Berpikir-pikir mengenai Ekologi
Foto diatas adalah salah satu contoh
bencana Alam. Akhir-akhir ini di berbagai belahan dunia marak terjadi bencana
Alam. Banyak pihak yang mengaitkan hal itu dengan efek pemanasan global, namun
tidak sedikit pula yang menolak anggapan itu. Di tengah kontroversi, tidak bisa
dipungkiri bahwa bumi yang kita huni ini telah dieksploitasi secara
besar-besaran. Kita semua setuju bahwa hutan di Indonesia semakin sempit, air
bersih semakin sulit didapat, industri pertambangan mengubah gunung menjadi
cerukan. Eksploitasi bumi yang membabi buta itu tidak lain karena sikap
konsumtif dan pemujaan terhadap hal-hal material yang semakin menjadi-jadi.
To have or To be
Dulu populer kita dengar suatu
ungkapan dari seorang filsuf “saya berpikir, maka saya ada”. Jaman sekarang ungkapan
itu kalah popular dengan “saya membeli maka saya ada” atu “saya memiliki maka
saya eksis”. Gejala ini sadar atau tidak telah merasuki sendi-sendi kehidupan
kita. Coba saja perhatikan, di masyarakat kita orang dilihat bukan karena dia
siapa – pribadinya, namun apa yang dimiliki. Pak Surya itu yang punya kolam
renang di atap itu loh, atau pak Kamto itu yang punya villa di Maldive itu loh.
Kinipun Pak Setiadi dipandang bukan karena ke-imut-annya lagi, malahan mobil
Ferrarinya.
Errich Fromm, seorang filsuf dan
psikolog memberikan gambaran menarik mengenai mentalitas zaman modern – post
modern dalam bukunya “to have or to be” – memiliki atau menjadi. Menurutnya ada
dua modus eksistensi (cara beradanya manusia). Yakni modus memiliki dan modus
menjadi. Pada modus memiliki, manusia dengan pilihan-pilihannya digerakkan oleh
segala sesuatu oleh apa yang ada diluar dirinya. Apabila dilihat dengan seksama
orang dengan modus memiliki, sebenarnya ia yang dimiliki oleh hal2 material
diluarnya. Ia bukan yang mengkontrol, eh malah ia yang di control. sedangkan
modus menjadi, lebih bergerak ke dalam. Pilihan-pilihannya didasari oleh
keinginan kemenjadian sehingga bersifat internal. Sebagai contoh orang bekerja
sebagai petani. Petani modus memiliki, adalah petani yang bertani demi menumpuk
hasil tani sebanyak-banyaknya. Sedangkan petani modus menjadi, bekerja sebagai
karya dan tidak melulu mempertimbangkan hasil. Bahwa hasilnya banyak itu
bukanlah tujuan melainkan konsekuensi.
Kembali kepada soal membeli, apakah
memiliki itu salah? Jawabannya tidak. Hanya apabila membeli dan memiliki itu
tidak menjadi modus eksistensi yang dipilih. Sadar atau tidak kita hidup di era
kapitalisme. dalam kapitalisme logika yang dipakai adalah penumpukan modal.
Mereka yang memiliki modal banyak
adalah yang disebut sukses. Maka orang berlomba-lomba menumpuk harta kekayaan
demi menguasai modal. Agar modal bertambah maka yang dilakukan adalah konsumsi
sebanyak-banyaknya. Apabila kita mendengar istilah pertumbuhan ekonomi, maka
yang dimaksud menurut hemat saya adalah pertumbuhan konsumsi. Semakin konsumsi
meningkat, semakin bagus pertumbuhan ekonomi suatu Negara. Konsumsi meningkat,
berarti produksi meningkat. Produksi meningkat berarti sumber daya yang
dibutuhkan untuk memproduksi meningkat. Nah disini letak permasalahannya?
Sejauh mana sumber daya alam dan manusia mampu memenuhi kebutuhan produksi.
Sapi yang Menjerit
Ibarat sapi, bumi kini tengah
“menjerit” karena terus-menerus diperah. Perubahan iklim, global warming, dan
bencana alam yang semakin sering terjadi adalah “alarm” dari bumi. Alam memberi
sinyal bahwa pola konsumsi kapitalis yang demikian tidak dapat ia tanggung. Kerusakan
lingkungan yang semakin parah membuat kita diambang krisis ekologi. Meskipun
ada pihak yang tidak setuju bahwa saat ini kita dalam krisis ekologi, namun
logika kapitalis dan pola konsumsi yang demikian akan secara logis menempatkan
dunia dalam kehancuran. Apabila konsumsi sebagai ukuran kemajuan dan
keserakahan dan kepemilikan sebagai kesuksesan, segala yang ada dibumi akan
habis “dimakan” manusia. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? kepunahan. Lalu apa peran kita sebagai seorang katolik
untuk mengatasi atau paling tidak “mengerem” laju perusakan bumi itu? – To be Continued

Tidak ada komentar:
Posting Komentar