“Untuk apa Sekolah”
Menyoal kepentingan sekolah sekarang?
Kini semua
orang memiliki kesempatan yang sama untuk bersekolah. Kebanyakan orang ingin
memperoleh pendidikan setinggi mungkin. Terdapat berbagai alasan mengapa kita
ingin memiliki pendidikan yang tinggi. Dengan pendidikan tinggi mungkin kita
berharap kelak dapat pekerjaan bagus dengan penghasilan tinggi. Namun ada pula
yang sekolah karena memang tuntutan dari instansi yang mana seseorang terikat.
Misalnya saja seorang calon imam minimal harus berijazah S2 theologi. Selain
itu ada juga yang bersekolah demi ijazah – demi gengsi atau prestise. Apakah
tujuan pendidikan hanya sebatas hal itu?
Pendidikan Klasik
Penekanan
pendidikan ternyata berubah sesuai dengan konteks jaman. Namun menarik untuk
melihat kembali konsep pendidikan di jaman Yunani dan Romawi klasik. Pada jaman
itu pendidikan merupakan sarana pembentukan manusia yang utuh.
Jaman Yunani Kuno, pendidikan disebut paideia (paideia) dari akar kata pais (pais) yang harafiahnya berarti
pengasuhan anak. Seorang anak dididik oleh pengasuh yang disebut paidagogos. Melalui Paideia yang berupa pengetahuan filsafat, kesenian, dan olahraga,
manusia Yunani mendewasakan dan mengembangkan dirinya.
Mungkin
apabila diperbandingkan, murid Yunani akan sangat kontras dengan murid jaman
sekarang yang sebagian tampak berbeban berat ketika hendak bersekolah. Di dalam
budaya yunani kegiatan intelektual dilaksanakan demi kesukaan berpikir. Sekolah
bagi mereka adalah peluang santai untuk mengembangkan diri, mencari
kebijaksanaan dalam hidup.
Kata
“sekolah” sendiri berasal dari kata yunani skhole
dan romawi schola yang berarti waktu
senggang. Orang bersekolah karena memang memiliki waktu untuk itu. Biasanya
orang yang bersekolah adalah para bangsawan. Kebanyakan dari mereka tidak
bekerja. Segala macam pekerjaan sudah diurus oleh budak-budaknya. Banyaknya
waktu senggang memungkinkan para bangsawan untuk belajar segala macam hal. Bersekolah
merupakan kesempatan yang menyenangkan, bukan suatu paksaan apalagi demi
mendapatkan pekerjaan.
Hakikat Pendidikan.
Berkaca
dari pendidikan ala Yunani dan Romawi klasik, diperoleh kata kunci yakni
pengembangan diri. Dengan bersekolah manusia hendak mengembangkan dirinya
menjadi manusia yang utuh dalam segala dimensinya. Sebagaimana yang tertuang
dalam UU no. 20 tahun 2003, bab II ps. 3 yang hendak mengembangkan peserta
didik menjadi manusia yang beriman, barakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggungjawab.
Driyarkara
seorang filsuf dan tokoh pendidikan Indonesia, memberikan istilah hominisasi dan humanisasi. Menurut beliau
pendidikan bertujuan memanusiakan manusia – yakni manusia yang bertumbuh baik dalam
keseluruhan jiwa dan badannya. Dengan demikian UU tentang pendidikan dan pengertian
pendidikan menurut Driyarkara memiliki tujuan yang sama yakni pembentukan
manusia.
Berkaca
dari hakikat tujuan pendidikan yang ternyata lebih kepada pembentukan manusia,
rasanya kita perlu melihat kembali motivasi kita dalam mengikuti maupun
menyelenggarakan pendidikan. Dewasa ini memang banyak dari peserta didik yang
memandang bahwa pendidikan yang sedang dienyam saat ini semata-mata demi
mendapat pekerjaan atau persiapan sebelum bekerja. Bersekolah agar dapat
pekerjaan bukanlah salah hanya saja kurang lengkap. Sebagai peserta didik perlu
menyadari bahwasanya ketika bersekolah pertama-tama
mereka sedang mengembangkan dirinya. Peserta diharapkan untuk tidak mudah
merasa puas dengan kecakapan, ketrampilan, pengetahuan yang didapatkan di
bangku sekolah atau universitas, melainkan terus menerus belajar demi menjadi
pribadi yang utuh.
Di lain
pihak, tujuan pendidikan sebagai pemanusiaan manusia – pembentukan manusia yang
utuh harus menjadi perhatian bagi penyelenggara pendidikan. Apabila tidak
hati-hati penyelenggara pendidikan formal hanya berfungsi untuk mencetak
pekerja-pekerja bukan untuk membentuk “manusia”. Pendidikan jangan sampai hanya
sekadar berorientasi pasar.
Gereja Agen Pendidikan
Tentunya
pendidikan formal tidak mampu menjangkau segala aspek pemanusiaan manusia. Selain
sekolah formal keluarga sebagai Gereja-gereja kecil merupakan agen pendidik - tempat
bersekolah – tempat seseorang bertumbuh menjadi pribadi yang utuh. Sumbangan terbesar
yang bisa diberikan keluarga adalah dalam hal iman dan moral. Maka adalah penting bagi orang tua untuk mengajarkan anaknya nilai-nilai moral kristiani dan iman akan Yesus Kristus.
Disarikan
dari Sudiarja, A. 2014. Pendidikan Dalam
Tantangan Zaman. Kanisius: Yogyakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar