Selasa, 14 April 2015


Manusia Menurut Viktor Frankl


Buku Man’s Search for Meaning merupakan kisah hidup Viktor Frankl selama menjalani masa tahanan di kamp konsentrasi Nazi selama tiga tahun. Selama di kamp konsentrasi tersebut, Frankl melihat, merasakan, dan mengalami penderitaan akibat kekejaman Nazi, misalnya; pembunuhan massal, kerja paksa, perlakuan tidak manusiawi, dsb. Melalui pengalaman tersebut, Ia memperoleh cakrawala yang lebih luas mengenai apakah dan siapakah manusia. Dengan latarbelakang psikologi, Viktor Frankl kemudian mengembangkan logoterapy[1] untuk menyembuhkan noogenic neurosis[2] yang didukung pandangannya mengenai manusia. Paper ini hendak menunjukkan pandangan mengenai manusia menurut Viktor Frankl berdasarkan buku Man Search For Meaning. Ia memandang bahwa manusia adalah mahkluk yang mencari dan dipengaruhi oleh makna hidupnya..
Frankl berseberangan dengan Sigmund Freud yang memandang tingkah laku manusia merupakan perwujudan alam bawah sadar yang berakar pada hasrat sexual. Ia tidak menemukan dorongan sexual sebagai penentu tingkah laku seseorang selama di kamp konsentrasi, “Undernourisment, besides being the cause of the general preoccupation with food, probably also explain that sexual urge was absent.”[3] Akan tetapi, tingkah laku manusia berakar pada apa arti hidup bagi seseorang dan tujuan hidupnya.
Manusia merupakan makhluk yang mencari makna hidup. “man search for meaning is the pyrimary motivation in his life and not a secondary rationalization or instinctual drives.”[4] Ia  mempunyai kehendak untuk memberi arti dan alasan hidupnya. Arti hidup (the meaning of life) bersifat unik dan spesifik dan hanya dapat dipenuhi oleh setiap individu itu sendiri. Dengannya ia bereksistensi. Ketika kehendak untuk memaknai hidup bermasalah, ia akan mengalami noogenic neurosis dan untuk mengatasinya individu diarahkan untuk mereorientasikan makna hidupnya. Dengan demikian arti hidup adalah hal sentral bagi manusia. Tujuan dan arti hidup tidak hanya mempengaruhi mental tetapi juga fisik manusia. Tahanan yang mempunyai tujuan dan kehendak hidup, secara fisik lebih kuat dari pada mereka yang tidak.
Manusia merupakan mahkluk yang bebas. “The experience of camp life show that man does have a choice  of action.”[5] “ everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedoms…”[6]. Di dalam kamp konsentrasi, cara hidup tahanan ditentukan oleh aturan dengan berbagai macam kebiadabannya. Frankl mendapatkan kesan bahwa,  manusia merupakan mahkluk yang tidak bisa menghindar dari pengaruh lingkungannya. Seolah-olah mereka tidak memiliki pilihan atas hidupnya. Akan tetapi, manusia senantiasa memiliki pilihan. Dengan demikian ia mempunyai kebebasan dalam dirinya (inner freedom).
Manusia memiliki afektivitas yakni kemampuan untuk mencintai. Mencintai tidak terbatas pada aktivitas sexual, seperti halnya pada binatang, sex merupakan ekspresi dari cinta. Dengan mencintai manusia menjadi lebih sadar terhadap manusia lain dan dirinya sendiri. Dengan sadar akan potensi manusia lain, ia juga menjadi tahu potensinya. Pengalaman mencintai merupakan salah satu cara untuk menemukan arti hidup.
Manusia memiliki kemampuan untuk memaknai penderitaan. Ia mempunyai potensi untuk mengubah tragedy menjadi keberhasilan dan kesulitan atau penderitaan menjadi tujuan manusia.”I only insist that meaning is possible even in spite of suffering…”[7] Misalnya; Ketika Yesus dianiaya dan disalibkan, Ia memaknainya bukan sebagai penderitaan tetapi sebagai wujud cinta dan pengorbanan kepada umat manusia. Sebaliknya, binatang tidak bisa memaknai penderitaan seperti itu. Misalnya; seekor kera merasa sakit akibat suntikan jarum, rasa sakit itu hanya dapat dimengerti oleh kera sebagai penderitaan saja. Lebih lanjut, penderitaan dalam beberapa kasus membuat aspek spiritual manusia menjadi lebih dalam.
Manusia sepenuhnya adalah makhluk yang menentukan dirinya sendiri (self-determining). “Man is not fully conditioned and determined but rather determined himself…”[8] Frankl menentang paham pan-determinism, suatu pandangan yang mengesampingkan kemampuan manusia untuk berpendirian terhadap segala situasi dan kondisi. Sebaliknya, manusia tidak sepenuhnya dikondisikan dan ditentukan, tetapi ia mampu menentukan dirinya sendiri, baik dengan cara memberi diri maupun melawan situasi tersebut. Manusia dapat berperilaku seperti seorang  suci atau seekor babi ketika di kamp konsentrasi tergantung dari apa yang diinginkannya.
Dari uraian yang telah disampaikan, dapat disimpulkan bahwa menurut Frankl manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak untuk mencari makna hidup. Arti hidup akan mempengaruhi hidup manusia. Selain itu, manusia juga merupakan makhluk yang bebas. Ia sepenuhnya menentukan dirinya sendiri. Lebih lanjut, manusia memiliki kemampuan untuk mencintai dan kemampuan untuk memaknai penderitaan, yang tidak ditemukan dalam binatang. Melalui pandangan Frankl, diperoleh wawasan yang lebih luas mengenai manusia untuk melihat kedudukan manusia sebagai mahkluk atau pengada hidup dibandingkan dengan pengada-pengada lainnya.



Daftar Pustaka
Frankl, Viktor E. Man’s Search for Meaning. New York: Washington Press Publication,    1984.




[1] Logoterapy: sebuah pendekatan psykologi yang didasarkan pada pencarian makna hidup
[2] Noogenic: neurosis (gangguan mental) yang diakibatkan oleh adanya masalah dalam kehendak mencari hidup seseorang.
[3] Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning (New York: Washington Press Publication), 52.
[4] Frankl. Man’s Search for, hlm. 121.
[5] Frankl. Man’s Search for, hlm. 86.
[6] Frankl. Man’s Search for, hlm. 86.
[7] Frankl. Man’s Search for, hlm. 136.
[8] Frankl. Man’s Search for, hlm. 154.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar