Bukanlah suatu kebetulan aku menemukan buku sastra
Layar Terkembang. Aku telah sering mendengarnya sewaktu SMP dulu tapi tak
pernah melihat apalagi membaca bukunya. Layar Terkembang adalah Roman klasik
karangan penulis besar St. Takdir Alisyahbana (STA). Roman ini mengisahkan
perjalanan hidup dua kakak beradik, Tuti dan Maria. Meskipun bersaudara tetapi
mereka memiliki perangai yang sangat berlainan. Maria adalah seorang gadis yang
periang, hidup, lincah, mudah bergaul dan mudah dicintai, dan “easy going”, bertindak tanpa pikir
panjang, dan pencinta. kebalikannya Tuti adalah sosok yang serius, berpikir
matang dan mendalam, tegas, berpendirian teguh, tidak mudah terombang-ambing,
aktif dalam keorganisasian, dan hidupnya dilandasi oleh cara pikir dan
pendirian tersebut.
Seperti kebanyakan roman, Layar Terkembang
mengisahkan cinta manusia. Ketika membaca kebanyakan orang akan dengan mudah
menangkap kisah cinta Maria yang menggelora, sangat manusiawi dengan
intimitasnya bersama Yusuf kekasihnya. Mereka berdua bermesraan, bercumbu,
berbagi perhatian dan kasih, segala pikiran dan perasaan tertuju pada
kekasihnya, dan terkadang intimitas itu begitu lekatnya hingga bisa bersifat
destruktif, sebuah kesalingan cinta antar manusia. Sedangkan hidup Tuti bila
tidak jeli, akan terlihat suram, muram, tidak manusiawi karena terjerumus dalam
kesibukan organisasi demi pergerakan kemerdekaan bangsa, aneh karena memilih
tidak menikah sesuai dengan pendiriannya mengenai cita-citanya bagi perempuan.
Tetapi apakah benar Tuti tidak punya cinta?
Lebih dari itu Tuti dengan sungguh mempunyai
cinta, tetapi cinta ia pikir masak-masak, mendalam sampai keakar-akarnya.
Justru dengan tidak menikah dia menghargai cinta, karena untuk apa menikah jika
tidak dilandasi cinta, hanya melaksanakan sesuatu yang tampak harus tanpa
alasan yang jelas, dengannya Tuti memiliki cinta. Tuti jujur pada diri sendiri
bahwa cintanya adalah dalam bentuk yang lain bukan kepada pribadi, melainkan
cinta pada panggilan hidup yakni untuk memperjuangkan kaum perempuan dan
bangsanya. Dengan pilihan yang aneh itu tidak bisa tidak Tuti menanggung
konsekuensinya. Ia dicerca, direndahkan sebagai perawan tua, ia harus hidup
sendiri.
Perjalanan kedua bentuk cinta Tuti dan Maria
diakhiri bukan dengan suatu penutup melainkan dengan tantangan. Maria menderita
penyakit malaria, Ia berjuang untuk sembuh demi kekasihnya Yusuf. Akan tetapi
Maria akhirnya meninggal dunia, dan berpesan pada Yusuf dan Tuti agar mereka
hidup bersama. Akhir cerita tidak menjelaskan apakah Tuti dan Yusuf bersedia,
cerita diakhiri dengan sebuah pertnyataan : “tetapi Yusuf, hidup kita adalah
kerja”. Pertanyaan tersebut menyiratkan sebuah pergulatan hebat seorang
manusia, antara rasa nyaman berada dalam pelukan pria dengan segala
perhatiannya dengan panggilan hidup yang hendak diembannya dan
diperjuangkannya. Tetapi meskipun demikian hidup tetaplah berjalan dengan sedih
dan senangnya, dan tentu saja dengan segala pilihan-pilihan yang harus dibuat
dengan penuh keberanian, integritas, dan kesetiaan. Oleh karenanya, kisah ini
memberi tantangan kepadaku untuk berani “hidup” (hidup secara penuh, hidup yang
disadari, hidup sebagai manusia) dengan segala dinamikanya.
Apa itu layar terkembang
Hingga dihalaman terakhir aku masih tidak mengerti
dengan judul Layar Terkembang. Tidak satupun kata secara eksplisit termuat
dalam novel itu. Apa maksud STA memilih judul itu. Lantas, aku menangkap bahwa layar itu mereprentasikan hati, hati yang terkembang, yang mau
dan sedia menerima angin yang adalah “yang lain” yang adalah manusia lain,
obyek lain, peristiwa-peristiwa hidup, dan pilihan-pilihan hidup.[2]
Akan tetapi untuk dapat terkembang mengandaikan keberanian, karena ketika layar
itu terkembang maka “yang lain/angin” itu akan menghantam dan ketika dihantam
pastilah mengandung resiko, layar bisa sobek, tiang peyangga bisa patah, kapal
bisa berbelok dengan cepat, hanya saja dengan berani mengembangkan layar kapal
akan bergerak dengan cepat, bahkan semakin besar hantaman justru membuatnya
lebih dan lebih kencang. Kapal dapat lebih cepat sampai pada tujuan yakni
kedewasaan hidup, meskipun demikian toh lautan itu luas terlihat tak berujung,
mungkin saja tidak ada yang namanya kedewasaan yang ada hanyalah aku yang lebih
dari kemarin, dan dengan semakin jauh kapal berlayar, semakin lebih pula aku.
Lantas bagaimana denganku apakah layarku pun
berani terkembang. Aku merasa layarku pastilah sudah terkembang dan kerap kali
aku menerima hantaman-hantaman oleh karenanya. Hatiku dihantam oleh relasiku
dengan sesama baik yang inklusif maupun relasi yang eksklusif/spesial, oleh
pilihan-pilihan hidup yang sederhana maupun yang eksistensial termasuk mengenai
panggilan hidup, dan obyek-obyek lain yang menawarkan segala pengaruh
(senang/sakit) indrawi dan nafsu-nafsu (seks, berkuasa, harta). Seringkali
hantaman itu membuatku membelokkan arah kapal, arah hidupku. Dalam
permenunganku pemaknaan hidup senantiasa mengalami perkembangan pun juga
perubahan, bagiku kini hidup adalah Nderek
Gusti, mengikuti Tuhan. Tentu mengikuti dia juga berarti berjalan sesuai
dengan kehendaknya[3]
dengan melakukan pilihan-pilihan, tindakan-tindakan yang benar, dan itu
diperoleh lewat diskresi. Namun demikian aku sering kali jatuh-jatuh dan jatuh,
dalam kejatuhan itu aku memohon padaNya agar aku diberi Iman yang teguh agar mampu bangkit dan tetap terus
berani berlayar, tidak lantas menguncupkan layarnya kembali.
[1] St. Takdir Alisyahbana, Layar Terkembang (Jakarta: Balai Pustaka,
1993). Tebal buku 139 halaman. Cetakan
pertama 1937.
[2] Tafsiran bersifat sangat subjektif,
bisa jadi pembaca lain menafsirkan dengan sangat berbeda, atau justru
menganggapnya tidak penting.
[3] Bukan berari aku tidak punya
kehendak tetapi kehendaknya adalah kehendakku pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar