Sains sebagai “Jalan” Menuju Tuhan
Surya-Nandi
Putra
Modernisme
ditandai dengan kemajuan sains atau ilmu pengetahuan yang pesat. Melalui sains, manusia mampu menghasilkan
berbagai macam jenis produk dan teknologi yang mendukung kehidupannya. Namun
demikian, sains menciptakan pula sebuah atheisme baru yakni ateisme ”ilmiah”.
Atheisme
ilmiah adalah penolakan <ada>-nya Allah atas dasar sains. Kemajuan sains
dijadikan dasar sebagai argumen untuk menolak keberadaan-Nya. Dikatakan bahwa
semakin maju sains, semakin keberadaan Allah tidak bisa diterima. Yang dimaksud
kemajuan sains adalah segala pemahaman baru mengenai alam dan hukum-hukumnya. Akan
tetapi, apakah konsekuensi dari segala pemahaman baru ataupun penemuan baru sebagai
suatu kemajuan sains harus jatuh pada penolakan kepada Allah?
Berbarengan
dengan teknologi yang mengalami kemajuan dari waktu ke waktu, kosmologi atau
pengetahuan mengenai alam semesta pun ikut berkembang. Sejarah mencatat bahwa sebelum
teori heliosentris, sebelumnya bumi dianggap sebagai pusat alam semesta. Baru setelah
Nicolas Copernicus diperoleh pemahaman mengenai bumi yang mengelilingi
matahari. lantas, Teleskop Hubble semakin membuka cakrawala bahwa tidak hanya
bumi mengitari matahari, tetapi bahwa bumi hanyalah sebuah titik kecil dari
alam semesta yang mahadasyat. Dengan sains, rahasia alam semesta terkuak
sedikit demi sedikit.
Lantas,
apakah arti bumi dalam alam semesta yang luasnya tak terkira itu? Kemungkinan
jawaban atas pertanyaan itu adalah bumi tidak mempunyai arti yang signifikan
dalam jagad raya. Alam semesta begitu luas maka besar kemungkinan ada kehidupan
lain di luar bumi. Oleh karena itu, Bumi bukanlah planet yang istimewa. Akan
tetapi benarkah demikian ? Para ilmuwan memberikan data-data yang mencengangkan
mengenai bumi. Pertama, bumi mempunyai kondisi yang kompleks dengan susunan
yang sangat presisi untuk menciptakan kehidupan. Melihat kompleksitasnya akan
sangat sulit untuk mencari planet lain seperti bumi. Kedua, dengan data-data
ilmiah akan sulit diterima bahwa bumi ada secara kebetulan. Ketiga, bumi
memiliki lokasi yang unik dalam galaksi yang memungkinkan sebuah kehidupan
dapat ada. Keempat, lokasi yang unik itu memungkinkan untuk mengamati galaksi
yang lain. Dengan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa ada suatu keterarahan
dan tujuan dari adanya bumi. Suatu keterarahan pasti ada ”pelaku” yang
mengarahkan. Ilmuwan tidak memberikan definisi mengenai siapa ”pelaku” itu. Orang
beriman merefleksikannya sebagai Tuhan. Kemajuan sains tidak harus jatuh kepada
Atheisme. Di tangan orang beriman sains justru memberi andil sebagai ”jalan”
menuju Tuhan.
Daftar Pustaka
Magnis-Suseno, Franz. 2004. Menalar
Tuhan. Yogyakarta:
Kanisius.
Tjahjadi, Simon Petrus Lili. 2014. Diktat Kuliah Filsafat Ketuhanan.
Jakarta: STF Driyarkara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar