Selasa, 13 Oktober 2015

“Mati Kok di Salib”



Penyakit Jaman Ini
Menurut salah satu situs di internet, ada 10 “pembunuh” paling mematikan di Indonesia. Yang pertama adalah stroke, kedua penyakit jantung sistemik, urutan ketiga disusul oleh penyakit TBC, sedangkan kecelakaan menempati urutan ke-9. Kita semua tentu merindukan kematian secara wajar. Meninggal karena berumur tua, dengan didampingi saudara-saudari yang terkasih. Namun demikian Justru hal itu tidak terjadi pada Yesus. Yesus wafat dengan cara yang mengerikan yakni dengan disalibkan. Pertanyaannya adalah kenapa Yesus harus mati di Salib, kenapa tidak mati karena stroke saja atau mati karena sudah berumur tua?

Salib Bagi Orang Yahudi
Untuk orang Yahudi salib adalah suatu batu sandungan (bdk 1 Kor: 22). Orang yang disalib merupakan orang hina dan berdosa. Bagi mereka adalah tidak masuk akal seseorang yang diberkati mati dengan cara yang hina seperti itu. Pandangan orang-orang Yahudi tersebut dapat dimengerti. Apabila kita mengingat bagaimana para Bapa bangsa Israel mati, sebut saja Abraham, Ishak, Yakub, Musa, dan Yosua, mereka meninggal secara wajar. Mereka meninggal ketika berumur ratusan tahun, ketika rambutnya memutih, dan ketika telah beranak-cucu. Singkatnya para Bapa bangsa itu mati dengan tanda-tanda bahwa mereka diberkati Allah.
Gambaran kematian orang yang diberkati Allah itu tentu kontras dengan kematian Yesus. Yesus wafat sekitar umur 33 tahun pada saat masih ganteng-gantengnya - harta tidak punya – tidak menikah - apalagi mempunyai anak cucu, dan yang paling tragis ia mati di hukum mati dengan disalibkan. Oleh karenanya kata-kata Rasul Paulus “aku memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan…”(1 Kor 2:2) menjadi suatu hal yang kontradiktif bagi cara pikir orang-orang Yahudi. Mungkin orang-orang Yahudi akan berkomentar “ orang yang mati disalib kok diikuti”

Saudara Muslim Memandang Salib
Saudara muslim menempatkan Yesus pada kedudukan yang tinggi sebagai nabi dan rasul Allah. Setidaknya ada 40an ayat dalam Al-quran yang berbicara mengenai Yesus dan satu surat tersendiri berbicara mengenai Maria. Umat muslim mengakui bahwa Yesus dikandung tanpa persetubuhan oleh perawan Maria. Umat muslim juga percaya bahwa Yesus melakukan berbagai mujizat, menyembuhkan orang sakit, bahkan menghidupkan orang mati.
Namun dua hal yang tidak bisa saudara muslim terima yakni 1) bahwa Yesus adalah Tuhan 2) bahwa Yesus mati di Salib. Dalam kepercayaan saudara kita itu, Yesus memang seorang Nabi, tetapi bukan Tuhan. Lantas, yang disalibkan bukanlah Yesus melainkan salah satu murid yang menyerupai Yesus. Yesus sendiri selamat dari salib. Senada dengan pandangan Yahudi, bagi mereka tidak masuk akal orang yang saleh, suci, rasul Allah mati dengan cara yang hina.

Salib bagi “Kita”
Tentu sedikit uraian diatas tidak bermaksud mempertentangkan Iman kita dengan Iman orang Yahudi dan saudara muslim. Justru dengan mengetahui bagaimana orang non-katolik memandang salib, kita sendiri berefleksi mengenai “apa artinya jika Yesus Tuhan kita wafat di Kayu Salib”?
Jawabannya adalah karena Kasih Allah yang tidak terbatas. Yesus sudi memilih jalan Salib bagi keselamatan kita. Dengan demikian Yesus mau menanggung salib demi kasih-Nya kepada manusia. Bukankah tiada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya? (bdk Yoh 15:13).
Maka jelas bagi saya/kita kenapa Yesus tidak mati karena stroke. Jika mati karena stroke karya penebusan dosa tidak akan terlaksana (bdk. Yes 52:13 – 53:12). Nubuat para Nabi tentang Mesias yang dihina, menderita, dan sengsara  tidak jadi digenapi. Yesus tidak juga menghindari salib agar dapat hidup aman sentosa hingga nantinya mati tua. Dengan wafatnya di kayu salib, ia mau menunjukkan kepada kita Kasih ilahi. Kasih yang sudi mengorbankan dirinya demi sahabat-sahabatnya. Kita sebagai murid-Nya dipanggil untuk melakukan hal yang serupa.

“Saat sedang mengetik tulisan singkat ini saya memandang sebuah salib. Salib pemberian teman-teman saya di seminari. Kalau tidak salah saudara Joko yang membelikan untuk saya. Untungnya Joko tidak salah pilih. Joko memilih salib yang ada corpus-nya. Di salib itu tergantung Yesus. Yesus yang seolah-olah dengan suara lirih berkata “ikutilah Aku, dan pikulah salibmu”.Saya yakin Diapun juga berkata demikian kepada saudara. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar