Selasa, 13 Oktober 2015

Katekese Ekaristi
oleh: Fr. Surya-Nandi

Ekaristi merupakan sumber dan puncak kehidupan Gereja. Di dalam Ekaristi keseluruhan karya keselamatan Allah melalui peristiwa Yesus Kristus, yakni: kelahiran, karya, sengsara, wafat, dan kebangkitannya kita rayakan, syukuri, dan alami kembali. Kita patut bersyukur minimal setiap minggu (atau bahkan setiap hari) kita telah merayakan Ekaristi. Namun demikian pengetahuan dan pemahaman mengenai Ekaristi akan semakin membawa kita pada penghayatan Ekaristi yang “lebih” mendalam dan akhirnya semakin membawa pada relasi yang mesra dengan Allah Tritunggal.
Tulisan ini akan menyampaikan tiga hal, yakni: 1) Peristilahan dan sejarah singkat Ekaristi 2) Unsur-unsur perayaan Ekaristi 3) penjelasan singkat tentang tata perayaan Ekaristi 4) Ajaran Ekaristi dalam Konsili Vatikan II. Apabila diperhatikan poin-poin itu hanya menyangkut tinjauan historis-Liturgis. Dalam tulisan ini penulis tidak memberikan uraian refleksi teologi-sistematis mengenai Ekaristi. Namun demikian makna pokok Ekaristi dalam konsili Vatikan II kiranya sudah mencukupi untuk semakin mengerti dan menghayati ekaristi.
Untuk studi lebih lanjut, silahkan baca 1) E. Martasudjita. 2005. Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral.                 Yogyakarta: Kanisius. 2) Banawiratma, J.B. 1989. Babtis Krisma Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius. 3) Kasper, Walter. 1989. Theology & Church. New York Crossroad. 4) E. Martasudjita. 2003. Sakramen-sakramen Gereja : Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral. Yogyakarta: Kanisius.
II. Peristilahan dan Sejarah Singkat Ekaristi
II. 1. Peristilahan Perayaan Misteri Iman Kita
Seringkali kita bertanya-tanya kenapa ada yang menyebut Ekaristi dan Misa. Untuk memahaminya kita perlu mengetahui bahwa untuk apa yang kita sebut dengan Ekaristi ternyata terdapat berbagai macam istilah/sebutan. Dalam sejarah Liturgi Gereja, terdapat banyak istilah yang digunakan untuk menunjuk misteri iman yang agung itu.[1] Setidaknya kita dapat menyebutkan 6 (enam istilah) yang menunjuk pada misteri iman itu yakni: 1) Ekaristi 2) Misa 3) pemecahan roti 4) perjamuan Tuhan 5) Sacrificium (kurban) dan Oblatio (persembahan) 6) sinaksis ( sunaxiV ) yang berarti pertemuan jemaat.
Tentu kita tidak bisa membahas semua peristilahan itu, namun yang perlu dipahami bahwa masing-masing istilah itu memang terkandung pada perayaan misteri iman kita itu. Kita semua setuju bahwa Ekaristi adalah perjamuan, pemecahan roti, peristiwa kurban dan persembahan, serta sebuah pertemuan jemaat. Sedangkan untuk istilah ”misa” berasal dari bahasa latin ”missa”. Kata ”missa” biasa dikaitkan dengan pembubaran jemaat yang sering kita dengarkan ”ite missa est” atau ”pergilah kalian, kalian diutus”. Maka jika memakai kata misa, itu berarti terdapat penekanan pada segi perutusan. Singkatnya begini, ternyata apa yang kita sebut dengan Ekaristi memiliki makna yang begitu kaya, tidak ada satu istilah yang dapat merangkum secara penuh kekayaan misteri iman itu. Kita boleh menyebut perayaan misteri iman kita dengan sebutan Ekaristi ataupun misa, karena dalam dokumen-dokumen Gerejapun menggunakan kata misa.
II.2.  Ekaristi – Perjamuan Terakhir – dan Paskah Yahudi
Ekaristi yang kita rayakan tidak jatuh ”ujug-ujug” dari langit. Apa yang kita rayakan itu didasarkan oleh pengalaman Iman Gereja akan Tuhan Yesus Kristus yakni pada peristiwa perjamuan malam terakhir. Pada perjamuan malam terakhir secara eksplisit Yesus menetapkan suatu perayaan kenangan akan diri-Nya ”inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu, perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk 22:19; 1Kor 11:24,25).  Kata-kata itu dipandang oleh Gereja dan para teolog sebagai perintah Tuhan yang eksplisit tentang penetapan Perayaan Ekaristi Gereja.
Perjamuan Terakhir yang dilakukan oleh Yesus, diadakan dalam konteks perjamuan Paskah Yahudi. Dalam tradisi Paskah Yahudi, orang yahudi juga meminum anggur dan makan roti serta daging kurban dengan tata perayaan tertentu pula. Namun demikian tidak berarti apa yang dilakukan Yesus sama dengan Paskah Yahudi. Yesus memberikan intrepetasi dan pemaknaan baru pada unsur-unsur dalam Paskah Yahudi. Pertama, Yesus dan murid-muridnya minum dari satu piala,  piala yang sama yang mana hal itu asing bagi tradisi Yahudi[2]. Kedua, Yesus memberikan kata-kata interpretatif dalam perjamuan itu. Yang dimaksud kata-kata interpretatif adalah mengenai apa yang dikurbankan yakni bukan korban sembelihan seperti tradisi Yahudi tetapi tubuh dan darah-Nya sendiri.
Namun demikian, perjamuan terakhir bukan berarti sama dengan Ekaristi. Mengapa tidak sama terlatak pada isi dan fungsi peryaan. Isi perayaan Ekaristi adalah perayaan iman Gereja akan wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, sedangkan perjamuan terakhir Yesus masih hidup, belum wafat, apalagi bangkit. Dari segi fungsi, Ekaristi adalah untuk mengenangkan wafat dan kebangkitan Kristus. Sedangkan perjamuan terakhir bukanlah pengenangan, tetapi perpisahan Yesus dengan murid-muridnya dengan sekaligus memberikan perintah pada murid2 untuk mengenangkan diri-Nya.

III. Unsur-unsur Perayaan Liturgi Ekaristi
Berikut ini akan dijabarkan beberapa unsur pokok perayaan Ekaristi yang perlu diperhatikan.
III.1. Makna Ekaristi sebagai Perayaan
Ekaristi adalah suatu perayaan. Kata perayaan diterjemahkan dari kata latin celebratio dari kata kerja celebrare. Kata celebrare sendiri mempunyai banyak arti seperti merayakan, meramaikan, memenuhi, menghadiri dalam jumlah banyak,mengunjungi, memuji. Oleh karena itu dalam liturgi Ekaristi kata perayaan mengandung tiga unsur pokok, yakni:
1.      Segi kebersamaan. Sebuah perayaan selalu merupakan kegiatan bersama-sama atau sekurang-kurangnya melibatkan lebih dari satu orang. Maka dari itu, ekaristi bukanlah perayaan perorangan tetapi banyak orang atau lebih tepatnya perayaan Gereja! Dalam arti persekutuan pengikut Kristus. Ekaristi sebagai sebuah perayaan pertama-tama adalah perayaan seluruh Tubuh Mistik Yesus Kristus yakni Kepala dan para anggota-Nya.(SC 7) maka dari itu yang merayakan Ekaristi itu adalah Kristus dan Gerejanya – Kristus dan kita. Itu juga berarti bahwa dalam perayaan Ekaristi Kristus sungguh – benar-benar hadir bersama dengan kita. Dengan kesadaran bahwa kita merayakan Ekaristi bersama Kristus, maka bagaimana kita bersikap – bagaimana kita menghadap – bagaimana kita merayakan sungguh menentukan relasi kita dengan Kristus. (kalau sudah tahu Kristus hadir, terus malah main HP atau ngobrol, ya terus njur piye?). lantas kalau ekaristi adalah perayaan Kristus dan seluruh Gerejanya maka konsekuensinya Ekaristi tidak boleh dirayakan menurut selera pribadi, entah si imam atau petugas liturgi lainnya. (Misal DSA diganti, menggunakan lagu tidak sesuai dengan konteks, mengganti tata urutan liturgi ekaristi)
2.      Segi partisipatif. Sebuah perayaan selalu menunjuk makna keterlibatan atau partisipasi (ingat salah satu arti celebrare: meramaikan). Maka dalam Ekaristi menuntut partisipasi sadar dan aktif dari semua yang hadir. 1) Sadar berarti menunjuk segi pemahaman tentang apa yang dibuatnya. Mengerti mengapa ia membuat tanda salib, memahami bacaannya, tahu simbol-simbol dan arti tata gerak selama Ekaristi. Singkatnya sadar berarti memahami seluruh makna perayaan Ekaristi. Pertanyaannya apakah kita sudah sadar? Lantas, 2) aktif  menunjukkan keterlibatan yang sepenuhnya dan seutuhnya. Dalam Ekaristi umat bukanlah sekadar penonton. Umat adalah yang merayakan misteri iman yang ikut serta secara penuh, khidmat, dan aktif (SC 48). Misal, mengikuti tata gerak, aktif bernyanyi, menjawab seruan, dll.
3.      Segi kontekstual. Sebuah perayaan selalu diselenggarakan menurut situasi dan kondisi setempat. Dengan kata lain, unsur kebutuhan setempat, situasi, dan tantangan zaman, unsur-unsur budaya lokal ikut mempengaruhi sebuah perayaan. Ekaristi yang kita rayakan, bagaimanapun juga dirayakan menurut gaya dan model penghayatan setempat. Mengenai hal ini kita mengenal istilah inkulturasi dalam perayaan ekaristi. Namun agaknya pada sesi kali ini, mengenai inkulturasi[3] dalam Ekaristi akan dibicarakan lebih lanjut, mengingat kompleksitasnya. Yang jelas gereja tidak melarang inkulturasi asalkan selaras dengan semangat liturgi yang sejati dan asli (SC 37). Lantas, yang perlu diingat, alasan inkulturasi atau segi kontekstual tidak lain adalah untuk menjawab kebutuhan dan kerinduan aktual dan kontekstual dari umat beriman.
III. 2. Peran dan Tugas Imam dalam Ekaristi
Dalam perayaan Ekaristi memiliki peran yang khas untuk membawakan ”Pribadi Kristus” atau bertindak ”in persona Christi[4]” (PO 13) dan sekaligus sebagai saksi dan pelayan seluruh Gereja. Berikut tugas-tugas seorang Imam sesuai dengan PUMR 2000. 1) memimpin perayaan Ekaristi setiap hari (tidak hanya minggu) 2) dalam perayaan ekaristi imam bertugas membawakan doa-doa presidensial yang mencakup: DSA, doa pembuka, doa persiapan persembahan, dan doa sesudah komuni. 3) mendoakan doa2 pribadi dalam hati pada bagian-bagian tertentu dalam Ekaristi.
III.4. Tata gerak dan sikap Tubuh dalam Ekaristi
Buku PUMR 2000 menyampaikan pedoman tata gerak dan sikap tubuh bagi para petugas liturgi dan seluruh umat beriman. Seluruh tata gerak dam sikap tubuh dilaksanakan menurut 3 patokan. 1) memancarkan keindahan dan sekaligus kesederhanaan yang anggun dari perayaan Ekaristi 2) mengungkapkan pemahaman yang tepat dan penuh atas aneka bagian perayaannya 3) membuat jemaat bisa sungguh berpartisipasi secara aktif. Tata gerak dan sikap yang serempak akan mengungkapkan segi kesatuan jemaat.
PUMR memberikan ketentuan tata gerak dan sikap badan yang dianjurkan pada bagian per bagian dalam perayaan Ekaristi. Namun demikian konferensi Uskup boleh mengadakan penyesuaian dengan ciri khas dan tradisi sehat bangsa setempat. (misal saat konsekrasi kita menggunakan sikap menyembah dengan tangan terkatup diangkat keatas, itu adalah tanda hormat kita pada yang Mahatinggi, namun di Eropa tidak demikian justru orang eropa berdiri sambil melihat hosti yang di konsekrir yang menurut adat kita tidak sopan).
III. 5. Makna Hening dan Makna Nyanyian
Bagian ini tidak dijelaskan karena kiranya sudah cukup dimengerti. Untuk lebih jelasnya lihat E. Martasudjita. 2005. Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral.             Yogyakarta: Kanisius. Halaman 112-115.

IV. Tata Perayaan Ekaristi.
Jamak kita temui umat yang menghadiri Misa pada saat komuni saja. Kasus lain, ada umat yang buru-buru meninggalkan Gereja sebelum berkat-perutusan. Hal itu tidak akan terjadi apabila kita mengetahui dan memahami struktur dan tata perayaan Ekaristi.
Perayaan Ekaristi terdiri atas dua bagian pokok, yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Keduanya itu diapit oleh ritus pembuka diawal misa dan ritus penutup sebagai bagian yang menutup. Keempat bagian itu bukanlah terpisah-pisah melainkan berhubungan erat sehingga seluruhnya menjadi satu tindakan ibadat (SC 56). Sehingga hendaknya dalam merayakan Ekaristi, kita mengikuti seluruh bagian dalam Ekaristi. Melewatkan salah satu bagian, berarti melewatkan sebagian misteri iman yang hendak kita rayakan. Seperti yang kita ketahui Perayaan Ekaristi merupakan perayaan kehadiran Yesus Kristus dan seluruh karya penebusan-Nya secara sakramental dalam persekutuan umat beriman. Yesus hadir dalam semua bagian Ekaristi, bukan salah satu bagian saja.
Silahkan mencoba untuk mengingat kembali, isi dalam masing-masing bagian yakni dalam ritus pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi, dan ritus penutup.

V. Makna dasar Ekaristi dalam Konsili Vatikan II
Dalam dokumen konsili Vatikan kedua terkandung refleksi dan ajaran mengenai pemahaman dan penghayatan Ekaristi. Dalam kesempatan ini tidak semua ajaran mengenai Ekaristi dijabarkan. Di sini hanya akan dijabarkan beberapa pokok pandangan mengenai Ekaristi saja, yang sekiranya semakin membantu kita untuk menghayati makna Ekaristi.
1)      Ekaristi sebagai perayaan Kenangan
Ekaristi adalah perayaan kenangan atau dalam bahasa Yunani ”anamnesis”. Ekaristi bukanlah perpanjangan dan repetisi dari peristiwa perjamuan Terakhir. Ekaristi haruslah dimengerti dalam terminologi kenangan dalam tradisi Yahudi (zikkaron, anamnesis, memoria). Kata yang mengacu pada kenangan dapat ditemukan dalam surat rasul Paulus dan Lukas: ”lakukankah ini sebagai kenangan akan Aku”[5]. Pengertian anamnesis tidak dimengerti dalam pemahaman Yunani melainkan Yahudi[6]. Kenangan tidak hanya berarti mengingat kembali atau bernostalgia terhadap suatu peristiwa. Dalam pemahaman Yahudi, kenangan dimengerti sebagai kehadiran nyata suatu peristiwa melalui simbol. Dalam perayaan Paskah Yahudi, mereka mengenangkan peristiwa keselamatan Allah pada jamannya Musa itu. Mengenangkan berarti karya keselamatan dan segala peristiwanya dihadirkan kembali disini dan saat ini pada perayaan paskah Ini. Demikian pula dengan Ekaristi, karya keselamatan Yesus Kristus sungguh nyata, kehadirannya sungguh nyata. Tentu dengan memahami makna kenangan yang lebih mendasar itu kita pun semakin mampu merayakan Ekaristi dengan lebih hikmat. Kita tidak sekadar mengenang, kita benar2 sedang mengalami karya keselamatan.
2)      Ekaristi sebagai Syukur dan Kurban
Ekaristi mengandung ucapan syukur (thanksgiving) atas karya keselamatan yang dikenangkan. Dalam tradisi Yahudi pujian dan syukur (berakah) merupakan unsur kunci dalam liturgi Paskah yahudi. Demikian pula dalam perjamuan terakhir, pujian (euloge) dan syukur (eucharist) adalah unsur konstitutif dalam perayaan tersebut[7]. Keseluruhan upacara perjamuan terakhir dapat dideskripsikan sebagai suatu syukur. Syukur atas karya keselamatan Allah. Oleh sebab itu, perjamuan terakhir di karakteristikan sebagai kenangan di dalam pujian.  Pujian adalah bentuk utama dari perayaan Ekaristi.[8]
Adapun syukur senantiasa diasosiasikan dengan gagasan mengenai kurban. Perjanjian lama berbicara mengenai todah dan hostia laudis yang berarti kurban pujian dan kurban syukur. Terminologi itu diadopsi dalam perjanjian baru dan menjadi sumber refleksi bapa-bapa gereja mengenai hubungan syukur (eucharist) dan kurban. Ekaristi tidak hanya merupakan wujud syukur, namun lebih daripada itu dalam Ekaristi kurban salib dihadirkan secara nyata sebagai suatu sakramen keselamatan Allah. Hal ini berbeda dengan apa yang dipahami jemaat reformasi. Bagi mereka, Ekaristi berhenti pada karakteristik syukur atas penebusan dosa, sedangkan karakter kurban diabaikan.
3)       Ekaristi sebagai Tanda Eskatologis.
Ekaristi adalah tanda eskatologis yakni tanda kedatangan kerajaan Allah di dunia. Dalam Kis 2:46 jemaat perdana merayakan pemecahan roti dalam kegembiraan sebagai antisipasi dari datangnya akhir zaman (eschaton)[9]. Maka esensi dari Ekaristi adalah pesta dan perayaan yang didasari oleh penantian kehidupan kekal. Dengan perayaan itu, terutama dalam liturgi suci, kita dan Gereja “mencicipi” liturgi surgawi, yakni liturgi yang akan dirayakan ketika karya penyelamatan Allah dalam Kristus secara sempurna diselesaikan pada akhir zaman nanti[10].
4)      Ekaristi sebagai komunio
Daya-guna Roh Kudus dalam Ekaristi membawa jemaat pada persatuan di dalam dan dengan Yesus. Roh Kudus menghendaki supaya karya Yesus Kristus secara universal dirasakan oleh seluruh umat manusia dan dunia. Persatuan itu dipahami sebagai persatuan secara pribadi dengan Kristus dan juga dengan Gereja. Oleh karena itu,  Ekaristi mengandung dua dimensi komunio yakni personal dan ekklesial. Dikatakan personal karena dalam Ekaristi memungkinkan persatuan pribadi dengan kristus. Dikatakan ekklesial karena Ekaristi tidak melulu soal relasi pribadi dengan Kristus namun terlebih Gereja dengan Kristus. Persatuan (communio) personal dan ekklesial merupakan tujuan dan kepenuhan dari perayaan Ekaristi.
Hubungan antara Gereja dan Kristus ternyatakan dalam Kitab Suci khususnya dalam frase ”darah perjanjian” (Mrk 14:22) atau ”penjanjian baru di dalam darah-Ku”. Menurut Kasper, dalam frase tersebut menyiratkan bahwa Ekaristi merupakan tanda dari sebuah era penyelamatan yang baru. Kebaruan dalam keselamatan itu tidak hanya mencakup relasi antara manusia dengan Allah, namun juga antara manusia dengan sesamanya. Maka ketika ber-Ekaristi, Gereja merupakan sebuah institusi keselamatan yang baru yakni yang mencakup relasi manusia-Allah dan manusia-manusia. 
Ekaristi sebagai communio mempunyai aspek etis. Dalam Ekaristi setiap pribadi adalah sama yakni anggota Gereja. Ekaristi sebagai communio mengandung suatu prinsip kesamaan diantara setiap anggota jemaat. Di dalamnya tidak ada pembedaan kelas, ras, dan kekayaan. Ekaristi kehilangan maknanya apabila terdapat pembedaan semacam itu. Ekaristi mengandaikan adanya kepenuhan keadilan sosial sebagai relasi dari kasih Ilahi.[11]

Penutup
Setidaknya kita telah melihat beberapa poin mengenai ekaristi yakni: istilah, sejarah, unsur-unsur pokok, dan makna teologis-sistematis namun yang pokok-pokok saja yang dirasa sangat perlu untuk diketahui. Karena adanya pembatasan-pembatasan dalam pokok bahasan, maka tentu saja tulisan ini belum mencakup seluruh kekayaan makna Ekaristi. Pembacaan lebih lanjut sangat disarankan.






[1] Lih. Martasudjita, Ekaristi, hal. 27-33
[2] Dalam paskah Yahudi orang yahudi membawa pialanya sendiri-sendiri dan meminum anggur dari pialanya itu.
[3] Sejauh ini inkulturasi yang paling kentara adalah dalam segi bahasa. Kini dalam perayaan ekaristi digunakan bahasa setempat misalnya bahasa Indonesia, jawa, sunda dan tidak lagi harus menggunakan bahasa latin. Hal ini tentu dilakukan supaya untuk menjawab kebutuhan umat hyang rindu untuk berpartisipasi aktif dalam perayaan.
[4]“ In persona Christi” berarti imam menghadirkan Kristus melalui diri-Nya.
[5] Luk 22:19, 1 Cor 2: 2.4, 25).
[6] Walter Kasper, Theology, hal. 181.
[7] Bdk. Mrk 14:22 “Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu”
[8] Walter Kasper, Theology, hal. 184
[9] Walter Kasper, Theology, hal.192.
[10] Bdk. Martasudjita, Ekaristi, hal. 360.
[11] Walter Kasper, Theology, hal.191.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar