Kamis, 15 Oktober 2015

“Untuk apa Sekolah”



Menyoal kepentingan sekolah sekarang?
Kini semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk bersekolah. Kebanyakan orang ingin memperoleh pendidikan setinggi mungkin. Terdapat berbagai alasan mengapa kita ingin memiliki pendidikan yang tinggi. Dengan pendidikan tinggi mungkin kita berharap kelak dapat pekerjaan bagus dengan penghasilan tinggi. Namun ada pula yang sekolah karena memang tuntutan dari instansi yang mana seseorang terikat. Misalnya saja seorang calon imam minimal harus berijazah S2 theologi. Selain itu ada juga yang bersekolah demi ijazah – demi gengsi atau prestise. Apakah tujuan pendidikan hanya sebatas hal itu?

Pendidikan Klasik
Penekanan pendidikan ternyata berubah sesuai dengan konteks jaman. Namun menarik untuk melihat kembali konsep pendidikan di jaman Yunani dan Romawi klasik. Pada jaman itu pendidikan merupakan sarana pembentukan manusia yang utuh.
 Jaman Yunani Kuno, pendidikan disebut paideia (paideia) dari akar kata pais (pais) yang harafiahnya berarti pengasuhan anak. Seorang anak dididik oleh pengasuh yang disebut paidagogos. Melalui Paideia yang berupa pengetahuan filsafat, kesenian, dan olahraga, manusia Yunani mendewasakan dan mengembangkan dirinya.
Mungkin apabila diperbandingkan, murid Yunani akan sangat kontras dengan murid jaman sekarang yang sebagian tampak berbeban berat ketika hendak bersekolah. Di dalam budaya yunani kegiatan intelektual dilaksanakan demi kesukaan berpikir. Sekolah bagi mereka adalah peluang santai untuk mengembangkan diri, mencari kebijaksanaan dalam hidup.
Kata “sekolah” sendiri berasal dari kata yunani skhole dan romawi schola yang berarti waktu senggang. Orang bersekolah karena memang memiliki waktu untuk itu. Biasanya orang yang bersekolah adalah para bangsawan. Kebanyakan dari mereka tidak bekerja. Segala macam pekerjaan sudah diurus oleh budak-budaknya. Banyaknya waktu senggang memungkinkan para bangsawan untuk belajar segala macam hal. Bersekolah merupakan kesempatan yang menyenangkan, bukan suatu paksaan apalagi demi mendapatkan pekerjaan.

Hakikat Pendidikan.
Berkaca dari pendidikan ala Yunani dan Romawi klasik, diperoleh kata kunci yakni pengembangan diri. Dengan bersekolah manusia hendak mengembangkan dirinya menjadi manusia yang utuh dalam segala dimensinya. Sebagaimana yang tertuang dalam UU no. 20 tahun 2003, bab II ps. 3 yang hendak mengembangkan peserta didik menjadi manusia yang beriman, barakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Driyarkara seorang filsuf dan tokoh pendidikan Indonesia, memberikan istilah hominisasi dan humanisasi. Menurut beliau pendidikan bertujuan memanusiakan manusia – yakni manusia yang bertumbuh baik dalam keseluruhan jiwa dan badannya. Dengan demikian UU tentang pendidikan dan pengertian pendidikan menurut Driyarkara memiliki tujuan yang sama yakni pembentukan manusia.

Berkaca dari hakikat tujuan pendidikan yang ternyata lebih kepada pembentukan manusia, rasanya kita perlu melihat kembali motivasi kita dalam mengikuti maupun menyelenggarakan pendidikan. Dewasa ini memang banyak dari peserta didik yang memandang bahwa pendidikan yang sedang dienyam saat ini semata-mata demi mendapat pekerjaan atau persiapan sebelum bekerja. Bersekolah agar dapat pekerjaan bukanlah salah hanya saja kurang lengkap. Sebagai peserta didik perlu menyadari  bahwasanya ketika bersekolah pertama-tama mereka sedang mengembangkan dirinya. Peserta diharapkan untuk tidak mudah merasa puas dengan kecakapan, ketrampilan, pengetahuan yang didapatkan di bangku sekolah atau universitas, melainkan terus menerus belajar demi menjadi pribadi yang utuh.
Di lain pihak, tujuan pendidikan sebagai pemanusiaan manusia – pembentukan manusia yang utuh harus menjadi perhatian bagi penyelenggara pendidikan. Apabila tidak hati-hati penyelenggara pendidikan formal hanya berfungsi untuk mencetak pekerja-pekerja bukan untuk membentuk “manusia”. Pendidikan jangan sampai hanya sekadar berorientasi pasar.

Gereja Agen Pendidikan
Tentunya pendidikan formal tidak mampu menjangkau segala aspek pemanusiaan manusia. Selain sekolah formal keluarga sebagai Gereja-gereja kecil merupakan agen pendidik - tempat bersekolah – tempat seseorang bertumbuh menjadi pribadi yang utuh. Sumbangan terbesar yang bisa diberikan keluarga adalah dalam hal iman dan moral. Maka adalah penting bagi orang tua untuk mengajarkan anaknya nilai-nilai moral kristiani dan iman akan Yesus Kristus.

Disarikan dari Sudiarja, A. 2014. Pendidikan Dalam Tantangan Zaman. Kanisius: Yogyakarta. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar