Pahlawan Gereja: Legio Maria
Fr. Surya Nandi
Coba Bandingkan
Coba bandingkan
dua foto diatas. Mungkin keduanya tampak tidak ada hubungannya. Namun coba
perhatikan lebih seksama lagi, ternyata keduanya memiliki kesamaan yakni
merupakan sekelompok “prajurit”. Apabila
foto yang pertama adalah pasukan suatu Negara tertentu, yang kedua adalah pasukan
Maria yang disebut sebagai Legio Maria. Dalam tulisan ini saya mau membagikan
kesan saya terhadap dua presidium Legio Mariae di Stefanus Cilandak.
Legio Maria
tentu tidak asing bagi kita, terlebih umat paroki Stefanus Cilandak. Dalam buku
pegangan dikatakan bahwa Legio Maria adalah perkumpulan umat Katolik yang
menggabungkan diri dalam suatu Pasukan untuk bertempur dalam perang abadi
antara Gereja melawan kekuatan jahat di dalam dunia. Dengan definisi itu, tidak
berarti bahwa yang bukan anggota legio tidak ikut “berperang”, hanya saja di
dalam legio sejauh yang saya lihat ibarat sebuah pasukan militer, mereka
bergerak sistematis, metodis, dan efektif untuk mengalahkan si Jahat.
Legio Maria juga
memiliki persenjataan. Namun, senjata para legioner (sebutan anggota legio)
bukan dari dunia ini. pakaiannya bukan baju loreng-loreng ala TNI,
senjatanyapun bukan cease, AK, apalagi
granat. Pakaian para anggota Legio ini adalah Iman yang selalu dikenakannya
setiap hari. Senjatanya adalah doa dengan peluru bunga-bunga rohani, mencakup
Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, Rosario, Ekaristi, dan doa-doa lainnya. Dengan
persenjataan itu setiap anggota dikuduskan dan nama Allah dimuliakan.
Per-juang-an
Sehubungan
dengan tema bulan ini tentang kepahlawanan: Perjuangan dan Kesetiaan, saya kira
Legio Maria sangat representatif untuk mewakilinya. Apa buktinya? Mari kita
“teropong” satu persatu.
Menurut KBBI “perjuangan”
berasal dari kata kerja “juang” atau “berjuang”. Berjuang berarti berusaha sekuat tenaga demi
mencapai sesuatu. Dengan demikian, perjuangan adalah sebuah usaha dengan sekuat
tenaga, yang biasanya juga banyak kesukaran, untuk mencapai sesuatu.
Saya kira dalam kehidupan
sehari-hari, kita sering memakai kata berjuang, misal ada ungkapan “hidup
adalah perjuangan”, “besok mau ujian, saya harus berjuang”, atau “gue akan
berjuang, untuk mendapatkan cintamu”. Artinya, dalam setiap perjuangan pasti
memiliki tujuan. Legio Maria-pun menggunakan kata itu, “saya akan berjuang
melaksanakan tugas agar nama Allah dimuliakan”. Tujuan Legio Maria tidak lain
adalah Kemuliaan Allah, dan seluruh perjuangannya diarahkan kesana.
Wujud perjuangan
Legio Maria ditunjukkannya dengan usaha dan karyanya. Saya yakin mereka
(legioner di paroki Stefanus) sudah berdoa ribuan bahkan puluhan ribu kali bagi
mereka yang sakit, para imam dan calon imam, keluarga yang mengalami masalah,
yang kesepian, yang merindukan buah hati, yang berharap mendapat jodoh, dsb. Para
anggota legioner memang diutus untuk berdoa, bermatiraga, berdevosi, dan
melaksanakan karya pelayanan kepada sesama. Karya pelayanan bisa diejawantahkan
dengan mengunjungi orang sakit, panti
asuhan, panti jompo, dan ikut ambil bagian dalam karya pastoral Romo.
Ke-setia-an
Kini teropong
kita arahkan kepada Kesetiaan. Setia berarti berpegang teguh dan taat pada tugas
,janji, atau prinsip. Misal “aku setia pada janji perkawinanku” berarti taat
dan teguh pada segala hal yang tertera dalam perjanjian perkawinan itu. Begitu
pula dalam Legio, usaha sekuat tenaga tidak akan berbuah apabila hanya
dilaksanakan sesekali saja atau “bolong-bolong”. Seperti juga seorang mahasiswa
akan sulit mendapatkan nilai bagus apabila belajar dengan “SKS” alias Kebut
Semalam. Demi memuliakan Tuhan, kesetiaan adalah keutamaan yang wajib dimiliki
oleh para Legioner. Pada prinsipnya, segala karya yang ada di Paroki bisa
diikuti oleh anggota Legio, dengan membawa serta semangat Juang seorang Legioner.
Para legioner dituntut setia menghadiri rapat,
setia menjalankan tugas yang diberikan, dan konsekuen dengan tugas tambahan
yang dipilihnya. Misal minggu ini saya mau berdoa secara khusus untuk ibu dan
bapak saya, atau menjalankan tugas. Usaha-usaha yang sepertinya sepele semacam
itu apabila dilaksanakan dengan penuh perjuangan dan kesetiaan saya yakin pasti
membuahkan hasil yang besar.
Pahlawan-pahlawan Muda
Dengan semakin
besarnya “kuasa kegelapan” di jaman sekarang, dibutuhkan semakin banyak orang
yang mau berperang secara sungguh melawannya. Legio Maria adalah salah satu
jawabannya. Paroki Cilandak memiliki tiga presidium Legio Maria, Yakni:
Presidium Ratu Para Saksi Iman, Ratu Pencinta Damai, dan Bunga Mawar Gaib. Dengan
tantangan di jaman sekarang tentu tiga presidium itu tidaklah cukup. Terlebih
tantangan yang merebak di kalangan anak muda, seperti: Narkoba, pornografi,
individualisme, dan Iman. Khusus pada poin iman, orang muda adalah generasi
penentu keberlangsungan Gereja. Jangan sampai 20 tahun yang akan datang Gereja
Cilandak di alih fungsi menjadi tempat fitness seperti yang terjadi di
Gerejanya Romo van Ooij, SCJ.
Nah… yang mampu
menjawab tantangan orang muda adalah orang muda itu sendiri. Pihak dari luar
mungkin bisa saja melakukan segala daya upaya, namun “kartu As”-nya ada di
tangan orang muda. Khususnya dalam Legio Maria, dibutuhkan legioner2 junior
yang nantinya menggantikan para legioner veteran itu. Gereja membutuhkan
pahlawan-pahlawan muda yang memiliki semangat juang dan kesetian. Selamat
berjuang…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar