Jumat, 10 April 2015

Sains sebagai “Jalan” Menuju Tuhan
Surya-Nandi Putra



            Modernisme ditandai dengan kemajuan sains atau ilmu pengetahuan yang pesat.  Melalui sains, manusia mampu menghasilkan berbagai macam jenis produk dan teknologi yang mendukung kehidupannya. Namun demikian, sains menciptakan pula sebuah atheisme baru yakni ateisme ”ilmiah”.
            Atheisme ilmiah adalah penolakan <ada>-nya Allah atas dasar sains. Kemajuan sains dijadikan dasar sebagai argumen untuk menolak keberadaan-Nya. Dikatakan bahwa semakin maju sains, semakin keberadaan Allah tidak bisa diterima. Yang dimaksud kemajuan sains adalah segala pemahaman baru mengenai alam dan hukum-hukumnya. Akan tetapi, apakah konsekuensi dari segala pemahaman baru ataupun penemuan baru sebagai suatu kemajuan sains harus jatuh pada penolakan kepada Allah?
            Berbarengan dengan teknologi yang mengalami kemajuan dari waktu ke waktu, kosmologi atau pengetahuan mengenai alam semesta pun ikut berkembang. Sejarah mencatat bahwa sebelum teori heliosentris, sebelumnya bumi dianggap sebagai pusat alam semesta. Baru setelah Nicolas Copernicus diperoleh pemahaman mengenai bumi yang mengelilingi matahari. lantas, Teleskop Hubble semakin membuka cakrawala bahwa tidak hanya bumi mengitari matahari, tetapi bahwa bumi hanyalah sebuah titik kecil dari alam semesta yang mahadasyat. Dengan sains, rahasia alam semesta terkuak sedikit demi sedikit.
            Lantas, apakah arti bumi dalam alam semesta yang luasnya tak terkira itu? Kemungkinan jawaban atas pertanyaan itu adalah bumi tidak mempunyai arti yang signifikan dalam jagad raya. Alam semesta begitu luas maka besar kemungkinan ada kehidupan lain di luar bumi. Oleh karena itu, Bumi bukanlah planet yang istimewa. Akan tetapi benarkah demikian ? Para ilmuwan memberikan data-data yang mencengangkan mengenai bumi. Pertama, bumi mempunyai kondisi yang kompleks dengan susunan yang sangat presisi untuk menciptakan kehidupan. Melihat kompleksitasnya akan sangat sulit untuk mencari planet lain seperti bumi. Kedua, dengan data-data ilmiah akan sulit diterima bahwa bumi ada secara kebetulan. Ketiga, bumi memiliki lokasi yang unik dalam galaksi yang memungkinkan sebuah kehidupan dapat ada. Keempat, lokasi yang unik itu memungkinkan untuk mengamati galaksi yang lain. Dengan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa ada suatu keterarahan dan tujuan dari adanya bumi. Suatu keterarahan pasti ada ”pelaku” yang mengarahkan. Ilmuwan tidak memberikan definisi mengenai siapa ”pelaku” itu. Orang beriman merefleksikannya sebagai Tuhan. Kemajuan sains tidak harus jatuh kepada Atheisme. Di tangan orang beriman sains justru memberi andil sebagai ”jalan” menuju Tuhan.
Daftar Pustaka

Magnis-Suseno, Franz. 2004. Menalar Tuhan. Yogyakarta: Kanisius.

Tjahjadi, Simon Petrus Lili. 2014. Diktat Kuliah Filsafat Ketuhanan. Jakarta: STF Driyarkara. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar