Selasa, 13 Oktober 2015

Pahlawan Gereja: Legio Maria
Fr. Surya Nandi



Coba Bandingkan
Coba bandingkan dua foto diatas. Mungkin keduanya tampak tidak ada hubungannya. Namun coba perhatikan lebih seksama lagi, ternyata keduanya memiliki kesamaan yakni merupakan  sekelompok “prajurit”. Apabila foto yang pertama adalah pasukan suatu Negara tertentu, yang kedua adalah pasukan Maria yang disebut sebagai Legio Maria. Dalam tulisan ini saya mau membagikan kesan saya terhadap dua presidium Legio Mariae di Stefanus Cilandak.
Legio Maria tentu tidak asing bagi kita, terlebih umat paroki Stefanus Cilandak. Dalam buku pegangan dikatakan bahwa Legio Maria adalah perkumpulan umat Katolik yang menggabungkan diri dalam suatu Pasukan untuk bertempur dalam perang abadi antara Gereja melawan kekuatan jahat di dalam dunia. Dengan definisi itu, tidak berarti bahwa yang bukan anggota legio tidak ikut “berperang”, hanya saja di dalam legio sejauh yang saya lihat ibarat sebuah pasukan militer, mereka bergerak sistematis, metodis, dan efektif untuk mengalahkan si Jahat.
Legio Maria juga memiliki persenjataan. Namun, senjata para legioner (sebutan anggota legio) bukan dari dunia ini. pakaiannya bukan baju loreng-loreng ala TNI, senjatanyapun bukan cease, AK, apalagi granat. Pakaian para anggota Legio ini adalah Iman yang selalu dikenakannya setiap hari. Senjatanya adalah doa dengan peluru bunga-bunga rohani, mencakup Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, Rosario, Ekaristi, dan doa-doa lainnya. Dengan persenjataan itu setiap anggota dikuduskan dan nama Allah dimuliakan.
Per-juang-an
Sehubungan dengan tema bulan ini tentang kepahlawanan: Perjuangan dan Kesetiaan, saya kira Legio Maria sangat representatif untuk mewakilinya. Apa buktinya? Mari kita “teropong” satu persatu.
Menurut KBBI “perjuangan” berasal dari kata kerja “juang” atau “berjuang”.  Berjuang berarti berusaha sekuat tenaga demi mencapai sesuatu. Dengan demikian, perjuangan adalah sebuah usaha dengan sekuat tenaga, yang biasanya juga banyak kesukaran, untuk mencapai sesuatu.
Saya kira dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memakai kata berjuang, misal ada ungkapan “hidup adalah perjuangan”, “besok mau ujian, saya harus berjuang”, atau “gue akan berjuang, untuk mendapatkan cintamu”. Artinya, dalam setiap perjuangan pasti memiliki tujuan. Legio Maria-pun menggunakan kata itu, “saya akan berjuang melaksanakan tugas agar nama Allah dimuliakan”. Tujuan Legio Maria tidak lain adalah Kemuliaan Allah, dan seluruh perjuangannya diarahkan kesana.
Wujud perjuangan Legio Maria ditunjukkannya dengan usaha dan karyanya. Saya yakin mereka (legioner di paroki Stefanus) sudah berdoa ribuan bahkan puluhan ribu kali bagi mereka yang sakit, para imam dan calon imam, keluarga yang mengalami masalah, yang kesepian, yang merindukan buah hati, yang berharap mendapat jodoh, dsb. Para anggota legioner memang diutus untuk berdoa, bermatiraga, berdevosi, dan melaksanakan karya pelayanan kepada sesama. Karya pelayanan bisa diejawantahkan dengan  mengunjungi orang sakit, panti asuhan, panti jompo, dan ikut ambil bagian dalam karya pastoral Romo.
Ke-setia-an
Kini teropong kita arahkan kepada Kesetiaan. Setia berarti berpegang teguh dan taat pada tugas ,janji, atau prinsip. Misal “aku setia pada janji perkawinanku” berarti taat dan teguh pada segala hal yang tertera dalam perjanjian perkawinan itu. Begitu pula dalam Legio, usaha sekuat tenaga tidak akan berbuah apabila hanya dilaksanakan sesekali saja atau “bolong-bolong”. Seperti juga seorang mahasiswa akan sulit mendapatkan nilai bagus apabila belajar dengan “SKS” alias Kebut Semalam. Demi memuliakan Tuhan, kesetiaan adalah keutamaan yang wajib dimiliki oleh para Legioner. Pada prinsipnya, segala karya yang ada di Paroki bisa diikuti oleh anggota Legio, dengan membawa serta semangat Juang seorang Legioner.
 Para legioner dituntut setia menghadiri rapat, setia menjalankan tugas yang diberikan, dan konsekuen dengan tugas tambahan yang dipilihnya. Misal minggu ini saya mau berdoa secara khusus untuk ibu dan bapak saya, atau menjalankan tugas. Usaha-usaha yang sepertinya sepele semacam itu apabila dilaksanakan dengan penuh perjuangan dan kesetiaan saya yakin pasti membuahkan hasil yang besar.
Pahlawan-pahlawan Muda
Dengan semakin besarnya “kuasa kegelapan” di jaman sekarang, dibutuhkan semakin banyak orang yang mau berperang secara sungguh melawannya. Legio Maria adalah salah satu jawabannya. Paroki Cilandak memiliki tiga presidium Legio Maria, Yakni: Presidium Ratu Para Saksi Iman, Ratu Pencinta Damai, dan Bunga Mawar Gaib. Dengan tantangan di jaman sekarang tentu tiga presidium itu tidaklah cukup. Terlebih tantangan yang merebak di kalangan anak muda, seperti: Narkoba, pornografi, individualisme, dan Iman. Khusus pada poin iman, orang muda adalah generasi penentu keberlangsungan Gereja. Jangan sampai 20 tahun yang akan datang Gereja Cilandak di alih fungsi menjadi tempat fitness seperti yang terjadi di Gerejanya Romo van Ooij, SCJ.
Nah… yang mampu menjawab tantangan orang muda adalah orang muda itu sendiri. Pihak dari luar mungkin bisa saja melakukan segala daya upaya, namun “kartu As”-nya ada di tangan orang muda. Khususnya dalam Legio Maria, dibutuhkan legioner2 junior yang nantinya menggantikan para legioner veteran itu. Gereja membutuhkan pahlawan-pahlawan muda yang memiliki semangat juang dan kesetian. Selamat berjuang…



Tidak ada komentar:

Posting Komentar