Selasa, 14 April 2015

"Kita dipanggil bukan untuk Sukses, melainkan untuk Setia"


I need more challenge
            “I need more challenge” begitu semboyanku setiap kali mendapatkan tugas kantor yang sulit dan akhirya bisa kuselesaikan dengan baik. Aku merasa perlu menggunakan semboyan itu lagi pada tugas pastoral pertamaku sebagai frater filosofan. Aku mendapat challenge untuk mengajar bimbel (bimbingan belajar) di Pedongkelan bersama Fr. Guntur. Ketika mendengar ada perasaan kawatir dan takut, jika nanti aku tidak bisa mengajar dengan baik dan juga tidak tahu menahu keadaan pedongkelan seperti apa.
            Program bimbel di Pedongkelan merupakan salah satu wujud pelayanan dari Kelompok Kerja Ibu Teresa (KKIT) Pulomas yang digawangi oleh Pak Petrus. Pelayanan ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun, mengajar anak-anak demi peningkatan kualitas pendidikan mereka. Setiap hari sabtu ratusan anak-anak mulai usia TK hingga SMP berkumpul untuk mendapatkan pengajaran. Anak-anak selalu terlihat antusias dengan kehadiran volunteer yang datang dengan berbagai macam background dan motivasi: Pelajar, pekerja, volunteer dari LSM lain, aktivis gereja, dan kami para frater. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dirumah-rumah warga yang dengan baik hati meminjamkannya.

Dipanggil untuk Setia
            Kulawan teriknya matahari yang membakar kulit ketika berangkat pertama kali menuju ke Pedongkelan. Ya aku memang berangkat dengan membawa kekawatiran dan ketakutan, tapi aku pergi juga dengan membawa kasih yang siap untuk dibagikan. Sesaat kemudian sejumlah anak menghampiriku “nama kakak siapa?”,”Kakak juga ngajar disini ya? Kemudian yang lain merengek “kakak ngajar kelas dua saja ya?” sambil meminta gendong dan memeluk. Bagiku sapaan mereka menyembuhkanku dari segala perasaan negatif terutama kekawatiran. Kurasakan Allah sendiri hadir dalam mereka, kasih bertemu dengan kasih, dan kasih itulah yang merupakan (elemen perantara) yang menjadi penyebab timbulnya relasi dengan Kristus sang sumber kasih.
            Ibarat spesial forces aku mengajar di segala kelas dari TKA, TKB, 2 SD, 5 SD, dan juga 1 SMP. Selama mengajar tentu aku menemui berbagai macam kendala. baik dari segi internal maupun eksternal di setiap tingkatan kelas. Internal adalah faktor dari diriku seperti penguasaan bahan, sulit menghafal nama, malas, dan kurang nyaring ketika mengajar. Suatu ketika saat mengajar anak SMP aku dengan jujur mengakui ketidakmampuanku dalam menjawab soal. “Wah payah kakaknya aja ga bisa ngerjain.” Ada perasaan marah, tapi itu kenyataannya. Semenjak itu tak jarang, sebelum mengajar aku  mempelajari soal-soal lewat internet.
Dalam hal eksternal yang menjadi kendala adalah tempat mengajar yang kurang mendukung. Anak-anak harus saling bersenggolan ketika belajar karena ruangan yang sempit. Di tengah keterbatasn itu aku sungguh merasa gembira, karena akan-anak begitu antusias mengikuti pelajaran.
            Dalam benakku aku harus memberikan sesuatu yang berguna bagi mereka, dengan kata lain aku ingin berhasil. Akan tetapi hal itu justru menjadi boomerang, karena aku merasa kecewa ketika anak-anak tidak mengerti apa yang kusampaikan. Kurefleksikan, kekecewaan itu merupakan wujud ego dalam diriku. Aku terinspirasi dengan perkataan pak Petrus “Kita dipanggil bukan untuk berhasil, tetapi untuk setia.” sehingga pertama-tama bukan keberhasilan dalam mengajar tetapi kesetiaan dalam panggilan dan perutusan. Aku melakukan untuk Tuhan, bukan untuk diriku.

Kesalingan
            Pernah suatu kali aku berbincang dengan seorang ibu. Ia bercerita kondisi kehidupannya; hidup sendiri tanpa suami, dengan dua orang anak, sehari-hari ia menafkahi keluarga dengan berkerja sebagai buruh cuci. Dengan air mata tertahan ia menyamoaikan ketakutannya jika suatu saat rumahnya digusur. Itulah salah satu contoh keadaan warga di pedongkelan. Pedongkelan merupakan Sebagian besar warganya termasuk golongan (maaf) kurang mampu secara finansial. Melalui perutusan ini aku semakin sadar atas realita Jakarta.
            Dengan keadaan warga pedongkelan yang berkekurangan tersebut, aku sering merasa sebagai pihak yang memberi. Setelah kurefleksikan ternyata bukan aku yang memberi melainkan yang diberi. Tiba-tiba muncul suatu pertanyaan, Apakah aku pernah berpikir untuk mengambil atau meminta dari mereka? Karena aku merasa justru ketika warga pedongkelan merasa tidak punya apa-apa, aku mendapatkan banyak apa-apa dari mereka. Dengan menempatkan mereka juga sebagai pemberi, aku merasa semakin memanusiakan.
Aku mendefinisikan tindakan memberi dan menerima itu sebagai suatu kesalingan. Kesalingan itu terjadi setiap aku berjumpa dengan mereka. Melihat senyum dan kehidupan mereka. Kekurangan yang mereka hadapi membuatku lebih menghargai apa yang kudapat dengan segala kenyamanannya. Kekurangan mereka juga mengingatkanku akan semangat kemiskinan yang sebagai calon imam patut aku hayati. Dengan kemiskinan membuat aku semakin tergantung pada-Nya.


Pedongkelan = Pemurnian
             “Kenapa kamu memilih menjadi imam? Kenapa tidak menjadi pekerja sosial saja?” begitu pertanyaan Romo pembinbing rohaniku sebelum masuk ke Wisma Cempaka. Pertanyaan itu kembali kuingat saat di pedongkelan. Salah satu motivasiku masuk seminari adalah untuk menemukan tujuan hidupku. Hidup untuk bahagia. Bahagia akan tercapai ketika membahagiakan orang lain. Kini dengan berpastoral di Pedongkelan aku merasakan kebahagiaan itu.
            pertanyaan yang mengusikku selanjutnya Jika dulu kamu sudah mengenal pedongkelan, apakah masih mau ke Seminari? Bisa jadi aku tidak pernah sampai disini. Sejenak aku berpikir, galau, sampai akhirnya kurefleksikan bahwa kebahagiaan itu masih dalam taraf  “Aku”, aku melakukannya agar aku ingin bahagia. Aku bersyukur karena kini kusadari yang kulakukan ini bukan demi diriku melainkan demi Dia.” Dan ternyata bahagia adalah mengikuti DIA… ya relasi yang intim dengan-Nya.


“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambilah cawan Ini daripada-Ku;
tetapi bukanlah  kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi”
Lukas 22:42







Tidak ada komentar:

Posting Komentar