Rabu, 05 Agustus 2015

Berpikir-pikir mengenai Ekologi



Foto diatas adalah salah satu contoh bencana Alam. Akhir-akhir ini di berbagai belahan dunia marak terjadi bencana Alam. Banyak pihak yang mengaitkan hal itu dengan efek pemanasan global, namun tidak sedikit pula yang menolak anggapan itu. Di tengah kontroversi, tidak bisa dipungkiri bahwa bumi yang kita huni ini telah dieksploitasi secara besar-besaran. Kita semua setuju bahwa hutan di Indonesia semakin sempit, air bersih semakin sulit didapat, industri pertambangan mengubah gunung menjadi cerukan. Eksploitasi bumi yang membabi buta itu tidak lain karena sikap konsumtif dan pemujaan terhadap hal-hal material yang semakin menjadi-jadi.

To have or To be
Dulu populer kita dengar suatu ungkapan dari seorang filsuf “saya berpikir, maka saya ada”. Jaman sekarang ungkapan itu kalah popular dengan “saya membeli maka saya ada” atu “saya memiliki maka saya eksis”. Gejala ini sadar atau tidak telah merasuki sendi-sendi kehidupan kita. Coba saja perhatikan, di masyarakat kita orang dilihat bukan karena dia siapa – pribadinya, namun apa yang dimiliki. Pak Surya itu yang punya kolam renang di atap itu loh, atau pak Kamto itu yang punya villa di Maldive itu loh. Kinipun Pak Setiadi dipandang bukan karena ke-imut-annya lagi, malahan mobil Ferrarinya.
Errich Fromm, seorang filsuf dan psikolog memberikan gambaran menarik mengenai mentalitas zaman modern – post modern dalam bukunya “to have or to be” – memiliki atau menjadi. Menurutnya ada dua modus eksistensi (cara beradanya manusia). Yakni modus memiliki dan modus menjadi. Pada modus memiliki, manusia dengan pilihan-pilihannya digerakkan oleh segala sesuatu oleh apa yang ada diluar dirinya. Apabila dilihat dengan seksama orang dengan modus memiliki, sebenarnya ia yang dimiliki oleh hal2 material diluarnya. Ia bukan yang mengkontrol, eh malah ia yang di control. sedangkan modus menjadi, lebih bergerak ke dalam. Pilihan-pilihannya didasari oleh keinginan kemenjadian sehingga bersifat internal. Sebagai contoh orang bekerja sebagai petani. Petani modus memiliki, adalah petani yang bertani demi menumpuk hasil tani sebanyak-banyaknya. Sedangkan petani modus menjadi, bekerja sebagai karya dan tidak melulu mempertimbangkan hasil. Bahwa hasilnya banyak itu bukanlah tujuan melainkan konsekuensi.
Kembali kepada soal membeli, apakah memiliki itu salah? Jawabannya tidak. Hanya apabila membeli dan memiliki itu tidak menjadi modus eksistensi yang dipilih. Sadar atau tidak kita hidup di era kapitalisme. dalam kapitalisme logika yang dipakai adalah penumpukan modal. Mereka yang memiliki modal banyak adalah yang disebut sukses. Maka orang berlomba-lomba menumpuk harta kekayaan demi menguasai modal. Agar modal bertambah maka yang dilakukan adalah konsumsi sebanyak-banyaknya. Apabila kita mendengar istilah pertumbuhan ekonomi, maka yang dimaksud menurut hemat saya adalah pertumbuhan konsumsi. Semakin konsumsi meningkat, semakin bagus pertumbuhan ekonomi suatu Negara. Konsumsi meningkat, berarti produksi meningkat. Produksi meningkat berarti sumber daya yang dibutuhkan untuk memproduksi meningkat. Nah disini letak permasalahannya? Sejauh mana sumber daya alam dan manusia mampu memenuhi kebutuhan produksi.

Sapi yang Menjerit

Ibarat sapi, bumi kini tengah “menjerit” karena terus-menerus diperah. Perubahan iklim, global warming, dan bencana alam yang semakin sering terjadi adalah “alarm” dari bumi. Alam memberi sinyal bahwa pola konsumsi kapitalis yang demikian tidak dapat ia tanggung. Kerusakan lingkungan yang semakin parah membuat kita diambang krisis ekologi. Meskipun ada pihak yang tidak setuju bahwa saat ini kita dalam krisis ekologi, namun logika kapitalis dan pola konsumsi yang demikian akan secara logis menempatkan dunia dalam kehancuran. Apabila konsumsi sebagai ukuran kemajuan dan keserakahan dan kepemilikan sebagai kesuksesan, segala yang ada dibumi akan habis “dimakan” manusia. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? kepunahan. Lalu apa peran kita sebagai seorang katolik untuk mengatasi atau paling tidak “mengerem” laju perusakan bumi itu? – To be Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar