“Mati Kok di Salib”
Penyakit Jaman Ini
Menurut
salah satu situs di internet, ada 10 “pembunuh” paling mematikan di Indonesia.
Yang pertama adalah stroke, kedua penyakit jantung sistemik, urutan ketiga
disusul oleh penyakit TBC, sedangkan kecelakaan menempati urutan ke-9. Kita
semua tentu merindukan kematian secara wajar. Meninggal karena berumur tua,
dengan didampingi saudara-saudari yang terkasih. Namun demikian Justru hal itu
tidak terjadi pada Yesus. Yesus wafat dengan cara yang mengerikan yakni dengan
disalibkan. Pertanyaannya adalah kenapa Yesus harus mati di Salib, kenapa tidak
mati karena stroke saja atau mati karena sudah berumur tua?
Salib Bagi Orang Yahudi
Untuk
orang Yahudi salib adalah suatu batu sandungan (bdk 1 Kor: 22). Orang yang
disalib merupakan orang hina dan berdosa. Bagi mereka adalah tidak masuk akal
seseorang yang diberkati mati dengan cara yang hina seperti itu. Pandangan
orang-orang Yahudi tersebut dapat dimengerti. Apabila kita mengingat bagaimana
para Bapa bangsa Israel mati, sebut saja Abraham, Ishak, Yakub, Musa, dan
Yosua, mereka meninggal secara wajar. Mereka meninggal ketika berumur ratusan
tahun, ketika rambutnya memutih, dan ketika telah beranak-cucu. Singkatnya para
Bapa bangsa itu mati dengan tanda-tanda bahwa mereka diberkati Allah.
Gambaran
kematian orang yang diberkati Allah itu tentu kontras dengan kematian Yesus.
Yesus wafat sekitar umur 33 tahun pada saat masih ganteng-gantengnya - harta
tidak punya – tidak menikah - apalagi mempunyai anak cucu, dan yang paling tragis
ia mati di hukum mati dengan disalibkan. Oleh karenanya kata-kata Rasul Paulus “aku memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus
Kristus, yaitu Dia yang disalibkan…”(1 Kor 2:2) menjadi suatu hal yang kontradiktif bagi cara pikir
orang-orang Yahudi. Mungkin orang-orang Yahudi akan berkomentar “ orang yang
mati disalib kok diikuti”
Saudara
Muslim Memandang Salib
Saudara muslim menempatkan Yesus pada kedudukan
yang tinggi sebagai nabi dan rasul Allah. Setidaknya ada 40an ayat dalam
Al-quran yang berbicara mengenai Yesus dan satu surat tersendiri berbicara
mengenai Maria. Umat muslim mengakui bahwa Yesus dikandung tanpa persetubuhan
oleh perawan Maria. Umat muslim juga percaya bahwa Yesus melakukan berbagai
mujizat, menyembuhkan orang sakit, bahkan menghidupkan orang mati.
Namun dua hal yang tidak bisa saudara muslim
terima yakni 1) bahwa Yesus adalah Tuhan 2) bahwa Yesus mati di Salib. Dalam
kepercayaan saudara kita itu, Yesus memang seorang Nabi, tetapi bukan Tuhan.
Lantas, yang disalibkan bukanlah Yesus melainkan salah satu murid yang
menyerupai Yesus. Yesus sendiri selamat dari salib. Senada
dengan pandangan Yahudi, bagi mereka tidak masuk akal orang yang saleh, suci,
rasul Allah mati dengan cara yang hina.
Salib bagi “Kita”
Tentu
sedikit uraian diatas tidak bermaksud mempertentangkan Iman kita dengan Iman
orang Yahudi dan saudara muslim. Justru dengan mengetahui bagaimana orang
non-katolik memandang salib, kita sendiri berefleksi mengenai “apa artinya jika
Yesus Tuhan kita wafat di Kayu Salib”?
Jawabannya
adalah karena Kasih Allah yang tidak terbatas. Yesus sudi memilih jalan Salib
bagi keselamatan kita. Dengan demikian Yesus mau menanggung salib demi kasih-Nya
kepada manusia. Bukankah tiada
kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk
sahabat-sahabatnya? (bdk Yoh 15:13).
Maka jelas bagi saya/kita kenapa Yesus tidak
mati karena stroke. Jika mati karena stroke karya penebusan dosa tidak akan
terlaksana (bdk. Yes 52:13 – 53:12). Nubuat para Nabi tentang Mesias yang dihina,
menderita, dan sengsara tidak jadi
digenapi. Yesus tidak juga menghindari salib agar dapat hidup aman sentosa
hingga nantinya mati tua. Dengan wafatnya di kayu salib, ia mau menunjukkan
kepada kita Kasih ilahi. Kasih yang sudi mengorbankan dirinya demi
sahabat-sahabatnya. Kita sebagai murid-Nya dipanggil untuk melakukan hal yang
serupa.
“Saat sedang mengetik tulisan singkat ini saya
memandang sebuah salib. Salib pemberian teman-teman saya di seminari. Kalau
tidak salah saudara Joko yang membelikan untuk saya. Untungnya Joko tidak salah
pilih. Joko memilih salib yang ada corpus-nya.
Di salib itu tergantung Yesus. Yesus yang seolah-olah dengan suara lirih
berkata “ikutilah Aku, dan pikulah salibmu”.Saya yakin Diapun juga berkata demikian
kepada saudara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar