribadinya, namun apa yang dimiliki. Pak Surya itu yang punya kolam renang di atap itu loh, atau pak Kamto itu yang punya villa di Maldive itu loh. Kinipun Pak Setiadi dipandang bukan karena ke-imut-annya lagi, malahan mobil Ferrarinya.
Errich Fromm, seorang filsuf dan psikolog memberikan gambaran menarik mengenai mentalitas zaman modern – post modern dalam bukunya “to have or to be” – memiliki atau menjadi. Menurutnya ada dua modus eksistensi (cara beradanya manusia). Yakni modus memiliki dan modus menjadi. Pada modus memiliki, manusia dengan pilihan-pilihannya digerakkan oleh segala sesuatu oleh apa yang ada diluar dirinya. Apabila dilihat dengan seksama orang dengan modus memiliki, sebenarnya ia yang dimiliki oleh hal2 material diluarnya. Ia bukan yang mengkontrol, eh malah ia yang di control. sedangkan modus menjadi, lebih bergerak ke dalam. Pilihan-pilihannya didasari oleh keinginan kemenjadian sehingga bersifat internal. Sebagai contoh orang bekerja sebagai petani. Petani modus memiliki, adalah petani yang bertani demi menumpuk hasil tani sebanyak-banyaknya. Sedangkan petani modus menjadi, bekerja sebagai karya dan tidak melulu mempertimbangkan hasil. Bahwa hasilnya banyak itu bukanlah tujuan melainkan konsekuensi.
Kembali kepada soal membeli, apakah memiliki itu salah? Jawabannya tidak. Hanya apabila membeli dan memiliki itu tidak menjadi modus eksistensi yang dipilih. Sadar atau tidak kita hidup di era kapitalisme. dalam kapitalisme logika yang dipakai adalah penumpukan modal. Mereka yang memiliki modal banyak adalah yang disebut sukses. Maka orang berlomba-lomba menumpuk harta kekayaan demi menguasai modal. Agar modal bertambah maka yang dilakukan adalah konsumsi sebanyak-banyaknya. Apabila kita mendengar istilah pertumbuhan ekonomi, maka yang dimaksud menurut hemat saya adalah pertumbuhan konsumsi. Semakin konsumsi meningkat, semakin bagus pertumbuhan ekonomi suatu Negara. Konsumsi meningkat, berarti produksi meningkat. Produksi meningkat berarti sumber daya yang dibutuhkan untuk memproduksi meningkat. Nah disini letak permasalahannya? Sejauh mana sumber daya alam dan manusia mampu memenuhi kebutuhan produksi.

Sapi yang Menjerit

Ibarat sapi, bumi kini tengah “menjerit” karena terus-menerus diperah. Perubahan iklim, global warming, dan bencana alam yang semakin sering terjadi adalah “alarm” dari bumi. Alam memberi sinyal bahwa pola konsumsi kapitalis yang demikian tidak dapat ia tanggung. Kerusakan lingkungan yang semakin parah membuat kita diambang krisis ekologi. Meskipun ada pihak yang tidak setuju bahwa saat ini kita dalam krisis ekologi, namun logika kapitalis dan pola konsumsi yang demikian akan secara logis menempatkan dunia dalam kehancuran. Apabila konsumsi sebagai ukuran kemajuan dan keserakahan dan kepemilikan sebagai kesuksesan, segala yang ada dibumi akan habis “dimakan” manusia. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? kepunahan. Lalu apa peran kita sebagai seorang katolik untuk mengatasi atau paling tidak “mengerem” laju perusakan bumi itu? – To be Continued

Senin, 03 Agustus 2015

Yohanes Maria Vianney (1786-1859)


“The cure of Ars” itulah julukan Romo. Vianney. Ia ”menyembuhkan”  umat Ars bukan dengan kepandaian namun dengan kesucian-doa-pantang dan puasa, serta pelayanan yang luar biasa. Pelayanannya terlihat dari rutinitasnya. Satu jam setelah tengah malam Romo Vianney membunyikan lonceng angelus. Lonceng itu juga menandakan bahwa Gereja telah buka, dan umat boleh datang kapan saja untuk mengaku dosa. Romo “standby” di ruang pengakuan hingga pukul enam pagi. Lantas, ia melanjutkan dengan merayakan misa kudus. Dengan tangan terkatup, mata tertutup, dan tubuh tak bergerak, Vianney menghadap tabernakel. Perjumpaan dengan Allah Tritunggal Maha Kudus merupakan sumber kekuatan pelayanannya. Romo biasanya sarapan pukul delapan pagi dengan setengah gelas susu. Kembali ke Sakristi pukul setengah sembilan, pukul 10 ia berhenti sejenak untuk berdoa, kemudian melanjutkan pengakuan dosa hingga pukul 11. Ribuan orang menunggu – antre untuk mengaku dosa lewat orang suci ini. Setidaknya Romo mendengarkan pengakuan dosa 16-18 Jam setiap harinya. Baginya pengakuan dosa adalah sarana untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Dan memang demikian, selama hidupnya mungkian ribuan bahkan puluhan ribu orang telah terselamatkan. Rutinitasnya, keutamaannya, cara hidupnya adalah patron bagi Imam khususnya yang diparoki. Mungkin tidak harus persis sama dengan Romo Vianney, namun yang jelas apa yang dilakukannya adalah hasil dari relasi yang mendalam antara dia dengan Allah. Romo Vianney membuatku berkaca pada rutinitas dan carahidup serta relasiku dengan Dia. Romo Vianney doakanlah kami supaya kami dapat meneladani hidupmu yang didasari oleh relasi dengan Kristus itu.

Selasa, 14 April 2015

Filsafat Melawan Kekerasan
Oleh: Fr. Surya Nandi*

“Ratusan nyawa melayang termasuk warga sipil dan anak-anak”  demikian bunyi berita dari salah satu surat kabar nasional. Satu dekade ini perang dan kekerasan sudah jamak kita dengar, dari perang Afganistan sampai perang saudara di Suriah, dari kekerasan sekala besar sampai lingkungan intern keluarga. Pertanyaannya adalah kenapa kekerasan terus terjadi? Tidak adakah perdamaian di dunia ini? Tentu kita bisa menjawab dengan berbagai sudut pandang dan penjelasan, namun dalam kesempatan ini saya hendak bertanya dimana posisi filsafat dalam  masalah kekerasan dan perdamaian.
Apabila mendengar kata <filsafat>, dengan spontan orang akan mengatakan filsafat adalah sesuatu yang abstrak, mengawang-awang, konseptual, dan tidak menyentuh realitas kehidupan manusia. Anggapan itu memang ada benarnya, tapi tidak semuanya mengawang-awang tanpa memikirkan pergulatan keseharian manusia. Diaantara sebegitu banyak filsuf sejauh yang penulis ketahui ada Soren Kierkegaard, Heidegger, dan Eric Weil. Dan filsuf yang terakhir itu justru menggulati mengenai kekerasan dan perdamaian.
Eric Weil adalah seorang filsuf keturunan Yahudi. Weil lahir di Perchim, Jerman pada tahun 1904 dari keluarga pedagang. Dengan demikian Ia sezaman dengan Jean-Paul Sartre, yang terkenal sebagai filsuf eksistensialis itu. Pada tahun 1930-an hidup Weil yang sebelumnya damai berubah drastis oleh karena pemerintahan Nazi. Selama masa  itu ia melihat, merasakan, dan mengalami kekejaman kemanusiaan. Ketika itu Jerman sedang gencar membasmi setiap keturunan Yahudi. Oleh karenanya pada akhir 1932, Weil meninggalkan Jerman, dan  lari ke Paris. Pengalaman kekejaman Nazi itulah titik tolak refleksi filosofis Weil mengenai kekerasan dan perdamaian.
Bagi Weil manusia bukanlah makluk rasional, melainkan  sebuah <potensi> rasional. Apa maksudnya? Manusia tidak serta-merta selalu rasional dalam hidup dan tindakannya. Rasional adalah suatu kemungkinan bagi manusia. Kemungkinan atas pilihan yang dikehendakinya, yakni pilihan untuk rasional atau irrasional. Hal itu bisa dengan mudah kita mengerti dalam  kenyataan sehari-hari seringkali kita bertindak tanpa menggunakan rasio/ akal budi. Misalnya ketika seseorang seminaris lapar, tanpa pikir panjang Ia melahap semua makanan di refter tanpa peduli pada teman yang lain. orang yang rasional adalah jika ia mau sejenak mempertimbangkan, lantas memutuskan tindakan dengan berlandaskan nilai kehidupan bersama. Ia dengan akal budi mampu membuat pilihan untuk hanya makan bagiannya saja, sehingga teman yang lain “kebagian”, tidak kelaparan karena kerakusannya. Kebalikan dari rasional, irrasional berarti segala tindakan  digerakkan oleh insting, nafsu individual atau  kepentingan diri dan kebutaan pada nilai kepentingan bersama.
Apa saja nilai-nilai kehidupan bersama itu? Weil berpendapat dalam diri manusia sudah melekat nilai-nilai universal bagi landasan kehidupan bersama. Nilai persahabatan, persaudaraan, kerjasama, dan perdamaian ada di dalam diri manusia. Maka dengan memilih untuk berjuang merengkuh nilai-nilai itu kedamaian akan tercipta. Pilihan rasional sekali lagi berarti mau memperjuangkan nilai-nilai itu. Dengan demikian, menolak memperjuangkan nilai-nilai tersebut berarti mengingkari martabat manusia sebagai mahkluk rasional. Lantas, Weil menyebut pilihan hidup yang rasional sebagai jalan kebijaksanaan. Orang menjadi bijak jika mau berproses dalam jalan kebijaksanaan itu.
Dengan mengatakan “proses”, berarti kebijaksanaan tidak serta merta diperoleh. Bagi Weil, kebijaksanaan adalah buah dari berfilsafat. Filsafat bagi Weil adalah sebuah proses dan sekaligus pengalaman menghayati hidup bijaksana, hidup yang terus menerus memilih rasionalitas yakni pilihan untuk memperjuangkan nilai-nilai universal. Dalam artian inilah filsafat wacana abstrak, melainkan wacana yang sungguh konkret.
Lantas apa hubungan pandangan manusia dan definisi filsafat itu dengan kekerasan? Kekerasan terjadi ketika kita memilih yang irrasional dibanding yang rasional. Kita tunduk pada nafsu dan kepentingan diri  dibandingkan nilai-nilai kehidupan bersama. Dalam berita surat kabar itu, Para pelaku kekerasan dalam konflik tidak mau “berfilsafat”, tidak mau mengaktualisasikan potensi rasionalitasnya dengan memilih memperjuangkan nilai-nilai bersama yakni perdamaian. Tanpa pikir panjang mereka “main bom”, “main tembak” saja tanpa memperhitungkan dampaknya khususnya bagi warga sipil dan anak-anak. Nafsu dan egoisme mengalahkan rasionalitas.
Weil memang tidak setenar Sartre dan Ia bisa dibilang filsuf “kecil”, akan tetapi filsafat “konkret”nya dalam merefleksikan perdamaian menarik untuk diketahui. Weil membuka cakrawala mengenai potensi rasionalitas kita. Sebagai mahkluk/pengada yang memiliki kebebasan, kita ditantang untuk mengaktualkannya. Beranikah kita?

*Frater Filosofan Semester IV
*Disarikan dari Mulyatno, CB. 2012.Filsafat Perdamaian. Yogyakarta: Kanisius.

Manusia Menurut Viktor Frankl


Buku Man’s Search for Meaning merupakan kisah hidup Viktor Frankl selama menjalani masa tahanan di kamp konsentrasi Nazi selama tiga tahun. Selama di kamp konsentrasi tersebut, Frankl melihat, merasakan, dan mengalami penderitaan akibat kekejaman Nazi, misalnya; pembunuhan massal, kerja paksa, perlakuan tidak manusiawi, dsb. Melalui pengalaman tersebut, Ia memperoleh cakrawala yang lebih luas mengenai apakah dan siapakah manusia. Dengan latarbelakang psikologi, Viktor Frankl kemudian mengembangkan logoterapy[1] untuk menyembuhkan noogenic neurosis[2] yang didukung pandangannya mengenai manusia. Paper ini hendak menunjukkan pandangan mengenai manusia menurut Viktor Frankl berdasarkan buku Man Search For Meaning. Ia memandang bahwa manusia adalah mahkluk yang mencari dan dipengaruhi oleh makna hidupnya..
Frankl berseberangan dengan Sigmund Freud yang memandang tingkah laku manusia merupakan perwujudan alam bawah sadar yang berakar pada hasrat sexual. Ia tidak menemukan dorongan sexual sebagai penentu tingkah laku seseorang selama di kamp konsentrasi, “Undernourisment, besides being the cause of the general preoccupation with food, probably also explain that sexual urge was absent.”[3] Akan tetapi, tingkah laku manusia berakar pada apa arti hidup bagi seseorang dan tujuan hidupnya.
Manusia merupakan makhluk yang mencari makna hidup. “man search for meaning is the pyrimary motivation in his life and not a secondary rationalization or instinctual drives.”[4] Ia  mempunyai kehendak untuk memberi arti dan alasan hidupnya. Arti hidup (the meaning of life) bersifat unik dan spesifik dan hanya dapat dipenuhi oleh setiap individu itu sendiri. Dengannya ia bereksistensi. Ketika kehendak untuk memaknai hidup bermasalah, ia akan mengalami noogenic neurosis dan untuk mengatasinya individu diarahkan untuk mereorientasikan makna hidupnya. Dengan demikian arti hidup adalah hal sentral bagi manusia. Tujuan dan arti hidup tidak hanya mempengaruhi mental tetapi juga fisik manusia. Tahanan yang mempunyai tujuan dan kehendak hidup, secara fisik lebih kuat dari pada mereka yang tidak.
Manusia merupakan mahkluk yang bebas. “The experience of camp life show that man does have a choice  of action.”[5] “ everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedoms…”[6]. Di dalam kamp konsentrasi, cara hidup tahanan ditentukan oleh aturan dengan berbagai macam kebiadabannya. Frankl mendapatkan kesan bahwa,  manusia merupakan mahkluk yang tidak bisa menghindar dari pengaruh lingkungannya. Seolah-olah mereka tidak memiliki pilihan atas hidupnya. Akan tetapi, manusia senantiasa memiliki pilihan. Dengan demikian ia mempunyai kebebasan dalam dirinya (inner freedom).
Manusia memiliki afektivitas yakni kemampuan untuk mencintai. Mencintai tidak terbatas pada aktivitas sexual, seperti halnya pada binatang, sex merupakan ekspresi dari cinta. Dengan mencintai manusia menjadi lebih sadar terhadap manusia lain dan dirinya sendiri. Dengan sadar akan potensi manusia lain, ia juga menjadi tahu potensinya. Pengalaman mencintai merupakan salah satu cara untuk menemukan arti hidup.
Manusia memiliki kemampuan untuk memaknai penderitaan. Ia mempunyai potensi untuk mengubah tragedy menjadi keberhasilan dan kesulitan atau penderitaan menjadi tujuan manusia.”I only insist that meaning is possible even in spite of suffering…”[7] Misalnya; Ketika Yesus dianiaya dan disalibkan, Ia memaknainya bukan sebagai penderitaan tetapi sebagai wujud cinta dan pengorbanan kepada umat manusia. Sebaliknya, binatang tidak bisa memaknai penderitaan seperti itu. Misalnya; seekor kera merasa sakit akibat suntikan jarum, rasa sakit itu hanya dapat dimengerti oleh kera sebagai penderitaan saja. Lebih lanjut, penderitaan dalam beberapa kasus membuat aspek spiritual manusia menjadi lebih dalam.
Manusia sepenuhnya adalah makhluk yang menentukan dirinya sendiri (self-determining). “Man is not fully conditioned and determined but rather determined himself…”[8] Frankl menentang paham pan-determinism, suatu pandangan yang mengesampingkan kemampuan manusia untuk berpendirian terhadap segala situasi dan kondisi. Sebaliknya, manusia tidak sepenuhnya dikondisikan dan ditentukan, tetapi ia mampu menentukan dirinya sendiri, baik dengan cara memberi diri maupun melawan situasi tersebut. Manusia dapat berperilaku seperti seorang  suci atau seekor babi ketika di kamp konsentrasi tergantung dari apa yang diinginkannya.
Dari uraian yang telah disampaikan, dapat disimpulkan bahwa menurut Frankl manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak untuk mencari makna hidup. Arti hidup akan mempengaruhi hidup manusia. Selain itu, manusia juga merupakan makhluk yang bebas. Ia sepenuhnya menentukan dirinya sendiri. Lebih lanjut, manusia memiliki kemampuan untuk mencintai dan kemampuan untuk memaknai penderitaan, yang tidak ditemukan dalam binatang. Melalui pandangan Frankl, diperoleh wawasan yang lebih luas mengenai manusia untuk melihat kedudukan manusia sebagai mahkluk atau pengada hidup dibandingkan dengan pengada-pengada lainnya.



Daftar Pustaka
Frankl, Viktor E. Man’s Search for Meaning. New York: Washington Press Publication,    1984.




[1] Logoterapy: sebuah pendekatan psykologi yang didasarkan pada pencarian makna hidup
[2] Noogenic: neurosis (gangguan mental) yang diakibatkan oleh adanya masalah dalam kehendak mencari hidup seseorang.
[3] Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning (New York: Washington Press Publication), 52.
[4] Frankl. Man’s Search for, hlm. 121.
[5] Frankl. Man’s Search for, hlm. 86.
[6] Frankl. Man’s Search for, hlm. 86.
[7] Frankl. Man’s Search for, hlm. 136.
[8] Frankl. Man’s Search for, hlm. 154.