Selasa, 14 April 2015

Layar Terkembang[1]


Bukanlah suatu kebetulan aku menemukan buku sastra Layar Terkembang. Aku telah sering mendengarnya sewaktu SMP dulu tapi tak pernah melihat apalagi membaca bukunya. Layar Terkembang adalah Roman klasik karangan penulis besar St. Takdir Alisyahbana (STA). Roman ini mengisahkan perjalanan hidup dua kakak beradik, Tuti dan Maria. Meskipun bersaudara tetapi mereka memiliki perangai yang sangat berlainan. Maria adalah seorang gadis yang periang, hidup, lincah, mudah bergaul dan mudah dicintai, dan “easy going”, bertindak tanpa pikir panjang, dan pencinta. kebalikannya Tuti adalah sosok yang serius, berpikir matang dan mendalam, tegas, berpendirian teguh, tidak mudah terombang-ambing, aktif dalam keorganisasian, dan hidupnya dilandasi oleh cara pikir dan pendirian tersebut.
Seperti kebanyakan roman, Layar Terkembang mengisahkan cinta manusia. Ketika membaca kebanyakan orang akan dengan mudah menangkap kisah cinta Maria yang menggelora, sangat manusiawi dengan intimitasnya bersama Yusuf kekasihnya. Mereka berdua bermesraan, bercumbu, berbagi perhatian dan kasih, segala pikiran dan perasaan tertuju pada kekasihnya, dan terkadang intimitas itu begitu lekatnya hingga bisa bersifat destruktif, sebuah kesalingan cinta antar manusia. Sedangkan hidup Tuti bila tidak jeli, akan terlihat suram, muram, tidak manusiawi karena terjerumus dalam kesibukan organisasi demi pergerakan kemerdekaan bangsa, aneh karena memilih tidak menikah sesuai dengan pendiriannya mengenai cita-citanya bagi perempuan. Tetapi apakah benar Tuti tidak punya cinta?
Lebih dari itu Tuti dengan sungguh mempunyai cinta, tetapi cinta ia pikir masak-masak, mendalam sampai keakar-akarnya. Justru dengan tidak menikah dia menghargai cinta, karena untuk apa menikah jika tidak dilandasi cinta, hanya melaksanakan sesuatu yang tampak harus tanpa alasan yang jelas, dengannya Tuti memiliki cinta. Tuti jujur pada diri sendiri bahwa cintanya adalah dalam bentuk yang lain bukan kepada pribadi, melainkan cinta pada panggilan hidup yakni untuk memperjuangkan kaum perempuan dan bangsanya. Dengan pilihan yang aneh itu tidak bisa tidak Tuti menanggung konsekuensinya. Ia dicerca, direndahkan sebagai perawan tua, ia harus hidup sendiri.
Perjalanan kedua bentuk cinta Tuti dan Maria diakhiri bukan dengan suatu penutup melainkan dengan tantangan. Maria menderita penyakit malaria, Ia berjuang untuk sembuh demi kekasihnya Yusuf. Akan tetapi Maria akhirnya meninggal dunia, dan berpesan pada Yusuf dan Tuti agar mereka hidup bersama. Akhir cerita tidak menjelaskan apakah Tuti dan Yusuf bersedia, cerita diakhiri dengan sebuah pertnyataan : “tetapi Yusuf, hidup kita adalah kerja”. Pertanyaan tersebut menyiratkan sebuah pergulatan hebat seorang manusia, antara rasa nyaman berada dalam pelukan pria dengan segala perhatiannya dengan panggilan hidup yang hendak diembannya dan diperjuangkannya. Tetapi meskipun demikian hidup tetaplah berjalan dengan sedih dan senangnya, dan tentu saja dengan segala pilihan-pilihan yang harus dibuat dengan penuh keberanian, integritas, dan kesetiaan. Oleh karenanya, kisah ini memberi tantangan kepadaku untuk berani “hidup” (hidup secara penuh, hidup yang disadari, hidup sebagai manusia) dengan segala dinamikanya.
Apa itu layar terkembang
Hingga dihalaman terakhir aku masih tidak mengerti dengan judul Layar Terkembang. Tidak satupun kata secara eksplisit termuat dalam novel itu. Apa maksud STA memilih judul itu. Lantas, aku menangkap bahwa layar itu mereprentasikan hati, hati yang terkembang, yang mau dan sedia menerima angin yang adalah “yang lain” yang adalah manusia lain, obyek lain, peristiwa-peristiwa hidup, dan pilihan-pilihan hidup.[2] Akan tetapi untuk dapat terkembang mengandaikan keberanian, karena ketika layar itu terkembang maka “yang lain/angin” itu akan menghantam dan ketika dihantam pastilah mengandung resiko, layar bisa sobek, tiang peyangga bisa patah, kapal bisa berbelok dengan cepat, hanya saja dengan berani mengembangkan layar kapal akan bergerak dengan cepat, bahkan semakin besar hantaman justru membuatnya lebih dan lebih kencang. Kapal dapat lebih cepat sampai pada tujuan yakni kedewasaan hidup, meskipun demikian toh lautan itu luas terlihat tak berujung, mungkin saja tidak ada yang namanya kedewasaan yang ada hanyalah aku yang lebih dari kemarin, dan dengan semakin jauh kapal berlayar, semakin lebih pula aku.
Lantas bagaimana denganku apakah layarku pun berani terkembang. Aku merasa layarku pastilah sudah terkembang dan kerap kali aku menerima hantaman-hantaman oleh karenanya. Hatiku dihantam oleh relasiku dengan sesama baik yang inklusif maupun relasi yang eksklusif/spesial, oleh pilihan-pilihan hidup yang sederhana maupun yang eksistensial termasuk mengenai panggilan hidup, dan obyek-obyek lain yang menawarkan segala pengaruh (senang/sakit) indrawi dan nafsu-nafsu (seks, berkuasa, harta). Seringkali hantaman itu membuatku membelokkan arah kapal, arah hidupku. Dalam permenunganku pemaknaan hidup senantiasa mengalami perkembangan pun juga perubahan, bagiku kini hidup adalah Nderek Gusti, mengikuti Tuhan. Tentu mengikuti dia juga berarti berjalan sesuai dengan kehendaknya[3] dengan melakukan pilihan-pilihan, tindakan-tindakan yang benar, dan itu diperoleh lewat diskresi. Namun demikian aku sering kali jatuh-jatuh dan jatuh, dalam kejatuhan itu aku memohon padaNya agar aku diberi Iman yang teguh agar mampu bangkit dan tetap terus berani berlayar, tidak lantas menguncupkan layarnya kembali.



[1] St. Takdir Alisyahbana, Layar  Terkembang (Jakarta: Balai Pustaka, 1993). Tebal buku 139 halaman. Cetakan pertama 1937.
[2] Tafsiran bersifat sangat subjektif, bisa jadi pembaca lain menafsirkan dengan sangat berbeda, atau justru menganggapnya tidak penting.
[3] Bukan berari aku tidak punya kehendak tetapi kehendaknya adalah kehendakku pula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar