Fenomenologi sebagai Episteme Vs Ontologi
Tulisan ini adalah ringkasan dari teks sumber “Heidegger and
Husserl: The matter and Method of Philosopy”. Sebagai suatu ringkasan,tulisan tidak
ditujukan untuk menterjemahkan keseluruhan teks, tetapi lebih kepada pemadatan
teks yang sudah ada pada pokok-pokok yang dipahami. Pokok utama pembahasan
dimulai dengan menunjukkan perbedaan persoalan filsafat menurut Heidegger
dengan Husserl dan di mana letak posisi Heidegger terhadap Husserl. Kedua, akan
dipaparkan pemahaman penulis mengenai metode filsafat yang dipakai oleh
Heidegger dan Husserl. Pada bagian akhir tulisan, penulis akan memberikan
simpulan dan tanggapan atasnya.
Persoalan
Filsafat Heidegger Vs Husserl
Heidegger berpendapat bahwa filsafat telah melupakan pertanyaan
mengenai <ada>. Baginya, Husserl, gurunya, dengan membedakan ontologi
regional dan ontologi formal[1] telah
ikut dalam arus tersebut. Sedangkan Heidegger, membedakan ontologi regional dan
ontologi “lain” yang bukan ontologi formal, yakni ontologi sebagai penyelidikan
atas makna <ada>.[2]
Baginya makna <ada> tidak bisa diatasi
hanya dengan menggunakan konsep untuk menyingkapkannya. Dengan kata lain
<ada> pada dirinya sendiri dapat dimengerti dengan metode yang lain[3],
metode itu adalah fenomenologi. Oleh karenanya, adalah tugas fenomenologi untuk
mengatasi “keterlupaan” tentang <ada>.
Bagi Husserl, dengan menyatakan bahwa fenomenologi
bertugas menyingkapkan pertanyaan mengenai ada, Heidegger telah gagal menangkap
radikalitasnya. Kenapa? Semua objektivitas berorientasi pada ilmu pengetahuan,
dan hal itu hendak diterapkan pada ontologi oleh Heidegger. Fenomenologi adalah
bentuk investigasi kesadaran. Kesadaran yang dimaksud bukan kesadaran sebagai
objek pengetahuan ilmu psikologis melainkan kesadaran murni (transendental). Kesadaran
murni adalah intensionalitas, yakni kesadaran dari sesuatu sebagai sesuatu.
Istilah “dari sesuatu” mengandung arti bahwa kesadaran sebagai subjek sudah
senantiasa terarah keluar, sedangkan objek sudah selalu memberikan dirinya
dengan kepastian “isi” atau makna kepada subjek. Fenomenologi menjadi analisis
mengenai bagaimana isi berkonstitusi lewat tindakan kesadaran dan sintesisnya.
Menurut Husserl, penyelidikan ontologis mengandaikan ilmu pengetahuan kesadaran
transendental.
Untuk menjawab makna mengenai ada , pertama-tama Heidegger
menanyakan dalam kondisi yang mana ada itu mempunyai makna. <Ada>
mempunyai makna hanya di dalam <ada> yang memiliki pemahaman mengenai
<ada>. <Ada> yang dimaksud adalah dasein. Dasein tidak sama
dengan kesadaran psikologis, tetapi dasein
juga tidak ekuivalen dengan kesadaran transendental. Heidegger juga
mengakui bahwa kesadaran fenomenologi Husserl adalah mungkin, tetapi Ia menolak
“analisis deskripsi intensionalitas dalam apriorinya” Hussrel. Suatu kerangka
apriori dalam intensionalitas justru memungkinkan adanya “residu” dari
penyingkapan objek, karena mungkin saja masih ada bagian dari objek yang belum tersingkap. Kesadaran menurut Heidegger memiliki basis
ontologis sebagai “ada di dalam dunia” (being-in-the-world). Dengan ontologi
fundamental Heidegger akan menunjukan bagaimana struktur being-in-the-world membentuk kesadaran dalam pengertian Husserl.
Problem intensionalitas Husserl mengenai bagaimana sebuah
objek transenden dapat berada “di sana” bagi kesadaran diatasi oleh Heidegger
dengan pemahaman mengenai transenden ontis. Makna suatu entitas tergantung dari
sebuah transendental ontologis yang dinamai dasein yang being-in-the-world. Kesadaran objek adalah mungkin, dikarenakan dasein melebihi pengada-pengada sebagai
keseluruhan menuju adanya. Ia mampu mengerti <ada>, oleh karenanya <ada>
dapat menampakkan dirinya kepada dasein
seperti adanya mengada-mengada. Dengan demikian isi intensionalitas tidak dapat
dimengerti sebagai fungsi kesadaran sendiri tetapi merupakan derivasi dari
struktur being-in-the-world sebagai
keseluruhan, yang memungkinkan pemahaman tentang <ada>.
Selanjutnya Heidegger merumuskan posisinya terhadap
pandangan Husrell mengenai individualime, rasionalisme, dan internalisme di
kontraskan dengan pandangannya tentang struktur-struktur being-in-the-world. Pertama,
mengenai individualisme, Heidegger memandang bahwa Husserl telah jatuh pada
solipsisme. Hal tersebut dikarenakan meskipun Husserl mengenali penyebab dari
isi intensional yang mengacu pada sebuah komunitas ego dalam intersubjektivitas
transendental, intersubjektivitas tersebut harus pada dirinya sendiri di
konstitusikan oleh sebuah ego. Dengan kata lain ego individu masih merupakan
landasan satu-satunya bagi isi intensional. Heidegger setuju bahwa isi
intensional harus memuat referensi dari sebuah komunitas ego. Tetapi bukan
berarti bahwa isi intensional dikonstitusikan dari individualitas. Sebagai being-in-the-worl, “saya” sudah selalu
ada-dengan-yang-lain. Itu artinya bahwa yang menjadi masalah bukan mengenai
bagaimana komunitas ego (dunia sosial) dapat dikonstitusikan dari kesadaran
tertutup saya (monad)[4], tetapi
justru bagaimana menjelaskan individualitas itu mungkin. Bagi heidegger
individuasi bukanlah yang utama bagi dasein,
melainkan salah satu cara berada dasein.
Salah satu cara berada dasein adalah das man. Das man adalah dasein
yang mengada dengan larut dalam keseharian. Das
man hidup dalam anonimitas. Ia tidak membedakan dirinya dengan orang lain.[5]
Kedua adalah
rasionalisme. Rasionalisme yang penulis mengerti adalah pandangan yang
menyatakan bahwa sumber utama pengetahuan adalah akal budi/rasio/kesadaran[6]. Dengan
kesadaran transendental sebagai penangkap makna dari apa-apa yang nampak, Husserl
dalam pandangan Heidegger masih jatuh pada rasionalisme. Kesadaran
transendental masih merupakan dasar utama bagi diperolehnya suatu pengetahuan
mengenai <ada>. Heidegger mampu mengatasi rasionalisme. Bagi Heidegger, being-in-the-world tidak sama dengan idea
tradisional subjektivitas sebagai kesadaran individual. Pemahaman mengenai
<ada> pertama-tama bukan disebabkan oleh rasio atau kesadaran individual
tetapi pemahaman diperoleh, sebagai being-in-the-world,
dari praktik keseharian dasein.
Lebih lanjut, dasein adalah
kepedulian (sorge) yang dengannya memungkinkan pemahaman tentang <ada>. Dengan
pemahaman tersebut, Heidegger tidak mau jatuh dalam rasionalisme.
Ketiga adalah
internalisme atau representasionalisme. Heidegger menganggap bahwa kesadaran
sebagai dasar intensionalitas Husserl masih mengandung representasionalisme.
Mengapa? Hal itu dikarenakan dalam pandangan Heidegger keterbukaan dasar
manusia terhadap dunia ditafsirkan sebagai suatu forum internal yang mempunyai
hukum dan strukturnya sendiri. Husserl menggunakan istilah “noema” yakni ide bahwa <ada>
diberikan dengan cara “noemata” atau
penginderaan. Lantas, noemata itu
adalah sudah imanen dalam kesadaran. Dengan bahasa yang lebih mudah, “noema” itu merupakan sesuatu yang
berfungsi untuk menstrukturkan apa-apa yang menampak kepada kesadaran. Noema menjadi suatu fondasi bagi
pemahaman mengenai <ada> yang menampak, sehingga <ada> tidak lagi
nampak dalam keseluruhan potensi penampakannya, tetapi justru dibatasi oleh
penginderaan/”sense” yang imanen dalam kesadaran. Itu mengapa Heidegger
memberikan “cap” kepada Husserl sebagai representasionalis dan menolak teori
“neoma”. Sedangkan Heidegger menyatakan bahwa pemahaman dasein mengenai <ada> ekuivalen terhadap ketersingkapan (disclosedness) atau pewahyuan dari
entitas-entitas. Itu artinya dalam menerima pewahyuan dasein tidak lagi melakukan representasi atasnya. Keterbukaan atau
intensionalitas tidak dipahami dalam artian keterbukaan yang didasarkan pada
kesadaran, tetapi keterbukaan yang tergantung pada transendensi dasein yakni ketidaktersembunyian dari being-in-the-world. Ketidaktersembunyian
adalah hal dari ketiga aspek yang setara dengan adanya dasein yakni: pemahaman, disposisi, dan wacana. Pemahaman disposisi
dan wacanalah yang memungkinkan dasein terbuka
kepada <ada>. Menurut Heidegger, ketiganya adalah dasar intensionalitas
atau keterarahan pada <ada>. Dasar itu bagi Husserl tidak dianggap
sebagai dasar dalam pemikiran Husserl.
Metode Filsafat Husserl Vs Heidegger
Pada bagian ini hendak dipaparkan perbedaan maupun kesamaan
metode filsafat antara Heidegger dan Husserl. Metode tersebut adalah reduksi eidetic,
reduksi fenomenologis, dan reduksi transendental dan sejauh mana mempengaruhi
metode filsafat Heidegger.
Filsafat, bagi Husserl adalah sebuah disiplin apriori,
filsafat bukan empiris. Filsafat adalah ilmu pengetahuan mengenai esensi.
Fenomenologi memulai dengan mengambil contoh dari pengalaman, tetapi tujuannya
bukanlah sebuah deskripsi lengkap darinya. Fenomenologi mencari insight ke dalam esensi dari sesuatu (eidos). Proses untuk sampai pada esensi dari
sesuatu (eidos) oleh Husserl disebut
reduksi eidetic[7].
Bagi Heidegger pengetahuan filsafat adalah eidetic.
Heidegger tidak memberikan penjelasan dengan apa suatu insight ke dalam
struktur esensial diperoleh. Akan tetapi, dengan mengatakan bahwa analisanya
mengenai “keseharian umum (average
everydayness) akan menyingkapkan tidak hanya yang aksidental tetapi juga yang
essensial Heidegger sebenarnya “tidak jauh-jauh” dari konsep reduksi eidetic.
Reduksi fenomenologis juga disebut sebagai epoche. Epoche secara harafiah dapat diartikan sebagai penangguhan putusan.
Di dalam reduksi fenomenologis, epoche berarti
menangguhkan segala pengandaian kita terhadap dunia. Hal itu jelas karena bagi
Husserl pengetahuan filosofis dibedakan dengan pengetahuan yang lain. Dengan
demikian untuk mendapatkan pengetahuan filosofis, segala pengandaian atau
konsep-konsep dari disiplin ilmu yang lain ditangguhkan dahulu, ditempatkan
dalam “tanda kurung”.[8]
Heidegger menolak reduksi fenomenologis, tetapi menurut Crowell[9]
posisi Heidegger dan Husserl tidaklah berbeda jauh.
Reduksi fenomenologis
juga dapat disebut sebagai mengurung <ada>. Dengan demikian, Husserl mau
menfokuskan metodenya pada fenomen dari <ada>. Dengan memfokuskan pada
fenomen ia tidak mau jatuh pada klaim bahwa <ada> adalah ada bagi dirinya
sendiri, melainkan <ada> di mengerti sebagai yang selalu memberikan
dirinya. Ada dalam dirinya sendiri tidak mensyaratkan adanya intensionalitas. Dari
hal itu semakin kelihatan perbedaan penekanan filsafat Heidegger dengan Husserl,
Husserl tidak berpretensi menggunakan fenomenologi untuk menyelidiki
<ada>, sedangkan Heidegger dengan fenomenologi hendak “bermetafisika”.
Reduksi transendental adalah reduksi di mana
kondisi-kondisi fenomena tersingkap. Kondisi ini terletak dalam kesadaran
absolut, sebagai konstitutor semua <ada> sebagai fenomena. Heidegger
menolak hal ini, tetapi masih mengambil apa yang baik dari reduksi
transendental Hussrel. Fenomenologi bagi Heidegger adalah untuk memahami <ada>.
Sedangkan bagi Hussrel fenomenologi adalah untuk menangkap fenomen tidak lagi
dari penglihatan natural manusia tetapi dari kesadaran pengalaman-pengalaman noematic. Dengan reduksi transendental
kesadaran mampu memahami sesuatu sebagai fenomena (objek sebagai fenomena)
Lebih lanjut, dari
penjabaran perbedaan antara reduksi menurut Heidegger terhadap Husserl, timbul
pertentangan dalam memandang eksistensi dunia. Hussrel menganggap adanya dunia
bersifat relatif terhadap kesadaran. Artinya bahwa kesadaran tidak memerlukan
sesuatu yang “real”. Sedangkan Heidegger
ketiadaan dunia tidak bisa dipikirkan. Karena pemahaman mengenai <ada>
tergantung pada ada di dalam dunia. Pada titik inilah menurut Crowell Hussrel
dan Heidegger berpisah secara metode.
Kesimpulan dan tanggapan
Dalam “filsuf jagoan”
edisi ke-3, digambarkan Anaximenes menganggap bodoh Anaximandros, gurunya,
karena memandang air sebagai prinsip utama. Menurut pengarang buku, kisah itu
adalah awal dari “tradisi” filsafat di mana murid selalu mengkritik gurunya
demi menekankan orisinalitas pemikirannya. Akan tetapi, setiap pemikiran
filsafat senantiasa dipengaruhi oleh pemikir sebelumnya. Dalam uraian paper
ini, Heidegger tetap tidak masuk sebagai pengecualian.
Heidegger dan Hussrel adalah
berbeda dalam pokok filsafatnya. Heidegger hendak bermetafisika sedang Hussrel
tidak sedang mencari makna <ada> tetapi lebih kepada membangun suatu
epistemologi yang baru. Husserl telah memberikan landasan bagi episteme baru
yakni dengan Intensionalitas. Intensionalitas Husserl selangkah lebih maju
daripada rasionalisme Cartesian. Kesadaran adalah kesadaran akan sesuatu.
Kesadaran adalah intensionalitas, keterbukaan kepada sesuatu. Heidegger
berpijak pada intensionalitas dalam filsafatnya.
Dasar intensionalitas adalah dasein,
sedangkan pada Hussrel adalah kesadaran. Kesadaran bagi Heidegger tidak lagi
sekadar kesadaran akan sesuatu, melainkan kesadaran di salam sesuatu atau
sebagai sesuatu. Oleh karena itu, Pemikiran Heidegger walaupun berbeda dengan Hussrel
baik mengenai persoalan filsafat dan metodenya memiliki beberapa kemiripan.
Pengetahuan filsafat Hussrel
dan Heidegger, memberikan cakrawala baru dalam memandang dunia, terutama dunia
yang ditandai dengan semangat materialisme dan positivistisme saat ini. Dunia
menawarkan, kalau tidak bisa disebut “memaksa”, kebenaran yang hanya bisa
diakui lewat metode-metode positif yang mutlak. Metode dianggap sebagai
kebenaran dan melupakan <ada> dunia dan kesadaran yang dihayati. Cara
pandang dunia yang seperti itu, menurut penulis telah mereduksi dunia dan
manusia sendiri. Ada suatu kisah, “Suatu
ketika Si Bambang sedang jatuh cinta. Dadanya berdebar-debar ketika bertemu
Rani teman sewaktu SMA-nya yang kini menjadi dokter. Bambang kemudian berniat
untuk menyatakan cintanya. Tetapi sebagai basa basi, pertama-tama Bambang
memberitahu Rani bahwa dadanya berdebar-debar. Dengan sigap Rani lantas
mengambil stetoskop dan memeriksa dada Bambang dan mendapati bahwa menurut
denyutan dada Bambang, Bambang menderita tekanan darah tinggi. Dengan kata
lain, Rani salah memahami debar jantung yang sebenarnya adalah perasaan jatuh
cinta”. Di dalam contoh itu, dengan metodenya Rani telah mereduksi debar
jantung dengan metode kedokterannya. Oleh karenanya, Ia tidak menangkap
“kebenaran yang lain” yang dihayati. Rani secara tergesa-gesa menyimpulkan
dengan konsep yang dimilikinya. Di dalam fenomenologi Husserl, segala
pengandaian dikurung dan objek dibiarkan menampakkan dirinya sehingga diperoleh
pemahaman sesuai dengan kesadaran subjek. Dengan fenomenologi Hussrel, menurut
penulis, manusia kembali dimanusiakan.
Daftar
Pustaka
Sumber
Utama
Crowell, Steven Galt. 2005. Heidegger and Husserl: The Matter and Method of Philosophy.
Oxford: Blackwell Publisher.
Sumber
Pendukung
Bagus, Lorens. 2000. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Dunlavey, Ryan dan Fred van Lente. 2009. Filsuf Jagoan. Terj. Margaretha
Widiastuti.
Jakarta: KPG.
Hardiman, F. Budi. 2003. Heidegger dan Mistik Keseharian. Jakarta: KPG.
Hardiman, Budi F. 2011. Pemikiran-pemikiran yang Membentuk Dunia Modern. Jakarta: Erlangga.
Sugiharto, I. Bambang.1996. Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat. Yogyakarta:
Kanisius.
Di unduh pada tanggal 17 maret
2014.
[1] Mengenai ontologi formal dan regional
dapat dilihat di Lorens Bagus. Kamus
Filsafat (Jakarta: Erlangga, 2000) hal. 748
[2] Dalam ontologi formal <ada> masih
dimengerti melalui konseptualisasi, sehingga ia masih jatuh pada
representasionalisme dan fondasionalisme,
[3] Filsuf-filsuf sebelum Heidegger seperti plato, decartes, kant, dll.
oleh heidegger dikategorikan sebagai representasionalisme.
[4] Bdk. F. Budi Hardiman. Pemikiran-pemikiran, Hal. 48.
[5] Bdk. F. Budi Hardiman. Heidegger dan Mistik Keseharian (Jakarta:
KPG, 2003), hal. 61-64.
[6] Bdk. Lorens Bagus. Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia, 2000) hal. 929.
[7] Di dalam reduksi eidetik subjek
menempatkan di antara tanda kurung segala sesuatu yang bukan eidos. Lorens Bagus. Kamus Filsafat. hal. 941.
[8]
Apabila menilik salah satu ide
filsafat Husserl adalah hendak memberikan alternatif pandangan yang berkembang
saat itu, bahwa kebenaran akan sesuatu ditentukan oleh hal yang bersifat
positif yakni metode-metode saintifik. Dengan mengurung pengandaian ilmu-ilmu
lain, mungkin filsafat bagi Husserl tidak bergantung pada validitas saintifik.
Hal yang sama terjadi pada Heidegger, ia juga hendak mengatasi ilmu sains.
[9] Nama Penulis artikel yang diringkas, Steven Galt Crowell.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar