Manusia Menurut Viktor Frankl
Buku Man’s Search for Meaning
merupakan kisah hidup Viktor
Frankl selama menjalani masa
tahanan di kamp konsentrasi Nazi selama tiga tahun. Selama di kamp konsentrasi
tersebut, Frankl melihat, merasakan, dan mengalami penderitaan akibat kekejaman
Nazi, misalnya; pembunuhan massal, kerja paksa, perlakuan tidak manusiawi, dsb.
Melalui pengalaman tersebut, Ia memperoleh cakrawala yang lebih luas mengenai
apakah dan siapakah manusia. Dengan latarbelakang psikologi, Viktor Frankl
kemudian mengembangkan logoterapy[1] untuk
menyembuhkan noogenic neurosis[2]
yang didukung pandangannya mengenai manusia. Paper ini hendak menunjukkan pandangan mengenai manusia menurut Viktor
Frankl berdasarkan buku Man Search For
Meaning. Ia memandang bahwa manusia adalah mahkluk yang mencari dan
dipengaruhi oleh makna hidupnya..
Frankl berseberangan dengan
Sigmund Freud yang memandang tingkah laku manusia merupakan perwujudan alam
bawah sadar yang berakar pada hasrat sexual. Ia tidak menemukan dorongan
sexual sebagai penentu tingkah laku seseorang selama di kamp konsentrasi, “Undernourisment, besides being the cause
of the general preoccupation with food, probably also explain that sexual urge
was absent.”[3]
Akan tetapi, tingkah laku manusia berakar pada apa arti hidup bagi seseorang
dan tujuan hidupnya.
Manusia merupakan makhluk yang
mencari makna hidup. “man search
for meaning is the pyrimary motivation in his life and not a secondary
rationalization or instinctual drives.”[4] Ia mempunyai kehendak untuk memberi arti dan
alasan hidupnya. Arti hidup (the meaning
of life) bersifat unik dan spesifik dan hanya dapat dipenuhi oleh setiap
individu itu sendiri. Dengannya ia bereksistensi. Ketika kehendak untuk
memaknai hidup bermasalah, ia akan mengalami noogenic neurosis dan untuk mengatasinya individu diarahkan untuk
mereorientasikan makna hidupnya. Dengan
demikian arti hidup adalah hal sentral bagi manusia. Tujuan dan arti hidup
tidak hanya mempengaruhi mental tetapi juga fisik manusia. Tahanan yang
mempunyai tujuan dan kehendak hidup, secara fisik lebih kuat dari pada mereka
yang tidak.
Manusia merupakan mahkluk yang
bebas. “The experience of camp
life show that man does have a choice of
action.”[5] “ everything can be taken from a man but one
thing: the last of the human freedoms…”[6].
Di dalam kamp konsentrasi, cara
hidup tahanan ditentukan oleh aturan dengan berbagai macam kebiadabannya. Frankl
mendapatkan kesan bahwa, manusia
merupakan mahkluk yang tidak bisa menghindar dari pengaruh lingkungannya. Seolah-olah
mereka tidak memiliki pilihan atas hidupnya. Akan tetapi, manusia senantiasa
memiliki pilihan. Dengan demikian ia mempunyai kebebasan dalam dirinya (inner freedom).
Manusia memiliki afektivitas
yakni kemampuan untuk mencintai. Mencintai tidak terbatas pada aktivitas sexual,
seperti halnya pada binatang, sex merupakan ekspresi dari cinta. Dengan
mencintai manusia menjadi lebih sadar terhadap manusia lain dan dirinya
sendiri. Dengan sadar akan potensi manusia lain, ia juga menjadi tahu potensinya.
Pengalaman mencintai merupakan salah satu cara untuk menemukan arti hidup.
Manusia memiliki kemampuan untuk
memaknai penderitaan. Ia mempunyai potensi untuk mengubah tragedy menjadi
keberhasilan dan kesulitan atau penderitaan menjadi tujuan manusia.”I only insist that meaning is possible even
in spite of suffering…”[7] Misalnya; Ketika Yesus dianiaya dan
disalibkan, Ia memaknainya bukan sebagai penderitaan tetapi sebagai wujud cinta
dan pengorbanan kepada umat manusia. Sebaliknya, binatang tidak bisa memaknai
penderitaan seperti itu. Misalnya; seekor kera merasa sakit akibat suntikan
jarum, rasa sakit itu hanya dapat dimengerti oleh kera sebagai penderitaan
saja. Lebih lanjut, penderitaan dalam beberapa kasus membuat aspek spiritual
manusia menjadi lebih dalam.
Manusia sepenuhnya adalah makhluk yang menentukan dirinya sendiri
(self-determining). “Man is not fully
conditioned and determined but rather determined himself…”[8] Frankl
menentang paham pan-determinism, suatu
pandangan yang mengesampingkan kemampuan manusia untuk berpendirian terhadap
segala situasi dan kondisi. Sebaliknya, manusia tidak sepenuhnya dikondisikan
dan ditentukan, tetapi ia mampu menentukan dirinya sendiri, baik dengan cara memberi diri maupun melawan situasi tersebut. Manusia dapat berperilaku seperti
seorang suci atau seekor babi ketika di
kamp konsentrasi tergantung dari apa yang diinginkannya.
Dari uraian yang telah
disampaikan, dapat disimpulkan bahwa menurut Frankl manusia adalah makhluk yang
mempunyai kehendak untuk mencari makna hidup. Arti hidup akan mempengaruhi
hidup manusia. Selain itu, manusia juga merupakan makhluk yang bebas. Ia
sepenuhnya menentukan dirinya sendiri. Lebih lanjut, manusia memiliki kemampuan
untuk mencintai dan kemampuan untuk memaknai penderitaan, yang tidak ditemukan
dalam binatang. Melalui pandangan Frankl, diperoleh wawasan yang lebih luas mengenai
manusia untuk melihat kedudukan manusia sebagai mahkluk atau pengada hidup dibandingkan
dengan pengada-pengada lainnya.
Frankl, Viktor
E. Man’s Search for Meaning. New York : Washington Press Publication, 1984.
[1] Logoterapy: sebuah pendekatan psykologi
yang didasarkan pada pencarian makna hidup
[2] Noogenic: neurosis (gangguan mental) yang
diakibatkan oleh adanya masalah dalam kehendak mencari hidup seseorang.
[4] Frankl. Man’s Search for, hlm. 121.
[5] Frankl. Man’s Search for, hlm. 86.
[6] Frankl. Man’s Search for, hlm. 86.
[7] Frankl. Man’s Search for, hlm. 136.
[8] Frankl. Man’s Search for, hlm. 154.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar