Emansipasi yang Kebablasan !
oleh: Surya-Nandi Putra/ 7182603212
Modernitas ditandai dengan kesadaran mengenai subyektivitas.
Itu tidak berarti bahwa sebelum zaman modern orang tidak menganggap dirinya
sebagai subjek, melainkan dalam modernitas peran subyek sangat ditekankan.
Manusia percaya bahwa segala sesuatu dapat dijelaskan bahkan diasalkan dari
subyek manusia. Ungkapan Descartes dapat mewakili hal itu ”cogito ergo sum” atau ”aku berpikir maka aku ada”. Ungkapan itu
tersirat, bahkan adanya aku itu bersumber dari diriku itu. Apa konsekuensi dari
ungkapan itu? Peran Allah dalam menjelaskan segala sesuatu di”gembosi”.
Di”gembosi” mungkin kata yang tepat untuk
menggambarkan Allah yang babak belur di zaman modern dan lebih-lebih di era
post-modern. Ibarat sebuah ”ban”, modernitas sejak zaman renaisance sedikit
demi sedikit menekan pentil pembuang angin hingga ”ban” itu kempes. Dahulu
orang mendasarkan segala sesuatu pada Tuhan atau yang Ilahi. Ketika gunung meletus, orang jawa akan
mengatakan hal itu karena terjadi karena Batara Kala. Lantas, ketika gerhana
bulan dengan mudah orang tua akan mengatakan pada anaknya bahwa seorang ”buto”
atau raksasa sedang memakannya. Dalam tradisi filsafat barat misalnya, filsuf
besar abad pertengahan tidak kalah canggih dalam mensistematisasikan pemikiran
mereka mengenai dunia, alam, dan jiwa dengan filsuf masa kini. Namun cirikhas
mereka adalah tetap mendasarkannya pada Iman. Cara pikir modern menolak
pendasaran semacam itu.
Cara pikir modern telah menghasilkan ”anak” yakni atheisme.
Atheisme tidak hanya menggembosi peran Tuhan dalam hidup manusia tetapi malahan
menolak adanya Tuhan. Penolakan itu bukan lantaran didasari ketidakpercayaannya
pada Tuhan, melainkan mengarahkan semua penjelasannya pada manusia dan
rasionya. Keyakinan diri dan pengidealan diri inilah yang menjadi cirikhas para
golongan atheisme modern.
Kata kuncinya adalah emansipasi. Dalam KBBI,
emansipasi dapat diartikan sebagai persamaan dan pembebasan. Dalam kaitannya
dengan Atheisme emansipasi berarti persamaan dengan sesuatu atau manusia yang
diidealkan dan kebebasan dari sesuatu yang memperbudak yakni Tuhan. Terdapat
beberapa argumen besar yang mendukung hal itu. Sebut saja Feurbach yang
terkenal dengan tesisnya ”rahasia teologi adalah antropologi”. Menurutnya
halnya Tuhan bisa dijelaskan dari manusia. Tuhan tidak lain ”hanya”lah proyeksi dari
manusia-manusia pengecut. Dengan menyebut Tuhan adalah yang mahabaik,
mahakuasa, mahaagung, mahatahu, dan lain sebagainya manusia melemparkan hasrat
diri yang tidak bisa dipenuhinya kepada sesuatu yang di luar. Maka Tuhan tidak lain dan tidak bukan
justru produk dari manusia. Kalau
begitu yang dimaksud tuhan tidak lain adalah manusia sendiri. Sama halnya dengan
Kalr-Marx. Sebagai ”penerus” Feurbach, Marx menganggap agama adalah ”opium”
masyarakat, yang menghalangi manusia untuk memperjuangkan keadaannya yang
tertindas.
Selain itu, filsuf Prancis, Jean Paul Sartre
bersorak-sorai dengan pengumuman dari Nietche bahwa Tuhan sudah mati. Sebagai
atheis jempolan, Sartre dengan tegas menyatakan ”karena manusia bebas, maka
Allah tidak ada”. Jika Allah ada manusia menjadi tidak bebas karena segala
sesuatu diatur olehnya, harus sesuai dengan kehendaknya. Jika segala sesuatu
adalah kehendak-Nya maka dimana letak kebebasanku? Maka demi kebebasanku Allah
harus tidak ada.
Bagi penulis, emansipasi para filsuf itu adalah
suatu emansipasi yang keblabasan. Argumen mereka meyakinkan namun, tetap tidak membuktikan ada tidaknya
Tuhan. Feurbach dan Marx hanya sampai pada kritik agama bukan Tuhan, bahkan
Feurbach dengan menghapus Tuhan ia menciptakan tuhan lain yakni manusia. Namun pernyataan Sartre cukup menohok
Kita. Kita semua percaya bahwa kita
memiliki kebebasan. Lantas,
adalah benar bahwa Tuhan juga yang mengatur dan berkehendak atas hidup kita. Bagaimana
ini bisa diperdamaikan?
Menurut penulis jawabannya ada pada Cinta. Ada
kisah menarik, ”suatu ketika aku mencintai seorang gadis, dan dia pun
mencintaiku. Lantas, aku menguras tabunganku, dan membelikannya sebuah cincin
permata. Dia tersenyum lantas menciumku”. Dalam kisah itu apakah ”aku” menghabiskan
uangku karena terpaksa? Tidak!. ”Aku” melakukannya dengan penuh kebebasan tanpa
paksaan. Demikian pula relasi dengan Tuhan. Tuhan tidak pernah mengekang
manusia, tetapi karena kasih kepadanyalah seseorang berbuat sesuai dengan apa
yang dikehendakinya. Dengan berbuat apa yang dikehendakinya kita mengemansipasi
diri kita pada Tuhan yang mencintai manusia. Manusia mengemansipasi dirinya
dengan balik mencintainya. Oleh karena itu, emansipasi manusia modern yang
jatuh ke dalam atheisme patut dipertanyakan. Bisa jadi atheisme justru wujud
ketidakbebasan manusia, yakni terbelenggu dari dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar