"Kita dipanggil bukan untuk Sukses, melainkan untuk Setia"
I need more challenge
“I
need more challenge” begitu semboyanku setiap kali mendapatkan tugas kantor yang sulit dan akhirya bisa kuselesaikan dengan baik.
Aku merasa perlu menggunakan semboyan itu lagi pada tugas pastoral pertamaku
sebagai frater filosofan. Aku mendapat challenge
untuk mengajar bimbel (bimbingan belajar) di Pedongkelan bersama Fr. Guntur .
Ketika mendengar ada perasaan kawatir dan takut, jika nanti aku tidak bisa
mengajar dengan baik dan juga tidak tahu menahu keadaan pedongkelan seperti
apa.
Program
bimbel di Pedongkelan merupakan salah satu wujud pelayanan dari Kelompok Kerja
Ibu Teresa (KKIT) Pulomas yang digawangi oleh Pak Petrus .
Pelayanan ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun, mengajar anak-anak demi
peningkatan kualitas pendidikan mereka. Setiap hari sabtu ratusan anak-anak
mulai usia TK hingga SMP berkumpul untuk mendapatkan pengajaran. Anak-anak
selalu terlihat antusias dengan kehadiran volunteer
yang datang dengan berbagai macam background dan motivasi: Pelajar,
pekerja, volunteer dari LSM lain, aktivis gereja, dan kami para frater. Kegiatan
belajar mengajar dilaksanakan dirumah-rumah warga yang dengan baik hati meminjamkannya.
Dipanggil untuk Setia
Kulawan
teriknya matahari yang membakar kulit ketika berangkat pertama kali menuju ke
Pedongkelan. Ya aku memang berangkat dengan membawa kekawatiran dan ketakutan,
tapi aku pergi juga dengan membawa kasih yang siap untuk dibagikan. Sesaat
kemudian sejumlah anak menghampiriku “nama kakak siapa?”,”Kakak juga ngajar
disini ya? Kemudian yang lain merengek “kakak ngajar kelas dua saja ya?” sambil
meminta gendong dan memeluk. Bagiku sapaan mereka menyembuhkanku dari segala
perasaan negatif terutama kekawatiran. Kurasakan Allah sendiri hadir dalam
mereka, kasih bertemu dengan kasih, dan kasih itulah yang merupakan (elemen perantara) yang menjadi penyebab
timbulnya relasi dengan Kristus sang sumber kasih.
Ibarat
spesial forces aku mengajar di segala
kelas dari TKA, TKB, 2 SD, 5 SD, dan juga 1 SMP. Selama mengajar tentu aku
menemui berbagai macam kendala. baik dari segi internal maupun eksternal di
setiap tingkatan kelas. Internal adalah faktor dari diriku seperti penguasaan
bahan, sulit menghafal nama, malas, dan kurang nyaring ketika mengajar. Suatu
ketika saat mengajar anak SMP aku dengan jujur mengakui ketidakmampuanku dalam
menjawab soal. “Wah payah kakaknya aja ga bisa ngerjain.” Ada perasaan marah, tapi itu kenyataannya.
Semenjak itu tak jarang, sebelum mengajar aku
mempelajari soal-soal lewat internet.
Dalam hal eksternal yang menjadi
kendala adalah tempat mengajar yang kurang mendukung. Anak-anak harus saling
bersenggolan ketika belajar karena ruangan yang sempit. Di
tengah keterbatasn itu aku sungguh merasa gembira, karena akan-anak begitu
antusias mengikuti pelajaran.
Dalam
benakku aku harus memberikan sesuatu yang berguna bagi mereka, dengan kata lain
aku ingin berhasil. Akan tetapi hal itu justru menjadi boomerang, karena aku
merasa kecewa ketika anak-anak tidak mengerti apa yang kusampaikan. Kurefleksikan,
kekecewaan itu merupakan wujud ego dalam diriku. Aku terinspirasi dengan
perkataan pak Petrus “Kita dipanggil
bukan untuk berhasil, tetapi untuk setia.” sehingga pertama-tama bukan keberhasilan
dalam mengajar tetapi kesetiaan dalam panggilan dan perutusan. Aku melakukan
untuk Tuhan, bukan untuk diriku.
Kesalingan
Pernah
suatu kali aku berbincang dengan seorang ibu. Ia bercerita kondisi
kehidupannya; hidup sendiri tanpa suami, dengan dua orang anak, sehari-hari ia
menafkahi keluarga dengan berkerja sebagai buruh cuci. Dengan air mata tertahan
ia menyamoaikan ketakutannya jika suatu saat rumahnya digusur. Itulah salah
satu contoh keadaan warga di pedongkelan. Pedongkelan merupakan Sebagian besar
warganya termasuk golongan (maaf) kurang mampu secara finansial. Melalui
perutusan ini aku semakin sadar atas realita Jakarta .
Dengan
keadaan warga pedongkelan yang berkekurangan tersebut, aku sering merasa sebagai
pihak yang memberi. Setelah kurefleksikan ternyata bukan aku yang memberi
melainkan yang diberi. Tiba-tiba muncul suatu pertanyaan, Apakah aku pernah
berpikir untuk mengambil atau meminta dari mereka? Karena aku merasa justru
ketika warga pedongkelan merasa tidak punya apa-apa, aku mendapatkan banyak
apa-apa dari mereka. Dengan menempatkan mereka juga sebagai pemberi, aku merasa
semakin memanusiakan.
Aku mendefinisikan tindakan
memberi dan menerima itu sebagai suatu kesalingan. Kesalingan itu terjadi
setiap aku berjumpa dengan mereka. Melihat senyum dan kehidupan mereka.
Kekurangan yang mereka hadapi membuatku lebih menghargai apa yang kudapat
dengan segala kenyamanannya. Kekurangan mereka juga mengingatkanku akan
semangat kemiskinan yang sebagai calon imam patut aku hayati. Dengan kemiskinan
membuat aku semakin tergantung pada-Nya.
Pedongkelan = Pemurnian
“Kenapa kamu memilih menjadi imam? Kenapa
tidak menjadi pekerja sosial saja?” begitu pertanyaan Romo pembinbing rohaniku
sebelum masuk ke Wisma
Cempaka . Pertanyaan itu kembali kuingat
saat di pedongkelan. Salah satu motivasiku masuk seminari adalah untuk
menemukan tujuan hidupku. Hidup untuk bahagia. Bahagia akan tercapai ketika
membahagiakan orang lain. Kini dengan berpastoral di Pedongkelan aku merasakan kebahagiaan
itu.
pertanyaan
yang mengusikku selanjutnya Jika dulu kamu sudah mengenal pedongkelan, apakah
masih mau ke Seminari? Bisa jadi aku tidak pernah sampai disini. Sejenak aku
berpikir, galau, sampai akhirnya
kurefleksikan bahwa kebahagiaan itu masih dalam taraf “Aku”, aku melakukannya agar aku ingin
bahagia. Aku bersyukur karena kini kusadari yang kulakukan ini bukan demi
diriku melainkan demi Dia.” Dan ternyata bahagia adalah mengikuti DIA… ya
relasi yang intim dengan-Nya.
“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambilah cawan Ini daripada-Ku;
tetapi bukanlah kehendakku,
melainkan kehendak-Mulah yang terjadi”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar