Katekese Ekaristi
oleh: Fr.
Surya-Nandi
Ekaristi
merupakan sumber dan puncak kehidupan Gereja. Di dalam Ekaristi keseluruhan
karya keselamatan Allah melalui peristiwa Yesus Kristus, yakni: kelahiran,
karya, sengsara, wafat, dan kebangkitannya kita rayakan, syukuri, dan alami kembali. Kita patut bersyukur
minimal setiap minggu (atau bahkan setiap hari) kita telah merayakan Ekaristi.
Namun demikian pengetahuan dan pemahaman mengenai Ekaristi akan semakin membawa
kita pada penghayatan Ekaristi yang “lebih” mendalam dan akhirnya semakin
membawa pada relasi yang mesra dengan Allah Tritunggal.
Tulisan ini akan
menyampaikan tiga hal, yakni: 1) Peristilahan dan sejarah singkat Ekaristi 2)
Unsur-unsur perayaan Ekaristi 3) penjelasan singkat tentang tata perayaan Ekaristi
4) Ajaran Ekaristi dalam Konsili Vatikan II. Apabila diperhatikan poin-poin itu
hanya menyangkut tinjauan historis-Liturgis. Dalam tulisan ini penulis tidak
memberikan uraian refleksi teologi-sistematis mengenai Ekaristi. Namun demikian
makna pokok Ekaristi dalam konsili Vatikan II kiranya sudah mencukupi untuk
semakin mengerti dan menghayati ekaristi.
Untuk studi
lebih lanjut, silahkan baca 1) E. Martasudjita. 2005. Ekaristi:
Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral. Yogyakarta:
Kanisius. 2) Banawiratma,
J.B. 1989. Babtis Krisma Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius. 3) Kasper, Walter.
1989. Theology & Church. New York
Crossroad. 4) E. Martasudjita.
2003. Sakramen-sakramen Gereja : Tinjauan
Teologis, Liturgis, dan Pastoral. Yogyakarta: Kanisius.
II. Peristilahan dan Sejarah
Singkat Ekaristi
II. 1. Peristilahan Perayaan Misteri Iman Kita
Seringkali kita bertanya-tanya kenapa ada yang menyebut
Ekaristi dan Misa. Untuk memahaminya kita perlu mengetahui bahwa untuk apa yang
kita sebut dengan Ekaristi ternyata terdapat berbagai macam istilah/sebutan.
Dalam sejarah Liturgi Gereja, terdapat banyak istilah yang digunakan untuk
menunjuk misteri iman yang agung
itu.
Setidaknya kita dapat menyebutkan 6 (enam istilah) yang menunjuk pada misteri iman itu yakni: 1) Ekaristi 2)
Misa 3) pemecahan roti 4) perjamuan Tuhan 5) Sacrificium (kurban) dan Oblatio
(persembahan) 6) sinaksis ( sunaxiV ) yang berarti pertemuan jemaat.
Tentu kita tidak bisa membahas semua peristilahan itu,
namun yang perlu dipahami bahwa masing-masing istilah itu memang terkandung
pada perayaan misteri iman kita itu. Kita semua setuju bahwa Ekaristi adalah
perjamuan, pemecahan roti, peristiwa kurban dan persembahan, serta sebuah
pertemuan jemaat. Sedangkan untuk istilah ”misa” berasal dari bahasa latin ”missa”.
Kata ”missa” biasa dikaitkan dengan pembubaran jemaat yang sering kita
dengarkan ”ite missa est” atau ”pergilah kalian, kalian diutus”. Maka jika
memakai kata misa, itu berarti terdapat penekanan pada segi perutusan.
Singkatnya begini, ternyata apa yang kita sebut dengan Ekaristi memiliki makna
yang begitu kaya, tidak ada satu istilah yang dapat merangkum secara penuh
kekayaan misteri iman itu. Kita boleh menyebut perayaan misteri iman kita
dengan sebutan Ekaristi ataupun misa, karena dalam dokumen-dokumen Gerejapun
menggunakan kata misa.
II.2. Ekaristi –
Perjamuan Terakhir – dan Paskah Yahudi
Ekaristi yang kita rayakan tidak jatuh ”ujug-ujug” dari
langit. Apa yang kita rayakan itu didasarkan oleh pengalaman Iman Gereja akan
Tuhan Yesus Kristus yakni pada peristiwa perjamuan malam terakhir. Pada
perjamuan malam terakhir secara eksplisit Yesus menetapkan suatu perayaan
kenangan akan diri-Nya ”inilah tubuh-Ku
yang diserahkan bagi kamu, perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk 22:19; 1Kor 11:24,25). Kata-kata itu dipandang oleh Gereja dan para
teolog sebagai perintah Tuhan yang eksplisit tentang penetapan Perayaan
Ekaristi Gereja.
Perjamuan Terakhir yang dilakukan oleh Yesus, diadakan
dalam konteks perjamuan Paskah Yahudi. Dalam tradisi Paskah Yahudi, orang
yahudi juga meminum anggur dan makan roti serta daging kurban dengan tata
perayaan tertentu pula. Namun demikian tidak berarti apa yang dilakukan Yesus
sama dengan Paskah Yahudi. Yesus memberikan intrepetasi dan pemaknaan baru pada
unsur-unsur dalam Paskah Yahudi. Pertama,
Yesus dan murid-muridnya minum dari satu piala,
piala yang sama yang mana hal itu asing bagi tradisi Yahudi.
Kedua, Yesus memberikan kata-kata
interpretatif dalam perjamuan itu. Yang dimaksud kata-kata interpretatif adalah
mengenai apa yang dikurbankan yakni bukan korban sembelihan seperti tradisi
Yahudi tetapi tubuh dan darah-Nya sendiri.
Namun demikian, perjamuan terakhir bukan berarti sama
dengan Ekaristi. Mengapa tidak sama terlatak pada isi dan fungsi peryaan. Isi
perayaan Ekaristi adalah perayaan iman Gereja akan wafat dan kebangkitan Tuhan
Yesus Kristus, sedangkan perjamuan terakhir Yesus masih hidup, belum wafat,
apalagi bangkit. Dari segi fungsi, Ekaristi adalah untuk mengenangkan wafat dan
kebangkitan Kristus. Sedangkan perjamuan terakhir bukanlah pengenangan, tetapi
perpisahan Yesus dengan murid-muridnya dengan sekaligus memberikan perintah
pada murid2 untuk mengenangkan diri-Nya.
III. Unsur-unsur Perayaan
Liturgi Ekaristi
Berikut ini akan dijabarkan beberapa unsur pokok perayaan
Ekaristi yang perlu diperhatikan.
III.1. Makna Ekaristi sebagai
Perayaan
Ekaristi adalah suatu perayaan. Kata perayaan
diterjemahkan dari kata latin celebratio
dari kata kerja celebrare. Kata celebrare sendiri mempunyai banyak arti
seperti merayakan, meramaikan, memenuhi, menghadiri dalam jumlah
banyak,mengunjungi, memuji. Oleh karena itu dalam liturgi Ekaristi kata
perayaan mengandung tiga unsur pokok, yakni:
1.
Segi kebersamaan. Sebuah perayaan selalu merupakan kegiatan bersama-sama
atau sekurang-kurangnya melibatkan lebih dari satu orang. Maka dari itu,
ekaristi bukanlah perayaan perorangan tetapi banyak orang atau lebih tepatnya
perayaan Gereja! Dalam arti persekutuan pengikut Kristus. Ekaristi sebagai
sebuah perayaan pertama-tama adalah perayaan seluruh Tubuh Mistik Yesus Kristus
yakni Kepala dan para anggota-Nya.(SC 7) maka dari itu yang merayakan Ekaristi
itu adalah Kristus dan Gerejanya – Kristus dan kita. Itu juga berarti bahwa
dalam perayaan Ekaristi Kristus sungguh
– benar-benar hadir bersama dengan kita. Dengan kesadaran bahwa kita
merayakan Ekaristi bersama Kristus, maka bagaimana kita bersikap – bagaimana
kita menghadap – bagaimana kita merayakan sungguh menentukan relasi kita dengan
Kristus. (kalau sudah tahu Kristus hadir, terus malah main HP atau ngobrol, ya
terus njur piye?). lantas kalau ekaristi adalah perayaan Kristus dan seluruh
Gerejanya maka konsekuensinya Ekaristi tidak boleh dirayakan menurut selera
pribadi, entah si imam atau petugas liturgi lainnya. (Misal DSA diganti, menggunakan
lagu tidak sesuai dengan konteks, mengganti tata urutan liturgi ekaristi)
2.
Segi partisipatif. Sebuah perayaan selalu menunjuk makna keterlibatan atau
partisipasi (ingat salah satu arti celebrare: meramaikan). Maka dalam Ekaristi
menuntut partisipasi sadar dan aktif dari semua yang hadir. 1) Sadar
berarti menunjuk segi pemahaman tentang apa yang dibuatnya. Mengerti mengapa ia
membuat tanda salib, memahami bacaannya, tahu simbol-simbol dan arti tata gerak
selama Ekaristi. Singkatnya sadar berarti memahami seluruh makna perayaan
Ekaristi. Pertanyaannya apakah kita sudah sadar? Lantas, 2) aktif menunjukkan keterlibatan yang sepenuhnya dan
seutuhnya. Dalam Ekaristi umat bukanlah sekadar penonton. Umat adalah yang
merayakan misteri iman yang ikut serta secara penuh, khidmat, dan aktif (SC
48). Misal, mengikuti tata gerak, aktif bernyanyi, menjawab seruan, dll.
3.
Segi kontekstual. Sebuah perayaan selalu diselenggarakan menurut situasi
dan kondisi setempat. Dengan kata lain, unsur kebutuhan setempat, situasi, dan
tantangan zaman, unsur-unsur budaya lokal ikut mempengaruhi sebuah perayaan.
Ekaristi yang kita rayakan, bagaimanapun juga dirayakan menurut gaya dan model
penghayatan setempat. Mengenai hal ini kita mengenal istilah inkulturasi dalam
perayaan ekaristi. Namun agaknya pada sesi kali ini, mengenai inkulturasi
dalam Ekaristi akan dibicarakan lebih lanjut, mengingat kompleksitasnya. Yang
jelas gereja tidak melarang inkulturasi asalkan selaras dengan semangat liturgi
yang sejati dan asli (SC 37). Lantas, yang perlu diingat, alasan inkulturasi
atau segi kontekstual tidak lain adalah untuk menjawab kebutuhan dan kerinduan
aktual dan kontekstual dari umat beriman.
III. 2. Peran dan Tugas Imam dalam Ekaristi
Dalam perayaan
Ekaristi memiliki peran yang khas untuk membawakan ”Pribadi Kristus” atau
bertindak ”in persona Christi”
(PO 13) dan sekaligus sebagai saksi dan pelayan seluruh Gereja. Berikut
tugas-tugas seorang Imam sesuai dengan PUMR 2000. 1) memimpin perayaan Ekaristi
setiap hari (tidak hanya minggu) 2) dalam perayaan ekaristi imam bertugas
membawakan doa-doa presidensial yang mencakup: DSA, doa pembuka, doa persiapan
persembahan, dan doa sesudah komuni. 3) mendoakan doa2 pribadi dalam hati pada
bagian-bagian tertentu dalam Ekaristi.
III.4. Tata gerak dan sikap Tubuh dalam Ekaristi
Buku PUMR 2000
menyampaikan pedoman tata gerak dan sikap tubuh bagi para petugas liturgi dan
seluruh umat beriman. Seluruh tata gerak dam sikap tubuh dilaksanakan menurut 3
patokan. 1) memancarkan keindahan dan sekaligus kesederhanaan yang anggun dari
perayaan Ekaristi 2) mengungkapkan pemahaman yang tepat dan penuh atas aneka
bagian perayaannya 3) membuat jemaat bisa sungguh berpartisipasi secara aktif.
Tata gerak dan sikap yang serempak akan mengungkapkan segi kesatuan jemaat.
PUMR memberikan
ketentuan tata gerak dan sikap badan yang dianjurkan pada bagian per bagian
dalam perayaan Ekaristi. Namun demikian konferensi Uskup boleh mengadakan penyesuaian dengan ciri khas dan tradisi sehat
bangsa setempat. (misal saat konsekrasi kita menggunakan sikap menyembah dengan
tangan terkatup diangkat keatas, itu adalah tanda hormat kita pada yang
Mahatinggi, namun di Eropa tidak demikian justru orang eropa berdiri sambil
melihat hosti yang di konsekrir yang menurut adat kita tidak sopan).
III. 5. Makna Hening dan Makna Nyanyian
Bagian ini tidak
dijelaskan karena kiranya sudah cukup dimengerti. Untuk lebih jelasnya lihat E. Martasudjita. 2005. Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan
Pastoral. Yogyakarta:
Kanisius. Halaman 112-115.
IV. Tata Perayaan Ekaristi.
Jamak kita temui
umat yang menghadiri Misa pada saat komuni saja. Kasus lain, ada umat yang
buru-buru meninggalkan Gereja sebelum berkat-perutusan. Hal itu tidak akan
terjadi apabila kita mengetahui dan memahami struktur dan tata perayaan
Ekaristi.
Perayaan Ekaristi
terdiri atas dua bagian pokok, yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi.
Keduanya itu diapit oleh ritus pembuka diawal misa dan ritus penutup sebagai
bagian yang menutup. Keempat bagian itu bukanlah terpisah-pisah melainkan
berhubungan erat sehingga seluruhnya menjadi satu tindakan ibadat (SC 56).
Sehingga hendaknya dalam merayakan Ekaristi, kita mengikuti seluruh bagian
dalam Ekaristi. Melewatkan salah satu bagian, berarti melewatkan sebagian
misteri iman yang hendak kita rayakan. Seperti yang kita ketahui Perayaan
Ekaristi merupakan perayaan kehadiran Yesus Kristus dan seluruh karya
penebusan-Nya secara sakramental dalam persekutuan umat beriman. Yesus hadir
dalam semua bagian Ekaristi, bukan salah satu bagian saja.
Silahkan mencoba untuk mengingat kembali, isi dalam
masing-masing bagian yakni dalam ritus pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi
Ekaristi, dan ritus penutup.
V. Makna dasar Ekaristi dalam Konsili Vatikan II
Dalam dokumen
konsili Vatikan kedua terkandung refleksi dan ajaran mengenai pemahaman dan
penghayatan Ekaristi. Dalam kesempatan ini tidak semua ajaran mengenai Ekaristi
dijabarkan. Di sini hanya akan dijabarkan beberapa pokok pandangan mengenai
Ekaristi saja, yang sekiranya semakin membantu kita untuk menghayati makna
Ekaristi.
1) Ekaristi
sebagai perayaan Kenangan
Ekaristi adalah
perayaan kenangan atau dalam bahasa Yunani ”anamnesis”. Ekaristi bukanlah
perpanjangan dan repetisi dari peristiwa perjamuan Terakhir. Ekaristi haruslah
dimengerti dalam terminologi kenangan dalam tradisi Yahudi (zikkaron, anamnesis, memoria). Kata yang mengacu pada kenangan
dapat ditemukan dalam surat rasul Paulus dan Lukas: ”lakukankah ini sebagai
kenangan akan Aku”. Pengertian anamnesis
tidak dimengerti dalam pemahaman Yunani melainkan Yahudi.
Kenangan tidak hanya berarti mengingat kembali atau bernostalgia terhadap suatu
peristiwa. Dalam pemahaman Yahudi, kenangan dimengerti sebagai kehadiran nyata
suatu peristiwa melalui simbol. Dalam perayaan Paskah Yahudi, mereka
mengenangkan peristiwa keselamatan Allah pada jamannya Musa itu. Mengenangkan
berarti karya keselamatan dan segala peristiwanya dihadirkan kembali disini dan
saat ini pada perayaan paskah Ini. Demikian pula dengan Ekaristi, karya
keselamatan Yesus Kristus sungguh nyata,
kehadirannya sungguh nyata. Tentu
dengan memahami makna kenangan yang lebih mendasar itu kita pun semakin mampu
merayakan Ekaristi dengan lebih hikmat. Kita tidak sekadar mengenang, kita
benar2 sedang mengalami karya keselamatan.
2) Ekaristi
sebagai Syukur dan Kurban
Ekaristi mengandung
ucapan syukur (thanksgiving) atas
karya keselamatan yang dikenangkan. Dalam tradisi Yahudi pujian dan syukur (berakah) merupakan unsur kunci dalam
liturgi Paskah yahudi. Demikian pula dalam perjamuan terakhir, pujian (euloge) dan syukur (eucharist) adalah
unsur konstitutif dalam perayaan tersebut.
Keseluruhan upacara perjamuan terakhir dapat dideskripsikan sebagai suatu
syukur. Syukur atas karya keselamatan Allah. Oleh sebab itu, perjamuan terakhir
di karakteristikan sebagai kenangan di dalam pujian. Pujian adalah bentuk utama dari perayaan
Ekaristi.
Adapun syukur
senantiasa diasosiasikan dengan gagasan mengenai kurban. Perjanjian lama
berbicara mengenai todah dan hostia laudis yang berarti kurban pujian
dan kurban syukur. Terminologi
itu diadopsi dalam perjanjian baru dan menjadi sumber refleksi bapa-bapa gereja
mengenai hubungan syukur (eucharist)
dan kurban. Ekaristi tidak hanya merupakan wujud syukur, namun lebih daripada
itu dalam Ekaristi kurban salib dihadirkan secara nyata sebagai suatu sakramen
keselamatan Allah. Hal ini berbeda dengan apa yang dipahami jemaat reformasi.
Bagi mereka, Ekaristi berhenti pada karakteristik syukur atas penebusan dosa,
sedangkan karakter kurban diabaikan.
3)
Ekaristi sebagai Tanda Eskatologis.
Ekaristi adalah
tanda eskatologis yakni tanda kedatangan kerajaan Allah di dunia. Dalam Kis
2:46 jemaat perdana merayakan pemecahan roti dalam kegembiraan sebagai
antisipasi dari datangnya akhir zaman (eschaton).
Maka esensi dari Ekaristi adalah pesta dan perayaan yang didasari oleh
penantian kehidupan kekal. Dengan perayaan itu, terutama dalam liturgi suci,
kita dan Gereja “mencicipi” liturgi surgawi, yakni liturgi yang akan dirayakan
ketika karya penyelamatan Allah dalam Kristus secara sempurna diselesaikan pada
akhir zaman nanti.
4)
Ekaristi
sebagai komunio
Daya-guna Roh Kudus
dalam Ekaristi membawa jemaat pada persatuan di dalam dan dengan Yesus. Roh
Kudus menghendaki supaya karya Yesus Kristus secara universal dirasakan oleh
seluruh umat manusia dan dunia. Persatuan itu dipahami sebagai persatuan secara
pribadi dengan Kristus dan juga dengan Gereja. Oleh karena itu,
Ekaristi mengandung dua dimensi komunio yakni personal dan ekklesial.
Dikatakan personal karena dalam Ekaristi memungkinkan persatuan pribadi dengan
kristus. Dikatakan ekklesial karena Ekaristi tidak melulu soal relasi pribadi
dengan Kristus namun terlebih Gereja dengan Kristus. Persatuan (communio) personal dan ekklesial
merupakan tujuan dan kepenuhan dari perayaan Ekaristi.
Hubungan antara Gereja
dan Kristus ternyatakan dalam Kitab Suci khususnya dalam frase ”darah
perjanjian” (Mrk 14:22) atau ”penjanjian baru di dalam darah-Ku”. Menurut Kasper, dalam frase tersebut menyiratkan bahwa
Ekaristi merupakan tanda dari sebuah era penyelamatan yang baru. Kebaruan dalam
keselamatan itu tidak hanya mencakup relasi antara manusia dengan Allah, namun
juga antara manusia dengan sesamanya. Maka ketika ber-Ekaristi, Gereja
merupakan sebuah institusi keselamatan yang baru yakni yang mencakup relasi
manusia-Allah dan manusia-manusia.
Ekaristi sebagai communio mempunyai aspek etis. Dalam
Ekaristi setiap pribadi adalah sama yakni anggota Gereja. Ekaristi sebagai communio
mengandung suatu prinsip kesamaan diantara setiap anggota jemaat. Di dalamnya
tidak ada pembedaan kelas, ras, dan kekayaan. Ekaristi kehilangan maknanya
apabila terdapat pembedaan semacam itu. Ekaristi mengandaikan adanya kepenuhan keadilan sosial sebagai relasi dari
kasih Ilahi.
Penutup
Setidaknya kita
telah melihat beberapa poin mengenai ekaristi yakni: istilah, sejarah,
unsur-unsur pokok, dan makna teologis-sistematis namun yang pokok-pokok saja
yang dirasa sangat perlu untuk diketahui. Karena adanya pembatasan-pembatasan
dalam pokok bahasan, maka tentu saja tulisan ini belum mencakup seluruh
kekayaan makna Ekaristi. Pembacaan lebih lanjut sangat disarankan.